Renungan Harian

Apa Artinya Diangkat Sebelum Bencana? Dan Apa Artinya Dibuat Lengkap Menjadi Pemenang Sebelum Bencana?

Menurut nubuatan alkitabiah, Tuhan akan berinkarnasi dan menjadi Anak Manusia untuk bekerja di antara umat manusia pada saat Dia datang kembali. Lalu tahukah Anda inkarnasi artinya? Klik tautan ini untuk mengetahui misteri ini.

Oleh Li Wei, Tiongkok

Saat ini, segala macam bencana terjadi satu demi satu, seperti gempa bumi, kelaparan, wabah, banjir, kekeringan, dan wabah belalang, dan daerah-daerah yang terkena dampak dari bencana semakin besar dalam skala. Nubuat dalam Alkitab mengenai kedatangan Tuhan pada dasarnya telah digenapi, dan dengan demikian membuktikan bahwa Tuhan telah kembali. Namun ada banyak saudara dan saudari yang masih merasa bingung dan berkata, “Kami selalu menjaga nama Tuhan sejak kami mulai percaya. Kita bersikap toleran dan sabar seperti yang Tuhan ajarkan kita, dan kita mampu menyerahkan segalanya dan bekerja keras untuk Tuhan. Ini membuktikan bahwa kita telah menjadi pemenang. Ketika Tuhan datang kembali, Dia akan mengangkat kita ke udara dan kita akan menikmati berkat-berkat di kerajaan surga bersama-Nya. Tetapi sekarang, gerhana bulan darah telah terlihat dan bencana telah menjadi begitu besar, namun kita masih belum diangkat ke udara. Mengapa demikian?” Sebenarnya, jika kita ingin memahami masalah ini, kita harus memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan diangkat sebelum bencana, dan apa artinya dibuat lengkap menjadi pemenang sebelum bencana.

Lanjutkan membaca “Apa Artinya Diangkat Sebelum Bencana? Dan Apa Artinya Dibuat Lengkap Menjadi Pemenang Sebelum Bencana?”
Renungan Harian

Apa natur dari masalah manusia yang tidak mengetahui makna penting nama Tuhan atau tidak menerima nama baru-Nya?

Firman Tuhan yang Relevan:

Di setiap kurun waktu, Tuhan akan memulai pekerjaan yang baru, dan di masing-masing kurun waktu itu akan ada permulaan yang baru di antara manusia. Jika manusia hanya mematuhi kebenaran bahwa “Yahweh adalah Tuhan” dan “Yesus adalah Kristus”, yang merupakan kebenaran yang berlaku hanya di salah satu zaman, maka manusia tidak akan pernah bisa mengikuti pekerjaan Roh Kudus dan selamanya tidak akan mampu mendapatkan pekerjaan Roh Kudus. Bagaimana pun cara Tuhan bekerja, manusia harus mengikuti tanpa keraguan sedikit pun dan dengan saksama. Dengan cara ini, bagaimana mungkin manusia akan disingkirkan oleh Roh Kudus? Apa pun yang Tuhan lakukan, selama manusia yakin bahwa itu adalah pekerjaan Roh Kudus, dan bekerja sama dalam pekerjaan Roh Kudus tanpa keraguan sedikit pun dan selama manusia tetap berusaha memenuhi persyaratan Tuhan, bagaimana mungkin ia dihukum? Pekerjaan Tuhan tidak pernah berhenti, langkah-langkah kaki-Nya tidak pernah berhenti. Sebelum pekerjaan pengelolaan-Nya tuntas, Dia selalu sibuk dan tidak pernah berhenti. Namun, manusia berbeda. Setelah memperoleh secuil saja pekerjaan Roh Kudus, dia menganggap pekerjaan itu tidak akan pernah berubah; setelah mendapatkan sedikit pengetahuan, dia tidak terus mengikuti jejak langkah pekerjaan Tuhan yang baru; setelah menyaksikan sebagian kecil saja pekerjaan Tuhan, dia langsung menempatkan Tuhan dalam wujud patung kayu tertentu, lalu meyakini bahwa Tuhan akan senantiasa berdiam dalam wujud yang dia lihat di hadapannya. Manusia yakin bahwa jika di masa lampau wujud itu demikian, di masa depan pun akan selalu demikian. Setelah mendapatkan pengetahuan yang dangkal, manusia menjadi begitu sombong dan lupa diri, lalu mulai menyatakan dengan seenaknya bahwa watak dan sosok Tuhan itu tidak ada. Setelah menjadi yakin tentang satu tahap pekerjaan Roh Kudus, manusia tetap tidak mau menerima pekerjaan Tuhan yang baru, siapa pun orang yang menyatakannya. Inilah orang-orang yang tidak mampu menerima pekerjaan Roh Kudus yang baru; mereka terlalu konservatif dan tidak mampu menerima hal-hal baru. Orang-orang ini percaya kepada Tuhan tetapi sekaligus menolak Tuhan. Manusia percaya bahwa bangsa Israel bersalah karena “hanya percaya kepada Yahweh dan tidak percaya kepada Yesus”, tetapi mayoritas orang hidup dalam peran “hanya percaya kepada Yahweh dan menolak Yesus” serta “menantikan kedatangan kembali Sang Mesias tetapi melawan Mesias yang bernama Yesus itu”. Maka, tidak heran, orang-orang tetap hidup di bawah kekuasaan Iblis setelah menerima satu tahap pekerjaan Roh Kudus, dan tetap tidak menerima berkat Tuhan. Bukankah ini adalah akibat dari pemberontakan manusia? … Meskipun mereka memang memiliki “kesetiaan yang tertinggi” terhadap firman yang diucapkan Tuhan, perkataan dan tindakan mereka masih terasa sangat menjijikkan karena mereka melawan pekerjaan Roh Kudus serta melakukan penyesatan dan kejahatan. Mereka yang tidak mengikut sampai titik terakhir, yang tidak mengikuti pekerjaan Roh Kudus, dan yang hanya berpaut pada pekerjaan yang lama, bukan hanya gagal mencapai kesetiaan kepada Tuhan, tetapi sebaliknya, juga telah menjadi orang-orang yang melawan Tuhan, yang ditolak oleh zaman yang baru, dan yang akan dihukum. Adakah yang lebih menyedihkan dibandingkan mereka?

Lanjutkan membaca “Apa natur dari masalah manusia yang tidak mengetahui makna penting nama Tuhan atau tidak menerima nama baru-Nya?”
Renungan Harian

Zaman Nuh Telah Tiba: Bagaimana Kita Bisa Menaiki Bahtera Akhir Zaman?


Apa Yang Harus Kita Simpulkan Dari Tanda-tanda munculnya Zaman Nuh?

Pemandangan ini mengingatkan kita pada zaman Nuh. Orang-orang pada zaman itu tidak begitu peduli tentang keberadaan Tuhan, mereka juga tidak menghormati Tuhan atau mengikuti ajaran-Nya. Sebaliknya, mereka melakukan segala macam perbuatan jahat yang menentang Tuhan, seperti pembunuhan, pembakaran, pencurian dan perampokan. Perzinaan telah menjadi kebiasaan bagi mereka sehingga mereka menikah berulang kali, pikiran dan tindakan mereka penuh dengan kejahatan dan kerusakan mereka telah sampai pada tahap yang tidak dapat dipandang. Akhirnya, mereka dihukum oleh Tuhan dan dihancurkan oleh air bah. Sekarang, orang-orang di dunia sama rusak dan jahat seperti orang-orang di zaman Nuh, bahkan lebih parah lagi. Dua ribu tahun yang lalu, Tuhan Yesus bernubuat: “Dan sama seperti di zaman Nuh, begitu juga kelak di hari-hari Anak Manusia. Mereka makan, minum, kawin, dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu air bah datang dan menghancurkan mereka semua. Demikian juga yang terjadi di zaman Lot: mereka makan, minum, menjual, membeli, menanam, dan membangun. Tetapi di hari yang sama Lot keluar dari Sodom, dan turunlah hujan api, dan belerang dari langit dan menghancurkan mereka semua. Demikian juga pada hari ketika Anak Manusia menampakkan diri-Nya” (Lukas 17:26-30). Firman Tuhan memberi tahu kita sesuatu yang sangat penting: Orang-orang di akhir zaman telah menjadi rusak dan jahat seperti orang-orang pada zaman Nuh, maka ia akan menjadi hari kedatangan Anak Manusia dan hari Tuhan datang kembali. Jadi bagaimana kita bisa naik ke bahtera pada akhir zaman sebelum bencana diturunkan?

Lanjutkan membaca “Zaman Nuh Telah Tiba: Bagaimana Kita Bisa Menaiki Bahtera Akhir Zaman?”
Renungan Harian

Cara Bertobat dan Tidak Berbuat Dosa Lagi: Aku Menemukan Jalan

Oleh Saudari Meng’ai, Taiwan

Catatan Editor: Saudari Meng’ai adalah orang Kristen generasi ketiga yang telah secara konsisten melayani di dalam gereja, tetapi dalam beberapa tahun terakhir dia mendapati bahwa walaupun iman dan pelayanannya teguh bagi Tuhan, dia masih terkungkung oleh ikatan dosa sampai pada titik di mana dia bahkan tidak mampu bersikap toleran atau mengampuni suaminya sendiri. Ketika dia membaca firman Tuhan yang mengatakan, “Karena itu jadilah kudus, sebab Aku ini kudus” (Imamat 11:44), dia menyadari bahwa jika dia terus berbuat dosa, dia tidak akan memenuhi syarat untuk melihat wajah Tuhan. Ini benar-benar menyusahkan baginya. Namun, sekarang dia telah menemukan jalan untuk dibebaskan dari dosa, dan hubungannya dengan suaminya juga menjadi harmonis. Bagaimana Meng’ai menemukan jalan menuju kebebasan dari dosa? Marilah kita membaca pengalamannya.


Hidup dalam Dosa, dalam Penderitaan yang Mengerikan
Aku sudah pergi ke gereja sejak aku masih kanak-kanak dan aku selalu senang bersekutu membahas firman Tuhan dengan saudara-saudari. Setelah menikah, aku dan suamiku masih menomorsatukan pekerjaan gereja, dan kami terlibat secara aktif dalam pelayanan untuk gereja, dalam hal-hal besar dan kecil.

Lanjutkan membaca “Cara Bertobat dan Tidak Berbuat Dosa Lagi: Aku Menemukan Jalan”
Renungan Harian

Renungan harian hari ini: Menyambut kedatangan Tuhan, apakah dengan mendengarkan atau dengan melihat

Topik renungan kita hari ini adalah:Pada akhir periode dari akhir zaman ini, bagaimana kita bisa menyambut kedatangan kembali Tuhan? Ada orang berpikir bahwa Tuhan akan menampakkan diri-Nya di atas awan dengan tubuh rohani setelah kebangkitan berdasarkan kitab Wahyu, lebih aman jika menyambut Tuhan dengan melihat-Nya. Bahkan ada saudara dan saudari berpikir bahwa Tuhan Yesus pernah mengatakan: “Lihatlah, Aku berdiri di pintu dan mengetuk: kalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membuka pintu itu, Aku akan datang masuk kepadanya, dan bersantap dengannya, dia bersama-Ku” (Wahyu 3:20). Tuhan memberitahu kita bahwa pada akhir zaman Dia akan mengetuk pintu untuk berfirman dan bersuara kepada kita, sekarang ada banyak orang di internet yang telah menyaksikan kembalinya Tuhan, mereka telah mendengar suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan; jika kita tidak berfokus untuk mendengar suara Tuhan dan hanya mengandalkan mata kita untuk melihat-Nya, benarkah tindakan itu lebih aman? Apa yang harus kita lakukan untuk menyambut kedatangan Tuhan? Untuk menyambut kedatangan Tuhan, apakah harus dengan mendengar suara Tuhan atau dengan melihat?

Lanjutkan membaca “Renungan harian hari ini: Menyambut kedatangan Tuhan, apakah dengan mendengarkan atau dengan melihat”
Kesaksian Kristen

Di Jalan Menuju Kerajaan Surga, Firman Tuhan Memimpin Saya untuk Mengatasi Pencobaan Iblis (II)

Pada awal November, Penatua Chen dari gerejaku sekali lagi datang “berkunjung”. Dengan wajah datar, dia berbicara dengan kasar kepadaku, mengatakan, “Begitu banyak orang telah memperingatkanmu agar tidak percaya pada Kilat dari Timur, tetapi engkau tetap tidak mau mendengarkan. Selain itu, engkau mengkhotbahkan ajaran mereka kepada saudara-saudari di gereja kita sendiri. Pelayananmu di gereja sekarang telah dibatalkan. Mulai hari ini, engkau tidak lagi diizinkan untuk menghadiri Perjamuan Kudus, dan tentu saja tidak diizinkan untuk mengkhotbahkan ajaran Kilat dari Timur kepada orang-orang di gereja kita lagi.”

Aku berkata dengan marah, “Yahweh, Tuhan Yesus, dan Tuhan yang Mahakuasa semuanya adalah Tuhan yang sama! Dalam kepercayaanku kepada Tuhan Yang Mahakuasa, aku mengikuti jejak Anak Domba dan aku memberi tahu saudara-saudari kabar baik tentang kedatangan kembali Tuhan. Di mana salahnya? Saudara-saudari adalah domba Tuhan, dan domba-Nya harus kembali kepada-Nya. Bagaimana mungkin engkau, yang melayani sebagai pemimpin di gereja, terus mengurung saudara-saudari di bawah kendalimu sendiri dan tidak membiarkan mereka mendengar suara Tuhan? Apakah itu tidak membuatmu menjadi pelayan yang jahat?” Penatua Chen menolak apa yang aku katakan dan berbicara dengan angkuh kepadaku: “Aku di sini untuk memperingatkanmu. Jika engkau terus bertindak dengan mengabaikan peringatan kami, maka engkau akan dikeluarkan dari gereja, dan kami akan meminta semua saudara-saudari untuk menjauh darimu dan waspada terhadapmu. Selain itu, ada seorang ibu dan anak perempuan dari gereja terdekat yang mulai percaya pada Tuhan Yang Mahakuasa dan seluruh keluarga mereka telah diusir dari gereja mereka. Aku harap engkau dapat memikirkan suami dan putramu.” Setelah selesai berbicara, dia berbalik dan pergi.

Lanjutkan membaca “Di Jalan Menuju Kerajaan Surga, Firman Tuhan Memimpin Saya untuk Mengatasi Pencobaan Iblis (II)”
Kesaksian Kristen

Di Jalan Menuju Kerajaan Surga, Firman Tuhan Memimpin Saya untuk Mengatasi Pencobaan Iblis (I)

Pada awal Maret 2018, Saudari Liu memberikan kesaksian kepadaku tentang pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman dan memberiku persekutuan tentang berbagai aspek kebenaran, seperti tiga tahap pekerjaan Tuhan, pentingnya nama Tuhan, dan misteri Alkitab. Aku telah menjadi orang yang percaya kepada Tuhan selama lebih dari 30 tahun dan tidak pernah aku mendengar ajaran yang sebagus itu. Dengan menghadiri kebaktian dan persekutuan terus-menerus, aku berangsur-angsur menjadi yakin bahwa Tuhan Yang Mahakuasa memang Tuhan Yesus yang datang kembali, dan aku ingin sekali memberi tahu suami dan putraku kabar gembira tentang kedatangan kembali Tuhan Yesus ini. Namun, tanpa diduga, mereka telah memberi tahu pendeta dan penatua di gereja kami tentang fakta bahwa aku telah menyelidiki pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman, dan sebuah perang tanpa senjata pun dimulai.

Suatu hari setelah makan malam, sang pendeta, istrinya, penatua gereja, dan seorang diaken datang ke rumahku bersama-sama. Pendeta itu berkata kepadaku, “Aku dengar engkau menghadiri kebaktian online dengan orang-orang Kilat dari Timur. Apa yang kalian bicarakan dalam kebaktian kalian?” Aku menjawab, “Kami membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa, dan kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa telah mengungkap misteri Alkitab dan membuka gulungan kecil tersebut. Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali.” Pendeta itu tampak marah dan berkata, “Tidak mungkin! Tuhan adalah Tuhan Trinitas, tetapi mereka tidak percaya pada Tuhan Trinitas, jadi bagaimana mungkin Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali? Jangan percaya hal itu lagi.” Pendeta itu kemudian melanjutkan dengan mengatakan beberapa kebohongan dan kata-kata kutukan tentang Gereja Tuhan Yang Mahakuasa dan, sebelum pergi, dia berkata, “Jangan berhubungan apa pun lagi dengan orang-orang Kilat dari Timur. Kami mengatakan ini demi kebaikanmu sendiri. Ini pamflet gereja kami tentang penentangan kami terhadap Kilat dari Timur. Engkau sebaiknya membacanya.” Saat mengatakan ini, dia menyodorkan pamflet itu kepadaku dan kemudian pergi.

Lanjutkan membaca “Di Jalan Menuju Kerajaan Surga, Firman Tuhan Memimpin Saya untuk Mengatasi Pencobaan Iblis (I)”
Kesaksian Kristen

Bagaimana menerapkan doa yang benar?

Oleh Kexin, Korea

Berdoa adalah bagian penting dalam kehidupan harian bagi orang Kristen. Tetapi tahukah Anda mengapa orang Kristen perlu berdoa? Bagaimana menerapkan doa yang benar? Mari kita mencari jawaban bersama dari pengalaman Sister Kexin …

Mengapakah Orang Kristen Perlu Berdoa kepada Tuhan

Pada hari persekutuan, semua orang berkumpul bersama dengan gembira, dan berbagi satu sama lain tentang pengalaman mereka selama beberapa hari terakhir, tetapi Kexin duduk di samping dengan suasana hati yang tertekan.

Lanjutkan membaca “Bagaimana menerapkan doa yang benar?”
Kesaksian Kristen

Kehidupan pernikahan Kristen: Pertengkaran dengan suami tentang hal-hal sepele, begini akhirnya(II)

Hong Kong, Jing Xin

Karena Pendapat Berbeda, Aku Dan Suamiku Berperang Dingin Lagi
Setelah percaya pada Tuhan, aku tidak keluar untuk bermain mahjong dengan teman-teman aku seperti dulu. Ketika ada waktu senggang, saya akan pergi mendaki bukit dengan saudari-saudari. Ketika saya melihat ada beberapa bunga yang indah di tengah jalan, aku akan memetiknya atau membeli beberapa tumbuhan untuk dibawa pulang. Tanpa disangka, suamiku mulai menghalangi aku dari menanam tumbuhan.

Suatu hari, aku kembali dari mendaki bukit, dan telah memetik beberapa tanaman dan membawanya pulang ke rumah. Ketika suamiku balik ke rumah dan melihat pot tanaman itu, dia mengatakan tidak cantik. Dia juga mengatakan bahwa tempat di rumah tidak besar, letakkan di sini hanya akan menghabiskan ruang, lalu dia menyuruh aku membuangnya, tetapi aku tidak mendengarkannya. Kemudian, pada hari-hari berikutnya, ketika dia melihat tanaman-tanaman ini, dia akan mengomeli tanpa henti, aku terbakar api amarah, aku berpikir: “Aku dulu bermain mahjong, kamu bilang kamu tidak suka, jadi aku sudah berhenti bermain. Sekarang aku ingin menanam dua pot tanaman, kamu juga tidak gembira. Apapun yang aku lakukan, kamu menganggapnya sebagai sesuatu yang buruk, mengapa kamu tidak tahu menghormati pilihanku?” Tiba-tiba, aku terpikir bahwa Tuhan menuntut kita untuk menghidupi kemanusiaan yang normal, aku percaya pada Tuhan sekarang, jadi aku tidak bisa sama dengan sebelumnya, selalu minta suamiku untuk memerhatikan aku, berdebat dengannya jika ada yang tidak sesuai dengan pemikiranku, aku harus belajar mengesampingkan diriku sendiri, harus memperlakukan suamiku dengan lebih sabar dan toleransi. Ketika memikirkan hal ini, lalu aku berkata kepadanya: “Coba kamu lihat, apakah tanaman ini tumbuh dengan baik? Menanam beberapa tanaman ini membuat rumah kita tampak lebih hidup, juga bagus untuk mata.” Setelah dia mendengar apa yang aku katakan, dia merasa masuk akal, jadi dia tidak bersuara lagi.

Saya pikir semuanya akan baik-baik saja dan berakhir, siapa sangka suatu hari ketika aku pulang ke rumah dari kebaktian, dia beleter lagi tentang tanaman-tanaman tersebut. Aku tidak bisa menahan amarah lalu mengambil semua tanaman di rumah, termasuk tanaman yang aku beli dengan beberapa ratus dolar, semuanya dibuang ke dalam tong sampah, berkata dengan marah kepada suamiku: “Dari hari pertama aku menanam, kamu sudah tidak suka, apakah tanaman-tanaman ini mencegah kamu berjalan atau tidur, sekarang ruang di rumah telah menjadi besar, apakah kamu merasa puas dengan itu?” Setelah aku mengatakan itu, aku duduk di sofa dan merajuk.

Setelah beberapa hari, aku tidak berbicara dengannya sepatah kata pun, dia kadang bertanya sesuatu padaku, aku berpura-pura tidak mendengarnya, sengaja mengabaikannya, juga tidak memasak untuknya. Dia melihat aku memperlakukannya seperti orang yang transparan, setiap hari dia juga kelihatan tidak bersemangat. Kadang-kadang, untuk meredakan suasana tegang, dia sengaja mencari topik untuk mendekati aku, tetapi aku tidak menghiraukan dia sama sekali. Aku berperang dingin seperti ini dengannya. Tapi hati aku juga tidak nyaman, karena setiap kali pulang ke rumah, aku melihat rumah yang dingin, melihat suamiku yang tidak bersemangat. Beberapa kali aku ingin berbicara dengannya, tetapi aku tidak bisa melepaskan harga diriku, aku menelan kembali kata-kata yang sampai di ujung lidah, sehingga aku tidak dapat berfokus dalam pekerjaanku.

Suami Istri Berbagi Dari Hati Ke Hati, Bergaul Dengan Harmonis
Belakangan ketika saudari mengetahui hal-hal yang terjadi pada aku dan suamiku, dia mengirimi aku satu paragraf firman Tuhan: “Sebagai contoh, setelah hidup bersama selama beberapa tahun, seorang suami dan istri akan terbiasa satu sama lain, dan kadang-kadang terlibat dalam perkelahian. Tetapi jika engkau berdua memiliki kemanusiaan yang normal, engkau akan selalu mengutarakan kata-kata di dalam hatimu kepadanya, dan dia juga akan melakukan hal yang sama. Apa pun kesulitan yang engkau hadapi dalam hidup, masalah dalam pekerjaanmu, apa yang engkau pikirkan dalam hatimu, bagaimana engkau berencana untuk menyelesaikan masalah, ide dan rencana apa yang engkau miliki untuk anak-anakmu—engkau akan memberi tahu dia segalanya. Dalam hal itu, bukankah engkau berdua akan menjadi sangat dekat satu sama lain, dan terutama intim satu sama lain? Jika dia tidak pernah memberi tahu engkau kata-kata dalam hatinya, dan tidak melakukan apa pun selain membawa pulang gaji, dan jika engkau tidak pernah berbicara dengannya tentang kata-kata dalam hatimu sendiri dan tidak pernah menceritakannya, maka apakah tidak ada jarak antara kalian berdua di dalam hatimu? Pasti ada, karena engkau tidak memahami pikiran atau niat satu sama lain. Pada akhirnya, engkau tidak bisa memberi tahu orang seperti apa dia, atau dia tidak bisa mengatakan orang seperti apa engkau; engkau tidak memahami kebutuhannya, dia juga tidak memahami kebutuhanmu. Jika orang tidak memiliki komunikasi secara lisan atau rohani, tidak mungkin ada keintiman di antara mereka, dan mereka tidak dapat saling memberi atau membantu satu sama lain. Engkau semua pernah mengalami ini sebelumnya, bukan?”

Firman Tuhan seperti sebuah cahaya, menyinari hatiku, menunjukkan kepada aku jalan penerapan. Untuk mencapai pergaulan yang harmonis antara suami dan istri, haruslah belajar untuk banyak mengambil peduli dan mempertimbangkan satu sama lain, belajar untuk saling membuka hati ketika ada jurang di dalam hati, berkomunikasi banyak tentang pikiran masing-masing, sehingga dapat saling memahami dan curhat, ini akan menghilangkan jurang antara suami dan istri, mencapai keintiman yang sejati. Sebaliknya, jika mereka tidak dapat berkomunikasi satu sama lain tepat pada waktunya untuk menyelesaikan masalah, kontradiksi akan semakin mendalam. Berpikir kembali suamiku dan aku selama bertahun-tahun ini, ketika suami melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiranku, aku selalu memendamkannya di dalam hatiku, dan jarang memberi tahu dia pendapatku. Ketika suami berbicara kepada aku, aku juga tidak pedulinya. Kadang-kadang, aku juga tahu bahwa perbuatanku ini tidak benar, aku harus membuka hatiku dan berkomunikasi dengan suami, tetapi aku tidak bisa mengesampingkan harga diriku, sehingga keadaan aku dan suamiku berubah menjadi perang dingin seiring dengan waktu, dan hubunganku dengan suamiku menjadi semakin kaku. Dari firman Tuhan, aku mengerti bahwa jika aku ingin memperbaiki hubunganku dengan suamiku, aku perlu melepaskan diriku, mengambil inisiatif untuk berbicara dari hati ke hati dengan suamiku. Dengan ini, aku bisa hidup rukun dengan suamiku.

Setelah memahami kehendak Tuhan, aku segera mengirim pesan kepada suami, dan berkata: “Tentang hal menanam tumbuhan-tumbuhan, aku tidak berdiskusi dengan kamu, aku yang bersalah dalam hal ini. Ke depan, jika kita ada apa-apa masalah, kita harus berkomunikasi bersama-sama, bertoleransi dan bertimbang rasa satu sama lain. Dengan ini, kontradiksi antara kita akan menjadi semakin kurang, dan kita dapat mengetahui isi hati satu sama lain.” Setelah mengirim pesan kepada suamiku, aku datang ke depan Tuhan dan berdoa kepada Tuhan : “Ya Tuhan, mulutku bilang percaya kepada-Mu, tetapi ketika hal-hal terjadi, aku tidak bisa menahan kemarahanku, aku tidak ada sedikitpun kemanusiaan yang normal, apalagi memiliki keserupaan sebagai orang yang percaya kepada Tuhan. Ya Tuhan, aku bersedia bertobat dengan-Mu, semoga aku bisa bergaul dengan suamiku berdasarkan tuntutan-Mu di masa depan.” Setelah berdoa, sebuah batu besar yang telah menekan hatiku selama ini sepertinya telah dihilangkan. Aku merasa sangat cerah di hatiku, ada sejenis kedamaian dan kegembiraan yang tidak bisa dikatakan. Ketika aku pergi bekerja keesokan harinya, kolega melihat aku tiba-tiba menjadi ceria, lalu bertanya kepada aku bagaimana aku berbaik dengan suami, aku hanya membalas mereka dengan senyuman, aku tahu bahwa semua ini adalah bimbingan Tuhan, firman Tuhanlah yang telah membuka ikatan dalam hatiku selama bertahun-tahun, puji syukur kepada Tuhan!

Sejak itu, aku sering berlatih untuk mengesampingkan diriku, mengambil inisiatif untuk berbicara dari hati ke hati dengan suamiku. Setiap malam pulang ke rumah dari kerja, kami akan mengambil inisiatif untuk mengobrol tentang hal-hal yang terjadi di tempat kerja kami pada siang hari. Saat menonton berita TV, kami juga akan mengutarakan pandangan masing-masing. Ketika suamiku mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiranku, aku tidak segera membantahnya. Setelah menenangkan diri, aku memberi tahu suamiku tentang pandanganku, belajar berkomunikasi dengannya. Ketika suamiku melihat perubahanku, dan senyuman di wajahku menjadi lebih banyak dari sebelumnya, dia juga menjadi ceria. Perlahan-lahan, aku juga mulai mencoba memahami pikiran suamiku, aku tahu bahwa dia suka mendaki gunung atau pergi menonton film ketika dia sedang berlibur. Sekarang ketika suamiku libur, aku akan coba meluangkan waktu untuk menemaninya. Suami juga mulai belajar prihatin terhadap aku. Dia akan bertanya keadaan dan kebutuhanku ketika badanku tidak sehat. Jarak antara aku dan suamiku mulai menjadi semakin dekat, dan keluarga juga menjadi semakin rukun. Puji syukur kepada Tuhan!

Tamat.

Bagian Satu:Kehidupan pernikahan Kristen: Pertengkaran dengan suami tentang hal-hal sepele, begini akhirnya(I)

Kesaksian Kristen

Kehidupan pernikahan Kristen: Pertengkaran dengan suami tentang hal-hal sepele, begini akhirnya(I)

Hong Kong, Jing Xin

Banyak orang berkata “Pernikahan adalah makam cinta”, setelah pernikahan, ketika suami dan istri sudah lama bersama, berbagai masalah akan tersingkap, sama seperti aku dengan suami aku. Hubungan aku dengan suami tidak sama bagusnya seperti sebelum menikah, aku pikir kami berdua bisa saling mendukung dan saling pengertian setelah menikah. Siapa sangka, kami sering bertengkar sehingga hidup kami tidak bahagia karena beberapa hal sepele kehidupan, bahkan sampai pernikahan kami hampir berakhir. Kemudian, untungnya aku telah menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman, firman Tuhanlah yang menyelesaikan masalah antara kami….

Lanjutkan membaca “Kehidupan pernikahan Kristen: Pertengkaran dengan suami tentang hal-hal sepele, begini akhirnya(I)”