Renungan Harian

Kesalahan yang Paling Mudah Dilakukan dalam Hal Menyambut Kedatangan Tuhan

Oleh Wu Wen, China

Apakah Anda ingin menyambut kembalinya Tuhan? Tahukah Anda kesalahan apa yang paling mudah dilakukan ketika menyambut kembalinya Tuhan? Kunci utama apa yang harus kita kuasai untuk menyambut Tuhan? Anda hanya perlu memahami “Kesalahan yang Paling Mudah Dilakukan dalam Hal Menyambut Kedatangan Tuhan” untuk menemukan cara menyambut kembalinya Tuhan. Mari kita diskusi bersama.

Menyambut Tuhan tidak dapat memegang teguh pada Konsepsi dan Imajinasi

Seperti yang kita semua tahu, pada Zaman Hukum Taurat, para imam kepala Yahudi, ahli taurat dan orang Farisi sangat menantikan kedatangan Mesias, tetapi pada waktu yang sama, mereka bahkan menentang dan mengutuk Dia dengan keras. Mereka memiliki banyak ilusi tentang nubuatan, dan berpikir bahwa Juruselamat harus dipanggil sebagai Mesias saat Dia datang, Dia harus dilahirkan di istana kekaisaran, atau di keluarga bangsawan atau setidaknya di keluarga terkemuka. Namun saat Tuhan Yesus datang, Dia tidak dipanggil Mesias dan dilahirkan di keluarga biasa, yang sepenuhnya bertentangan dengan konsepsi dan imajinasi mereka. Jadi mereka mulai menghujat dan mengutuk Tuhan Yesus. Mereka memegang teguh pada pandangan salah mereka bahwa “Selama engkau tidak dipanggil Mesias, engkau bukan Kristus,” menentang dan memfitnah Tuhan Yesus. Mereka sepenuhnya tidak ada hati yang mencari kebenaran. Akhirnya, mereka bukan hanya gagal menyambut Mesias, tetapi menyalibkan Tuhan Yesus. Mereka melakukan dosa yang mengerikan dan seluruh bangsa menjadi sasaran kehancuran.

Lanjutkan membaca “Kesalahan yang Paling Mudah Dilakukan dalam Hal Menyambut Kedatangan Tuhan”
Renungan Harian

Ketika Bencana Melanda, Hanya Mereka yang Mencapai Pertobatan Sejati Bisa dilindungi oleh Tuhan

Oleh Qi Xin

Sekarang semua jenis bencana terjadi satu demi satu. Wabah mengamuk di seluruh dunia. Setiap hari ada sejumlah besar orang yang tewas dalam bencana dan banyak orang menjadi panik. Banyak orang percaya mengira bahwa ketika bencana terjadi, mereka harus berdoa kepada Tuhan secara intensif, untuk mengakui dosa-dosa mereka dan bertobat, sehingga mereka dapat dilindungi oleh Tuhan dalam bencana. Dapatkah berdoa kepada Tuhan dan mengakui dosa-dosa kita menjamin bahwa kita bisa mendapat perlindungan Tuhan dalam bencana? Mengapa beberapa orang berdoa kepada Tuhan dan mengakui dosa-dosa mereka, tetapi mereka masih tewas dalam bencana? Apakah yang bisa kita lakukan agar dilindungi oleh Tuhan? Selanjutnya kita akan mencari jawaban dalam kata-kata Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus sudah lama memperingatkan kita: “Bertobatlah engkau: karena Kerajaan Surga sudah dekat” (Matius 4:17). Dari sini dapat dilihat bahwa hanya mereka yang benar-benar bertobat yang akan dilindungi oleh Tuhan selama bencana dan memasuki kerajaan Tuhan. Jadi apakah berdoa dan mengakui dosa kepada Tuhan dianggap sebagai pertobatan sejati? Beberapa orang mungkin berkata, Ketika kita berdoa dan mengakui dosa-dosa kita kepada Tuhan, kita bisa menangis serta menyesali diri kita sendiri; dari penampilan lahiriah, kita juga dapat menerapkan toleransi, pengendalian diri, dan bekerja keras untuk Tuhan. Bukankah ini adalah pertobatan sejati? Jadi apa itu pertobatan sejati? Kita tidak dapat memahaminya berdasarkan gagasan dan imajinasi kita sendiri. Kita harus mencari jawaban dalam firman Tuhan. Firman Tuhan mengatakan: “Karena itu jadilah kudus, sebab Aku ini kudus” (Imamat 11:45). “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, siapa saja yang melakukan dosa adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tinggal di rumah selamanya: tetapi Anak tetap tinggal selama-selamanya” (Yohanes 8:34-35) serta “Berbahagialah mereka yang melakukan perintah-perintah-Nya, sehingga mereka dapat memperoleh hak atas pohon kehidupan dan dapat masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu” (Wahyu 22:14). Dari sini dapat dilihat bahwa Tuhan itu kudus. Jadi, barangsiapa yang hidup dalam dosa adalah orang yang dibenci dan ditinggalkan oleh Tuhan. Oleh karena itu, pertobatan sejati bukan hanya sekadar mengakui dan menyesali dosa-dosa kita, melainkan adalah terbebas dari belenggu dosa sepenuhnya, dan tidak lagi berbuat dosa terhadap Tuhan. Ketika sifat berdosa kita telah ditahirkan, tidak peduli dalam apapun lingkungan, kita dapat melakukan kehendak Tuhan, kita dapat benar-benar menaati Tuhan, tidak lagi memberontak kepada Tuhan dan melawan Tuhan, kita dapat berkorban untuk Tuhan dengan hati yang penuh kasih tanpa niat untuk melakukan perdagangan pribadi, dan semua yang kita lakukan hanyalah demi menaati Tuhan dan membalas kasih Tuhan. Hanya ini yang adalah pertobatan sejati. Hanya dengan mencapai pertobatan sejati, kita dapat dilindungi Tuhan dalam bencana.

Lanjutkan membaca “Ketika Bencana Melanda, Hanya Mereka yang Mencapai Pertobatan Sejati Bisa dilindungi oleh Tuhan”