Kesaksian Kristen

Seorang orang Kristen dari Kenya menemukan jalan keluar dari dosa(II)

By Joseph, Kenya

Aku menghadiri beberapa pertemuan ibadah dengan saudari itu dan banyak masalahku yang terselesaikan. Namun aku tetap ingin tahu, mengapa manusia hanya bisa masuk surga jika mereka menerima pekerjaan penghakiman Tuhan di akhir zaman, karena pendeta selalu menekankan kepada kami bahwa dosa-dosa kita telah diampuni dan bahwa, ketika Tuhan datang kembali, kita akan segera diterima ke dalam surga. Aku tidak pernah yakin tentang hal ini, sebab Tuhan berkata: “… jadilah engkau kudus; karena Aku kudus” (1 Petrus 1:16). Tuhan itu suci dan kita tetap berdosa sepanjang waktu, jadi bagaimana kita bisa mendapat pujian Tuhan?

Lanjutkan membaca “Seorang orang Kristen dari Kenya menemukan jalan keluar dari dosa(II)”
Kesaksian Kristen

Seorang orang Kristen dari Kenya menemukan jalan keluar dari dosa (I)

Oleh Joseph , Kenya

Saudara-saudari, damai sejahtera dalam Tuhan! Aku merasa sangat beruntung dapat bersekutu dengan engkau sekalian hari ini tentang pengalamanku dalam menyambut Tuhan, dan aku merasa amat tersanjung dan sangat bersyukur kepada Tuhan karena memberiku kesempatan ini.

Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga Kristen. Ibuku adalah orang percaya yang sangat saleh, dan ketika aku masih kecil, dia biasa membimbing kami membaca Alkitab dan menyanyikan lagu-lagu pujian dan membawa kami ke berbagai acara di gereja. Ketika aku tumbuh dewasa, aku meninggalkan rumah untuk bekerja dan mulai menghadiri pertemuan gereja di gereja lokal yang baru, dan setelah beberapa tahun, aku ditunjuk untuk bertanggung jawab atas gereja itu. Karena pendeta di sana tidak pernah mengkhotbahkan sesuatu yang baru, karena ia hanya selalu mengkhotbahkan cara memberikan persembahan dan tanpa pencerahan Roh Kudus, beberapa orang beriman akan tertidur sembari mendengarkan khotbah-khotbahnya, dan ada yang memutuskan untuk tidak kembali lagi karena mereka tidak mendapatkan apa pun darinya. Untuk mempertahankan orang-orang percaya, terkadang kami mengundang beberapa pengkhotbah dari gereja-gereja lain untuk menyampaikan khotbah, atau kami akan mengadakan beberapa acara. Namun metode-metode ini hanya memiliki efek sementara, dan ketika umat beriman selesai menghadiri pertemuan ibadah, mereka tidak akan datang lagi. Ada juga beberapa orang percaya baru yang mau datang selama beberapa hari dan kemudian tidak datang lagi. Dengan cemas aku berpikir dalam hati, “Apa yang terjadi di sini? Situasi di gereja kami sangat buruk dan kami bahkan tidak bisa membuat orang percaya baru tetap tinggal. Apakah kami melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan? Ataukah gereja kami telah ditinggalkan oleh Tuhan?”

Lanjutkan membaca “Seorang orang Kristen dari Kenya menemukan jalan keluar dari dosa (I)”
Kisah dalam Alkitab

Berkat dan murka Tuhan terhadap raja Salomo

Dalam catatan Alkitab tentang Raja Salomo, Raja Salomo telah menerima berkat-berkat yang besar dari Tuhan, menjadi raja paling bijaksana di sepanjang sejarah. Israel mencapai kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya dan berkembang selama masa pemerintahannya. Namun, Raja Salomo menimbulkan murka Tuhan Yahweh dengan menjadi bejat dan mendapat penolakan serta penghukuman oleh Tuhan. Setelah kematiannya, Israel terpecah belah. Jadi bagaimanakah kita mengetahui watak Tuhan dari dua sikap-Nya yang berbeda terhadap Salomo? Kehendak Tuhan mana yang Ia nyatakan kepada kita? Mari kita memeriksa kisah Salomo bersama.

Tuhan Memberkati dan Berbelas Kasih Terhadap Orang-orang yang Menganggap Penting Kehendak-Nya
Tercatat dalam Alkitab, Di Gibeon, Yahweh menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi di malam hari: dan Tuhan berkata, Mintalah apa yang akan Kuberikan kepadamu. Dan Salomo berkata, … Karena itu, berilah hamba-Mu hati yang penuh pengertian untuk menghakimi umat-Mu, supaya aku dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat: karena siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini? Dan permohonan itu dipandang baik oleh Yahweh, karena Salomo telah meminta hal ini. Maka Tuhan berfirman kepadanya, Karena engkau telah meminta hal ini dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu bagi dirimu sendiri; melainkan meminta pengertian untuk memutuskan secara adil; Lihatlah, Aku telah mengabulkannya sesuai dengan permintaanmu: lihatlah, Aku telah memberimu hati yang bijaksana dan penuh pengertian; sehingga sebelum engkau tidak seorang pun yang seperti engkau, dan sesudah engkau tidak seorang pun akan bangkit seperti engkau. Dan Aku juga telah memberikan kepadamu apa yang tidak engkau minta, baik kekayaan maupun kehormatan, supaya tidak seorang pun seperti engkau di antara raja-raja sepanjang umurmu” (1 Raja 3:5, 9-13).

Lanjutkan membaca “Berkat dan murka Tuhan terhadap raja Salomo”
Misteri Alkitab

Ayat Alkitab tentang Tema: Kerajaan Surga – mengungkap misteri Kerajaan Surga

Membaca ayat-ayat Alkitab tentang surga dan firman Tuhan terkait akan menuntun Anda untuk memahami misteri surga, dan pada saat yang sama menunjukkan jalan menuju surga bagi Anda, sehingga Anda memiliki kesempatan untuk mewujudkan harapan Anda memasuki kerajaan surga!


Janji Tuhan – Kehidupan Kerajaan Surga yang indah


Tuhan akan menghapuskan setiap air mata dari mata mereka; dan tidak akan ada lagi kematian, kesedihan, tangisan, dan kesakitan: karena hal-hal yang lama sudah berlalu.
(Wahyu 21:4)

Yang memiliki kemuliaan Tuhan: dan cahayanya bagaikan permata yang paling mulia, bahkan seperti permata yaspis, sejernih kristal.
(Wahyu 21:11)


Dan susunan dindingituterbuatdari permata yaspis; dan kota ituterbuatdari emas murni,sebeningkaca. Dan fondasi tembok kota itu dihiasi dengan segala macam batupermata.Fondasipertama adalahbatu yaspis; yang keduabatusafir; yang ketigabatukalsedon; yang keempatbatuzamrud;yang kelimabatusardoniks;yang keenambatusardis; yang ketujuhbatukrisolit;yangkedelapanbatuberil; yang kesembilanbatutopas;yangkesepuluhbatu krisopras;yangkesebelasbatu lazuardi;yangkedua belasbatukecubung. Dan kedua belas pintu gerbang ituadalahdua belas mutiara: setiappintugerbang terdiri dari satu mutiara: dan jalan kota ituterbuat dariemas murni,sebeningkaca. Dan aku tidak melihat bait suci di dalamnya: sebab Tuhan Yang Mahakuasa dan Anak Domba adalah bait suci itu. Dan kota itu tidak membutuhkan matahariataubulan untukbersinar atasnya:sebabkemuliaanTuhan menerangi kota itu, dan Anak Dombaituadalahpelitanya. Dan bangsa-bangsa mereka yang diselamatkan akan berjalan dalam terangnya: dan raja-raja di bumi membawa kemuliaan dan kehormatan mereka ke dalamnya. Danpintu-pintu gerbangnyasama sekali tidak akan ditutup pada siang hari,sebabtidak akan adalagimalam di sana. Dan mereka akan membawa kemuliaan dan kehormatan bangsa-bangsa ke dalamnya.
(Wahyu21:18–26)

Dan dia menunjukkan kepadaku sungai yang murni penuh dengan air kehidupan, yang jernih seperti kristal, mengalir keluar dari takhta Tuhan dan takhta Anak Domba. Di kedua sisi sungai itu, ada pohon kehidupan, yang menghasilkan dua belas macam buah dan berbuah setiap bulan: dan daun-daun dari pohon itu digunakan untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. Maka tidak akan ada lagi kutuk: tetapi takhta Tuhan dan takhta Anak Domba akan ada di sana; dan hamba-hamba-Nya akan melayani Dia. Maka mereka akan melihat wajah-Nya; dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka. Dan tidak akan ada malam di sana; mereka tidak memerlukan lilin, atau cahaya matahari; karena Tuhan memberi mereka terang: dan mereka akan memerintah selama-lamanya.
(Wahyu 22:1-5)


Kebenaran yang relevan:


Tuhan berkata: “Di seluruh alam semesta, umat pilihan-Ku hidup dalam kemuliaan-Ku, diberkati tiada tara, tidak sebagai manusia yang hidup di antara manusia, tetapi sebagai manusia yang hidup dengan Tuhan. Semua orang telah mengalami kerusakan Iblis, merasakan kepahitan dan manisnya hidup. Sekarang hidup dalam terang-Ku, siapakah yang tidak akan bersuka? Bagaimana bisa seseorang melupakan begitu saja momen indah ini dan membiarkannya berlalu? Oh manusia! Sekarang nyanyikanlah nyanyian baru di hatimu dan menarilah bagi-Ku! Sekarang angkatlah hatimu yang tulus dan persembahkan kepada-Ku! Sekarang tabuhlah genderang dan mainkan untuk-Ku! Aku menyinarkan sukacita atas seluruh alam semesta! Aku menunjukkan kepada manusia wajah-Ku yang mulia! Aku akan mengguruh! Aku akan melampaui alam semesta! Aku sudah memerintah di antara manusia! Aku dimuliakan oleh manusia! Aku melayang di langit biru dan manusia bergerak bersama-Ku. Aku berjalan di antara manusia dan umat-Ku mengelilingi Aku! Hati manusia bersuka, lagu mereka menggoncang alam semesta, memecahkan langit! Alam semesta tidak lagi tertutup kabut, tidak ada lagi lumpur, tidak ada lagi air kotor menggenang. Umat kudus alam semesta! Di bawah pemeriksaan-Ku, rupa aslimu disingkapkan. Engkau semua bukan manusia yang tertutup kotoran, tetapi orang kudus yang murni seperti giok, semuanya kesayangan-Ku, semuanya kesukaan-Ku! Semuanya kembali hidup! Semua orang kudus kembali di surga, melayani-Ku, masuk dalam pelukan hangat-Ku, tidak lagi meratap, tidak lagi cemas, mempersembahkan diri mereka kepada-Ku, kembali ke rumah-Ku, dan di kampung halamannya, mereka akan mengasihi-Ku tanpa henti! Tidak berubah! Di manakah duka! Di manakah air mata! Di manakah daging! Bumi tidak ada lagi, tetapi surga kekal selamanya. Aku menampakkan diri kepada semua orang dan semua orang memuji-Ku. Hidup ini, keindahan ini, dari zaman purbakala, dan selamanya, tidak akan berubah. Inilah kehidupan di kerajaan.”

Di mana Kerajaan Surga?
Kerajaan-Mu datanglah, kehendak-Mu terjadilah di bumi, seperti di surga.
(Matius 6:10)

Dan malaikat ketujuh meniup sangkakala; dan terdengar suara nyaring di surga yang berkata, Kerajaan-kerajaan di dunia ini menjadi milik Tuhan kita, dan Kristus-Nya; dan Dia akan memerintah sampai selama-selamanya.
(Wahyu 11:15-17)

Dan aku, Yohanes, melihat kota yang kudus, Yerusalem Baru, yang turun dari Tuhan dari surga, menyiapkan dipersiapkan sebagai seorang mempelai perempuan yang didandani untuk pengantinnya. Dan aku mendengar suara nyaring dari surga berkata: Lihatlah Bait Suci Tuhan ada bersama manusia, dan Dia akan tinggal bersama mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya dan Tuhan sendiri akan ada bersama mereka, menjadi Tuhan mereka.
(Wahyu 21:2-3)

Kebenaran berkaitan:
Tuhan berkata: “Setelah pekerjaan penaklukan selesai, manusia akan dibawa ke dunia yang indah. Tentu saja, kehidupan ini masih berada di bumi, tetapi kehidupan ini akan sama sekali berbeda dengan kehidupan manusia saat ini. Ini adalah kehidupan yang akan umat manusia miliki setelah seluruh umat manusia ditaklukkan. Kehidupan ini akan menjadi awal yang baru bagi manusia di bumi, dan bagi umat manusia memiliki kehidupan semacam itu akan menjadi bukti bahwa umat manusia telah memasuki alam yang baru dan indah. Kehidupan ini akan menjadi awal kehidupan manusia dan Tuhan di bumi. Dasar pemikiran kehidupan yang indah seperti ini adalah bahwa setelah manusia dimurnikan dan ditaklukkan, dia tunduk di hadapan Sang Pencipta. Maka, pekerjaan penaklukan adalah tahap terakhir dari pekerjaan Tuhan sebelum umat manusia memasuki tempat tujuan yang mengagumkan. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan masa depan manusia di bumi. Ini adalah kehidupan terindah di dunia, jenis kehidupan yang manusia rindukan, jenis yang belum pernah dicapai manusia dalam sejarah dunia. Ini adalah hasil akhir dari 6.000 tahun pekerjaan pengelolaan, inilah yang paling didambakan manusia, dan ini juga janji Tuhan kepada manusia.”

Orang seperti apa bisa memasuki ke Kerajaan Surga?
Bukan setiap orang yang memanggil-Ku, Tuhan, Tuhan, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga; melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.
(Matius 7:21)

Diberkatilah orang yang miskin dalam roh: karena kerajaan surga adalah milik mereka …
(Matius 5:3)

Diberkatilah mereka yang dianiaya karena kebenaran: karena kerajaan surga adalah milik mereka.
(Matius 5:10)

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Kecuali engkau dipertobatkan, dan menjadi sama seperti anak kecil, engkau tidak akan bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga.
(Matius 18:3)

Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan; sebab mereka murni. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba ke mana pun Dia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia, sebagai buah sulung bagi Tuhan dan Anak Domba.
(Wahyu 14:4)

Berbahagialah mereka yang melakukan perintah-perintah-Nya, sehingga mereka dapat memperoleh hak atas pohon kehidupan dan dapat masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.
(Wahyu 22:14)

Kebenaran yang relevan:
Tuhan berkata:“Jika mencari jalan kebenaran menyenangkan hatimu, maka engkau adalah orang yang selalu diam di dalam terang. Jika engkau sangat senang menjadi pelaku pelayanan di rumah Tuhan, bekerja dengan rajin dan bersungguh-sungguh tanpa ingin dikenal, selalu memberi, dan tidak pernah mengambil, maka Aku katakan engkau adalah orang suci yang setia, karena engkau tidak mencari upah dan hanya menjadi orang yang jujur. Jika engkau mau berterus terang, jika engkau mau mengorbankan seluruh milikmu, jika engkau mampu mengorbankan hidupmu bagi Tuhan dan menjadi saksi, jika engkau jujur sampai ke taraf engkau hanya tahu untuk memuaskan Tuhan dan tidak memikirkan dirimu sendiri atau mengambil untuk dirimu sendiri, maka Aku katakan orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang terpelihara dalam terang dan yang akan hidup untuk selamanya di dalam kerajaan.”

Bagaimana caranya untuk memasuki Kerajaan Surga?
Sejak itu Yesus mulai berkhotbah dan mengatakan, Bertobatlah engkau: karena Kerajaan Surga sudah dekat.
(Matius 4:17)

Barang siapa memiliki telinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang diucapkan Roh kepada gereja-gereja.
(Wahyu 2:29)

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka, dan mereka mengikut Aku.
(Yohanes 10:27)

Dan pada tengah malam terdengar teriakan, ‘Lihat, mempelai laki-laki datang; keluarlah menyambutnya’.
(Matius 25:6)

Lihatlah, Aku berdiri di pintu dan mengetuk: kalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membuka pintu itu, Aku akan datang masuk kepadanya, dan bersantap dengannya, dia bersama-Ku.
(Wahyu 3:20)

Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan; sebab mereka murni. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba ke mana pun Dia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia, sebagai buah sulung bagi Tuhan dan Anak Domba.
(Wahyu 14:4)

Dan akan terjadi di seluruh negeri, firman Yahweh, dua pertiga di dalamnya akan dipisahkan dan mati; tetapi sepertiganya akan ditinggalkan di sana.Dan Aku akan membawa bagian ketiga itu melewati api, dan akan memurnikan mereka seperti perak dimurnikan, dan akan mengujinya seperti emas diuji: mereka akan memanggil nama-Ku, dan Aku akan mendengar mereka: Aku akan berkata, Ini adalah umat-Ku: dan mereka akan berkata, Yahweh adalah Tuhanku.
(Zakharia 13:8-9)

Kebenaran yang relevan:
Tuhan berkata: “Berhubung kita sedang mencari jejak langkah Tuhan, maka kita pun harus mencari kehendak Tuhan, firman Tuhan, perkataan Tuhan—sebab, di mana pun ada firman baru yang diucapkan Tuhan, suara Tuhan ada di sana, dan di mana pun ada langkah kaki Tuhan, perbuatan Tuhan juga ada di sana. Di mana pun ada pengungkapan Tuhan, di sanalah Tuhan menampakkan diri, dan di mana pun Tuhan menampakkan diri, di situlah kebenaran, dan jalan, dan hidup ada. Dalam mencari jejak langkah Tuhan, engkau sekalian telah mengabaikan firman yang mengatakan bahwa “Tuhan adalah kebenaran, dan jalan, dan hidup.” Itulah sebabnya, banyak orang, bahkan pada saat mereka menerima kebenaran, tidak percaya bahwa mereka telah menemukan jejak langkah Tuhan, apalagi mengakui penampakan Tuhan. Ini kesalahan yang sangat fatal! Penampakan Tuhan tidak dapat diselaraskan dengan gagasan manusia, apalagi Tuhan dapat menampakkan diri atas perintah manusia. Tuhan membuat pilihan-pilihan-Nya sendiri dan memiliki rencana-rencana-Nya sendiri saat Ia melangsungkan pekerjaan-Nya; lagipula, Ia memiliki tujuan-tujuan dan cara-cara-Nya sendiri. Apa pun pekerjaan yang dilakukan-Nya, Ia tidak perlu membahasnya dengan manusia atau meminta nasihat manusia, apalagi memberi tahu setiap orang mengenai pekerjaan-Nya. Inilah watak Tuhan, yang harus, terlebih lagi, dikenali oleh semua orang. Jika ingin menyaksikan penampakan Tuhan, ingin mengikuti langkah kaki Tuhan, maka engkau sekalian harus pertama-tama meninggalkan gagasanmu sendiri. Engkau tidak boleh menuntut Tuhan melakukan ini atau itu, apalagi menempatkan-Nya dalam batas-batasmu sendiri dan membatasi-Nya dengan gagasan pribadimu. Akan tetapi, engkau sekalian harus bertanya bagaimana seharusnya engkau mencari jejak langkah Tuhan, bagaimana seharusnya menerima penampakan Tuhan, dan bagaimana harus berserah pada pekerjaan baru Tuhan; itulah yang manusia seharusnya lakukan. Oleh karena manusia itu bukan kebenaran, dan tidak memiliki kebenaran, manusia harus mencari, menerima, dan menaati.”

“Pekerjaan di akhir zaman bertujuan untuk memisahkan segala sesuatu menurut jenisnya, untuk mengakhiri rencana pengelolaan Tuhan, karena waktunya sudah makin dekat dan hari Tuhan telah tiba. Tuhan membawa semua yang telah memasuki kerajaan-Nya, yaitu mereka yang telah setia kepada-Nya sampai akhir, ke dalam zaman Tuhan sendiri. Namun, sampai datangnya zaman Tuhan itu sendiri, pekerjaan yang akan Tuhan lakukan bukanlah untuk mengamati perbuatan-perbuatan manusia atau menyelidiki kehidupan manusia, tetapi menghakimi pemberontakannya, karena Tuhan akan menyucikan semua orang yang datang ke hadapan takhta-Nya. Semua orang yang telah mengikuti jejak kaki Tuhan sampai hari ini adalah mereka yang telah datang ke hadapan takhta Tuhan, dengan demikian, setiap orang yang menerima tahap terakhir pekerjaan Tuhan menjadi sasaran penyucian Tuhan. Dengan kata lain, semua orang yang menerima tahap terakhir pekerjaan Tuhan menjadi sasaran penghakiman Tuhan.”

“Mereka yang mampu berdiri teguh dalam masa penghakiman dan penghajaran Tuhan pada akhir zaman—yaitu pada masa pentahiran terakhir—adalah orang-orang yang akan masuk ke dalam tempat perhentian terakhir bersama Tuhan; karena itu, mereka yang masuk ke tempat perhentian semua pasti terbebas dari pengaruh Iblis dan sudah menjadi milik Tuhan setelah melalui pekerjaan pentahiran terakhir-Nya. Orang-orang ini, yang pada akhirnya akan menjadi milik Tuhan, akan masuk ke tempat perhentian terakhir. Esensi pekerjaan penghakiman dan hajaran Tuhan adalah pentahiran manusia, untuk hari perhentian terakhir. Jika tidak, seluruh umat manusia tidak akan pernah bisa mengikuti sesamanya atau masuk ke tempat perhentian terakhir. Inilah satu-satunya jalan agar manusia bisa masuk ke tempat perhentian.”
















Renungan Harian

Tahukah Engkau? Apa yang harus kita lakukan untuk mengikuti kehendak Tuhan?

Renungan firman Tuhan hari ini Kristen memungkinkan Andan untuk mengetahui pekerjaan apa yang akan Tuhan lakukan di akhir zaman sehingga Anda dapat menyambut Tuhan dan masuk kerajaan surga secepat mungkin.

Tuhan Yesus berkata: “Bukan setiap orang yang memanggil-Ku, Tuhan, Tuhan, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga; melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (Matius 7:21). Ayat Alkitab ini menyebutkan bahwa hanya mereka yang melakukan kehendak Tuhan yang dapat memasuki kerajaan surga. Tapi pemahaman sebagian besar saudara dan saudari adalah: mengabdikan diri dan mengorbankan diri untuk Tuhan serta bekerja keras demi-Nya berarti mengikuti kehendak Tuhan, dan dengan melakukan ini, mereka pasti akan dipuji oleh Tuhan dan memasuki kerajaan surga. Ada juga saudara dan saudari yang berpikir bahwa mereka yang dapat meninggalkan sesuatu dan mengorbankan diri untuk Tuhan belum tentu dapat dipuji oleh Tuhan, karena orang-orang Farisi juga bekerja keras untuk Tuhan, tetapi pada akhirnya mereka bergabung dengan pemerintah Romawi untuk meyalibkan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Akibatnya, mereka dihukum dan dikutuk oleh Tuhan.
Jadi, apa yang dimaksud dengan “mengikuti kehendak Bapa” yang dikatakan oleh Tuhan Yesus? Apakah bekerja keras demi Tuhan adalah mengikut kehendak Tuhan? Apa yang harus kita lakukan untuk mengikuti kehendak Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting bagi setiap penganut Kristen, karena ini berhubungan secara langsung dengan apakah kita dapat diangkat ke dalam kerajaan surga. Mari kita bersekutu tentang persoalan ini.

Lanjutkan membaca “Tahukah Engkau? Apa yang harus kita lakukan untuk mengikuti kehendak Tuhan?”
video Kristen

Film Rohani Kristen Terbaru | “ALKITAB DAN TUHAN” | Klarifikasikan Hubungan Nya Alkitab Dan Tuhan

Liu Zhizhong adalah seorang penatua di gereja rumah lokal di Tiongkok. Dia sudah lebih dari 30 tahun menjadi orang percaya dan terus menyatakan bahwa “Alkitab diilhami oleh Tuhan,” “Alkitab mewakili Tuhan, percaya kepada Tuhan berarti percaya kepada Alkitab, percaya kepada Alkitab berarti percaya kepada Tuhan.” Di dalam hatinya, Alkitablah yang terpenting. Karena pemujaannya dan iman yang buta kepada Alkitab, dia tidak pernah mencari atau melihat karya Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman. Sampai suatu hari, ketika dia melarang orang percaya membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa dari internet, dia berkesempatan bertemu para pengkhotbah dari Gereja Tuhan Yang Mahakuasa. Setelah menjalani perdebatan sengit tentang kebenaran, apakah akhirnya dia bisa melihat hubungan antara Alkitab dan Tuhan dengan jelas? Apakah dia dapat beralih dari Alkitab untuk memahami bahwa Kristus adalah jalan, kebenaran, dan hidup? Akankah dia diangkat ke hadapan Tuhan?

Film Kristiani ini telah mengungkap misteri tentang menyambut Tuhan dan masuk ke dalam kerajaan surga. Itu adalah film-film yang harus ditonton bagi orang-orang Kristen untuk menyambut Tuhan Yesus. Tonton sekarang. Semoga Anda menyambut kedatangan kembali Tuhan secepat mungkin.

Misteri Alkitab

Mendapat pemahaman Perumpamaan tentang Penabur dari Tuhan Yesus

Yaqin belum terlalu lama percaya kepada Tuhan. Dia sangat suka membaca Alkitab. Suatu hari, dia membuka Matius 13:3-8 dan membaca, “Dan Dia berbicara banyak hal kepada mereka dalam perumpamaan, kata-Nya, Lihatlah, seorang penabur pergi untuk menabur; Dan ketika dia menabur, beberapa benih jatuh di pinggir jalan, dan unggas datang dan melahapnya: Beberapa jatuh di tempat berbatu, di mana tidak ada banyak tanah: dan segera mereka tumbuh, karena tanahnya tidak dalam: Dan ketika matahari terbit, tanaman itu kepanasan; dan karena tidak memiliki akar, menjadi layu. Dan beberapa jatuh di antara duri; dan duri bermunculan, dan menghimpitnya: tetapi yang lain jatuh ke tanah yang baik, dan menghasilkan buah, ada yang seratus kali, enam puluh kali, tiga puluh kali” Dia juga melihat banyak perumpamaan dalam beberapa ayat berikutnya (lihat Matius 13:24-33), seperti perumpamaan lalang, perumpamaan biji sesawi, perumpamaan ragi, dan lain-lain. Sesudah membaca perumpamaan-perumpamaan ini, dia berpikir: “Mengapa Tuhan Yesus selalu berbicara dengan perumpamaan ketika Dia berkhotbah kepada murid-murid-Nya? Apa kehendak-Nya di balik perumpamaan sang penabur?”

Keesokan siangnya, suami Yaqin, Han Lei, yang sebelumnya sedang pergi berkhotbah, pulang ke rumah. Kemudian Yaqin bercerita kepadanya mengenai kebingungan yang dihadapinya ketika dia membaca Alkitab pada hari sebelumnya. Suaminya berkata: “Baru-baru ini aku kebetulan membaca sebuah bagian dari firman Tuhan di suatu situs web Injil bersama beberapa rekan kerjaku. Aku pikir ini bermanfaat untuk memecahkan masalah ini.” Yaqin dengan bersemangat berkata, “Benarkah? Coba aku baca.” Han Lei menghentikan pekerjaannya dan dengan cepat menyalakan komputer untuk membuka halaman situs tersebut, dan mereka duduk di depan komputer untuk membaca firman itu.

Firman Tuhan mengatakan: “Yang pertama adalah perumpamaan tentang penabur. Ini adalah perumpamaan yang begitu menarik; menabur benih adalah hal yang lumrah dalam kehidupan orang-orang. Yang kedua adalah perumpamaan tentang lalang di antara gandum. Mengenai lalang, orang dewasa atau siapa pun yang pernah bertani pastinya tahu akan ini. Yang ketiga adalah perumpamaan tentang biji sesawi. Engkau semua tentunya tahu apa itu biji sesawi, bukan begitu? Jika engkau tidak tahu, engkau bisa membacanya di dalam Alkitab. Yang keempat adalah perumpamaan tentang ragi, yang dikenal sebagai bahan untuk fermentasi; ragi digunakan oleh orang-orang dalam keseharian mereka. ……semuanya diambil dari keseharian orang-orang; semuanya berasal dari kehidupan nyata mereka. Gambaran seperti apa yang dilukiskan perumpamaan-perumpamaan tersebut? Ini adalah gambaran tentang Tuhan yang menjadi manusia biasa dan hidup di tengah umat manusia, menggunakan bahasa dari kehidupan normal, menggunakan bahasa manusia untuk berkomunikasi dengan manusia dan untuk membekali kebutuhan mereka. Ketika Tuhan menjadi daging dan hidup di tengah umat manusia untuk waktu yang lama, setelah Ia mengalami dan menyaksikan berbagai macam gaya hidup orang, pengalaman-pengalaman ini menjadi panduan-Nya untuk mengubah bahasa ilahi-Nya ke dalam bahasa manusia. Tentunya, hal-hal yang Ia lihat dan dengar dalam kehidupan turut memperkaya pengalaman Sang Anak Manusia. Ketika Ia ingin membuat orang mengerti akan beberapa kebenaran, membuat mereka mengerti sebagian dari kehendak Tuhan, Ia dapat menggunakan perumpamaan yang mirip dengan yang telah disebutkan di atas untuk menyampaikan kehendak Tuhan dan persyaratan-Nya terhadap manusia.”

Setelah membaca bacaan ini, Yaqin tenggelam dalam pemikirannya.

Han Lei berkata: “Dari firman Tuhan kita bisa melihat bahwa maksud Tuhan Yesus ketika Dia berkhotbah kepada murid-murid-Nya dalam perumpamaan adalah untuk memampukan mereka memahami firman-Nya dan berbagai aspek dari kebenaran. Dengan menggunakan bahasa manusia dan perumpamaan, Dia mengungkapkan kehendak Tuhan kepada para murid; dengan berbicara seperti ini, Dia membuat mereka merasa bahwa Dia sangat dekat dengan mereka. Oleh karena itu, mereka semua menyukai dan ingin mendengarkan khotbah-Nya. Hasilnya, injil kerajaan surga menyebar luas. Ketika para murid mendengarkan khotbah Tuhan Yesus dan berdoa dalam nama-Nya, mereka akan menerima kasih karunia dan berkat-Nya. Selain itu, karena kita umat manusia tidak memiliki organ untuk menerima kebenaran, jika Tuhan Yesus tidak berbicara dalam perumpamaan, para murid tidak akan memahami firman-Nya dengan lebih baik. Seperti perumpamaan sang penabur, kita akrab dengan menabur benih; para petani menabur benih setiap musim semi. Ini adalah hal umum dalam kehidupan sehari-hari kita. Tuhan Yesus menggunakan bahasa manusia dan bahasa sehari-hari untuk mengungkapkan firman-Nya, agar para murid memahaminya dengan mudah. Dari sini, kita bisa melihat bahwa Tuhan Yesus menggunakan banyak pertimbangan dalam khotbah-Nya, sehingga membuat para murid memahami firman-Nya dengan lebih baik dan melakukan ajaran-Nya dan mendapatkan keselamatan Tuhan. Ini mewujudkan kasih Tuhan kepada umat manusia.”

Yaqin setuju: “Mm, sekarang aku mengerti sedikit dari persekutuanmu. Tuhan datang ke dunia untuk hidup di antara manusia dan memberitakan injil kerajaan surgawi menggunakan bahasa manusia dan perumpamaan dengan tujuan agar para murid bisa lebih memahami firman-Nya dan melakukannya.”

Han Lei merenung sebentar dan melanjutkan persekutuannya, “Ya, kita semua tahu bahwa perumpamaan-perumpamaan ini semuanya berpusat pada kerajaan surga. Sebagaimana Alkitab mengatakan: ‘Ketika seseorang mendengar firman tentang kerajaan, dan tidak memahaminya, maka datanglah si jahat, dan merenggut apa yang telah ditaburkan di dalam hatinya. Inilah orang yang menerima benih di pinggir jalan. Namun, orang yang menerima benih itu di tempat berbatu, dia mendengar firman itu, dan dengan sukacita segera menerimanya; Namun itu tidak berakar dalam dirinya, melainkan hanya bertahan untuk sementara waktu: karena ketika kesengsaraan atau penganiayaan muncul karena firman itu, dia segera tersandung. Orang yang menerima benih di antara semak duri adalah dia yang mendengar firman; dan kepedulian akan dunia ini, dan tipu daya kekayaan, mencekik firman itu, dan dia menjadi tidak berbuah. Namun, orang yang menerima benih di tanah yang baik adalah dia yang mendengar firman itu, dan memahaminya; dia juga berbuah dan menghasilkan, ada yang seratus kali, enam puluh kali, tiga puluh kali’ (Matius 13:19-23). Dari sini, kita bisa melihat bahwa tidak ada kehidupan dalam semua benih yang jatuh di pinggir jalan, yang ditabur di tanah yang berbatu dan di tengah semak duri, dan bahwa mereka tidak bisa menghasilkan buah yang baik. Kehendak Tuhan di balik perumpamaan ini adalah agar kita umat manusia menerima firman-Nya dan jalan-Nya dalam hati kita, dan untuk memahami kehendak-Nya dan hasil yang Dia ingin raih dengan mengatakan firman tersebut. Jika kita bisa memperlakukan setiap firman yang Tuhan ucapkan dengan sungguh-sungguh dan melakukan sesuai dengan firman-Nya, kita adalah benih baik yang menghasilkan buah dan kita akan memasuki kerajaan Tuhan pada akhirnya. Jika kita hanya mendengarkan khotbah Tuhan tetapi tidak memahami firman-Nya, kita tidak mampu melaksanakan jalan-Nya; ketika seseorang berusaha memperdaya kita, kita akan meninggalkan jalan Tuhan karena kita tidak mengerti firman-Nya, sebagaimana benih yang ditabur di pinggir jalan. Jika kita mendengarkan khotbah Tuhan tetapi tidak bertindak sesuai dengan itu, dan kita disibukkan dengan urusan duniawi setiap hari, mengutamakan makan, minum, dan bersenang-senang, dan mengejar reputasi dan jabatan, pada akhirnya iman kita akan sia-sia, dan kita hanya akan disingkirkan sebagaimana benih yang ditabur ke tanah berbatu atau di tengah semak duri. Pada titik ini, aku memikirkan kondisi kita umat Kristen. Meski banyak dari kita mendengarkan khotbah Tuhan, berapa banyak ajaran Tuhan yang ada dalam hati kita? Ada sebagian orang yang bisa mengikuti Tuhan dan melakukan sedikit firman-Nya ketika kasih karunia-Nya selalu menyertai mereka, tetapi yang kemudian tidak memberikan kesaksian bagi Tuhan dan bahkan tidak percaya kepada-Nya dan mengkhianati-Nya segera setelah mereka mengalami bencana seperti penganiayaan dari sanak saudara yang tidak percaya atau pemerintah PKT (Partai Komunis Tiongkok); ada juga sebagian orang yang tidak bisa berpegang teguh pada firman Tuhan ketika dihadapkan pada pencobaan kekayaan, kemasyhuran dan status, dan yang akan menyimpang dari tuntutan Tuhan dan berjalan dalam jalan manusia duniawi, sehingga menjadi tidak peduli terhadap khotbah Tuhan dalam hati mereka. Kedua jenis manusia ini sama seperti benih yang ditabur di pinggir jalan, di tanah berbatu, dan di tengah semak berduri. Hanya mereka yang bisa mengatasi pencobaan dan ujian ini dan terus berjalan dalam jalan Tuhan yang bisa mengikuti Tuhan sampai akhir. Hanya merekalah benih baik yang ditabur di tanah yang baik.”

Yaqin mengangguk dan berkata: “Betul! Syukur kepada Tuhan. Dari persekutuanmu, aku menjadi sedikit memahami mengenai perumpamaan sang penabur dan alasan mengapa Tuhan berkhotbah kepada para murid dalam perumpamaan. Aku bersedia untuk menjadi benih yang ditabur di tanah yang baik, mendengarkan dengan saksama firman Tuhan, dan melakukan jalan Tuhan, karena Tuhan Yesus berkata: ‘Bukan setiap orang yang memanggil-Ku, Tuhan, Tuhan, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga; melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga’ (Matius 7:21). Oleh karena itu, hanya mereka yang menaati ajaran Tuhan yang bisa masuk ke dalam kerajaan surga pada akhirnya. Aku harus berusaha keras untuk menjadi orang seperti itu.”

Bacaan alkitab dan renungan hari ini akan membantu Anda memahami kehendak Tuhan di balik semua yang Dia lakukan, dan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang Tuhan.

Renungan Harian

Dapatkah Kita Masuk ke Dalam Kerajaan Surga Setelah Dosa Kita Diampuni

Minggu, 5 Agustus 2018. Berawan.

Setelah pertemuan hari ini, seorang saudara datang mencariku, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. Dia berkata bahwa Tuhan menuntut manusia untuk kudus, tetapi manusia sering tanpa sadar berbuat dosa, dan jika manusia selalu hidup dalam dosa seperti ini, apakah dia dapat masuk ke dalam kerajaan surga ketika Tuhan datang? Aku memberitahukan kepadanya bahwa Tuhan Yesus telah disalibkan dan menanggung semua dosa kita, membayar harga dengan nyawa-Nya. Kukatakan kepadanya bahwa dosa-dosa kita telah diampuni karena kita percaya kepada Tuhan Yesus, dan Tuhan tidak lagi melihat kita sebagai orang berdosa, dan asalkan kita dapat menyerahkan segala sesuatu dan mengorbankan diri kita, bekerja keras untuk Tuhan, dan bertahan sampai akhir, kita akan diangkat ke dalam kerajaan surga ketika Tuhan datang kembali. Setelah saudara itu mendengarku mengatakan ini, tampak seakan-akan dia tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan, dan dia pergi dengan kelihatan agak kecewa. Sementara melihatnya meninggalkanku, aku merasakan beberapa emosi yang sangat kompleks. Sejujurnya, bukankah aku memiliki kekhawatiran yang sama dengan saudara ini? Merenungkan tentang bagaimana aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun tetapi sering kali aku telah diikat oleh dosa, dan telah hidup dalam kondisi di mana aku berbuat dosa di siang hari dan mengaku dosa di malam hari, aku juga tidak ingin terus hidup seperti itu. Namun aku benar-benar tidak mampu mengalahkan dosa, dan karenanya aku sering berdoa kepada Tuhan dan memperkuat pembacaan firman. Namun aku tidak pernah menyelesaikan masalah dosaku. Tuhan itu kudus, jadi apakah Dia akan memuji seseorang seperti diriku, yang begitu penuh dengan dosa?

Selasa, 7 Agustus 2018. Berawan.

Hari ini aku bertengkar dengan istriku karena sebuah masalah sepele, dan aku merasa sangat bersalah dan tertekan. Mengapa aku kembali mengulangi kesalahan masa lalu? Malam ini, aku menangis saat aku berdoa kepada Tuhan dan mengakui dosa-dosaku, dan setelah aku berdoa, aku tetap merasa sedih. Aku teringat ajaran Tuhan: “Engkau harus mengasihi Tuhan dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan segenap pikiranmu. Inilah perintah pertama dan yang terutama. Dan perintah yang kedua, yang sama dengan itu, Engkau harus mengasihi sesamamu manusia seperti diri sendiri” (Matius 22:37-39). Firman ini terutama meminta kita untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwa kita, dan kedua, kita harus mengasihi sesama seperti diri kita sendiri; saudara-saudari harus saling mendorong, bersikap toleran dan sabar satu sama lain dan saling memberikan penghiburan dan berbelas kasihan. Ini adalah sesuatu yang harus kita lakukan sebagai orang Kristen, dan hanya dengan cara inilah kita dapat menjalani kehidupan yang memuliakan Tuhan dan menjadi kesaksian bagi-Nya. Namun selama beberapa tahun terakhir kepercayaanku kepada Tuhan, aku bahkan belum memenuhi satu tuntutan ini: ketika di rumah, terkadang aku dan istriku bertengkar karena masalah-masalah kecil; ketika di gereja dan saudara-saudari mengatakan hal-hal yang membuatku malu, aku mulai berprasangka terhadap mereka, dan terkadang aku bahkan mengabaikan mereka. Sering kali, aku berdoa bahwa aku ingin mengasihi Tuhan, tetapi ketika sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi di rumah atau sesuatu tidak berjalan seperti yang seharusnya, aku masih salah paham dan menyalahkan Tuhan, berpikir “Aku telah mengorbankan diriku untuk Tuhan, jadi mengapa Dia tidak melindungiku? …” Oh, tidak ada satu pun yang kulakukan yang memenuhi tuntutan Tuhan atau sesuai dengan kehendak Tuhan. Meskipun aku sering berdoa kepada Tuhan, aku masih sering berbuat dosa, dan aku tidak mampu mengendalikannya betapapun aku menginginkannya. Aku sering kali berpikir: “Walaupun dosa-dosaku telah diampuni karena kepercayaanku kepada Tuhan, aku masih selalu berbuat dosa dan mendukakan Tuhan. Jika aku terus seperti ini, dapatkah aku masuk ke dalam kerajaan surga ketika Tuhan datang? Bagaimana aku bisa berhenti berbuat dosa?”

Baru-baru ini, aku sering menyelidiki Alkitab, dan banyak kali mencari penjelasan dari para pendeta dan penatua, tetapi aku tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan. Masalah ini secara langsung terkait dengan masalah penting tentang apakah aku akan dapat masuk ke dalam kerajaan surga atau tidak, dan bagaimanapun juga, aku tidak boleh mengabaikan masalah ini. Tuhan berkata: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka engkau akan menemukan; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Matius 7:7). Aku percaya bahwa, asalkan aku memiliki hati yang mencari, Tuhan pasti akan memberiku pencerahan.

Minggu, 12 Agustus 2018. Mendung.

Pagi ini, setelah menaikkan doa yang sungguh-sungguh kepada Tuhan, seperti biasa, aku membuka Alkitab dan memulai saat teduhku. Aku kemudian membaca sebuah ayat dalam kitab Wahyu yang menggerakkan hatiku: “Dan sekali-kali tidak akan masuk ke sana segala sesuatu yang mencemarkan, siapa pun yang melakukan kekejian, atau berdusta, melainkan hanya mereka yang tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba” (Wahyu 21:27). Alkitab memberi tahu kita dengan jelas bahwa kita yang belum ditahirkan tidak dapat masuk ke sana, dan bukankah frasa “ke sana” ini merujuk pada kerajaan surga? Kemudian aku membaca pasal 7, ayat 21 dalam Injil Matius: “Bukan setiap orang yang memanggil-Ku, Tuhan, Tuhan, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga; melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.” Dan juga Yohanes 8:34–35 mengatakan, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, siapa saja yang melakukan dosa adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tinggal di rumah selamanya: tetapi Anak tetap tinggal selama-selamanya.” Saat aku merenungkan ayat-ayat Alkitab ini, aku berpikir bahwa, meskipun aku telah berdoa kepada Tuhan dan membaca Alkitab setiap hari selama bertahun-tahun aku percaya kepada Tuhan, dan telah sering memberitakan Injil dan melayani, menyerahkan segalanya dan mengorbankan diriku untuk Dia, aku masih dengan sadar melakukan dosa, aku berbuat dosa dan kemudian mengaku dosa, dan aku tidak mampu menaati ajaran Tuhan atau melakukan apa yang Tuhan tuntut. Jelas sekali aku bukan orang yang melakukan kehendak Bapa di surga, apalagi orang yang telah ditahirkan, jadi apakah aku masih dapat masuk ke dalam kerajaan surga? Kerajaan surga adalah kerajaan Tuhan dan Tuhan itu kudus, jadi bagaimana mungkin orang yang penuh kekotoran dan yang selalu berbuat dosa dapat pernah memenuhi syarat untuk masuk kerajaan surga dan hidup bersama Tuhan? Tampaknya masuk ke dalam kerajaan surga tidak sesederhana yang kita bayangkan!

Senin, 13 Agustus 2018. Berawan dan cerah.

Hari ini, aku bertemu Saudara Zheng, yang sudah lama tidak kujumpai, dan aku sangat senang bertemu dengannya. Saat kami mengobrol, aku menyinggung hal yang telah membingungkanku selama ini. Setelah aku memberi tahu dia tentang hal itu, Saudara Zheng memberiku persekutuan, dengan berkata, “Dosa manusia diampuni ketika Tuhan Yesus disalibkan, dan ketika kita percaya kepada Tuhan, dosa kita diampuni dan kita diselamatkan. Namun, apa arti sesungguhnya saat dikatakan bahwa dosa-dosa kita telah diampuni? Jika kita dapat memahami masalah ini, kita akan tahu mengapa kita masih berbuat dosa bahkan setelah percaya kepada Tuhan dan apa artinya dosa-dosa kita diampuni. Mengenai apakah kita akan dapat masuk ke dalam kerajaan surga atau tidak, pertama-tama kita harus melihat latar belakang penampakan dan pekerjaan Tuhan Yesus. Pada akhir Zaman Hukum Taurat, manusia semakin dirusak oleh Iblis dan semakin banyak berbuat dosa, sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi korban penghapus dosa yang dapat mereka persembahkan yang akan cukup untuk menebus dosa mereka, dan manusia berada dalam bahaya dikutuk dan dihukum mati oleh hukum Taurat saat itu. Dengan latar belakang ini, Tuhan menjadi manusia sebagai Tuhan Yesus dan disalibkan di kayu salib sebagai korban penghapus dosa bagi manusia, dan dengan demikian dosa-dosa manusia diampuni sekali dan selamanya. Setelah itu, asalkan manusia berdoa, mengaku, dan bertobat di dalam nama Tuhan, maka dosa-dosa mereka diampuni, dan mereka tidak lagi berada di bawah kutuk dan hukuman hukum Taurat. Tuhan juga tidak lagi melihat manusia sebagai orang berdosa, dan mereka dapat secara langsung berdoa dan berseru kepada Tuhan, dan menikmati anugerah Tuhan yang berlimpah dan pembekalan dari kebenaran-Nya. Dari sini dapat dipahami bahwa dosa-dosa kita diampuni karena kepercayaan kita kepada Tuhan, dan yang dimaksud dengan ‘dosa-dosa kita diampuni’ hanyalah bahwa Tuhan telah mengampuni dosa-dosa kita karena melanggar hukum Taurat dan perintah-Nya serta menentang firman-Nya. Dengan kata lain, Tuhan tidak akan mengingat perbuatan dosa kita yang melanggar dan menyinggung hukum Tuhan. Namun watak jahat dan natur dosa kita, yang menyebabkan kita berbuat dosa, belum diampuni oleh Tuhan, dan justru karena natur dosa yang menentang Tuhan dan watak jahat kita yang terus ada itulah yang membuat kita masih dapat sering berbuat dosa. Karena itu, dapat dilihat bahwa natur dosa kita adalah sesuatu yang paling menentang Tuhan dan bertentangan dengan kebenaran, dan jika kita tidak menyelesaikan natur dosa kita, masalah dosa manusia tidak akan mungkin terselesaikan, dan kita bahkan dapat melakukan dosa yang lebih buruk daripada melanggar hukum Taurat, dan masuk ke dalam kerajaan surga pun akan menjadi sama sekali tidak mungkin. Alkitab dengan jelas menyatakan: ‘Tetapi karena Dia yang memanggilmu kudus, jadilah engkau kudus dalam semua perkataanmu: karena ada tertulis, kuduslah engkau, karena Aku kudus’ (1 Petrus 1:15-16). ‘Karena jika kita dengan sengaja berbuat dosa setelah menerima pengetahuan kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada adalah penghakiman mengerikan dan lautan api yang akan menghanguskan orang-orang durhaka’ (Ibrani 10:26-27). ‘Karena ganjaran dosa adalah kematian’ (Roma 6:23). Dari ayat-ayat ini aku melihat bahwa jika natur dosa kita belum terselesaikan, dan kita tetap hidup dalam kondisi di mana kita berbuat dosa di siang hari dan mengaku dosa di malam hari, meskipun kita mungkin percaya kepada Tuhan sampai akhir, kita tetap akan binasa, karena Tuhan itu kudus, dan manusia yang kotor dan rusak tidak layak menerima berkat dan janji Tuhan, dan tidak akan dapat masuk ke dalam kerajaan Tuhan.”

Saat ini, hatiku terasa agak lebih terang, dan aku mengerti bahwa dosa-dosa kita diampuni hanya berarti bahwa Tuhan telah mengampuni perbuatan dosa kita karena melanggar hukum Tuhan. Namun kita belum menyelesaikan natur dosa kita yang menentang Tuhan, jadi tidak heran aku tidak dapat menyelesaikannya betapapun aku menginginkannya, saat aku hidup setiap hari dalam keadaan berbuat dosa di siang hari dan mengaku dosa di malam hari! Syukur kepada Tuhan! Persekutuan yang kuterima hari ini benar-benar sangat jelas, dan aku merasa sepertinya awan telah berlalu dan akhirnya aku bisa melihat langit biru. Ketika aku akan pergi, Saudara Zheng memberiku sebuah buku dan berkata bahwa semua pemahamannya berasal dari membaca buku ini, dan aku merasa bahagia.

Rabu, 15 Agustus 2018. Hari yang cerah.

Syukur atas kasih Tuhan, aku merasa cukup baik beberapa hari terakhir ini. Dari buku yang diberikan Saudara Zheng kepadaku ini, aku jadi memahami banyak kebenaran yang sebelumnya tidak kupahami, dan itu telah meruntuhkan kegalauan dan kebingunganku selama bertahun-tahun. Aku membaca dalam buku itu: “Karena, di Zaman Kasih Karunia, roh jahat diusir dari manusia melalui penumpangan tangan dan doa, namun watak rusak dalam diri manusia tetap tinggal di dalam dirinya. Manusia disembuhkan dari sakitnya dan diampuni dosa-dosanya, tetapi pekerjaan mengenyahkan watak rusak Iblis dalam diri manusia belumlah dilakukan dalam dirinya. Manusia hanya diselamatkan dan diampuni dosanya karena imannya, tetapi sifat dosa manusia tidak diambil daripadanya dan masih tetap ada dalam dirinya. Dosa manusia diampuni melalui Tuhan yang berinkarnasi, namun bukan berarti manusia tidak lagi memiliki dosa dalam dirinya. Dosa manusia dapat diampuni melalui korban penghapusan dosa, tetapi manusia belum mampu menyelesaikan masalah bagaimana ia dapat untuk tidak lagi berbuat dosa dan bagaimana agar sifat dosanya dapat dibuang sepenuhnya dan diubahkan” (“Misteri Inkarnasi (4)” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). “Engkau hanya tahu bahwa Yesus akan turun ke bumi pada akhir zaman, tetapi bagaimana tepatnya Dia akan turun? Orang berdosa sepertimu, yang baru saja ditebus, yang belum diubahkan, atau disempurnakan Tuhan, mungkinkah engkau berkenan di hati Tuhan? Bagimu, engkau yang masih berada dalam diri manusia yang lama, memang benar bahwa engkau diselamatkan oleh Yesus, dan engkau tidak terhitung sebagai orang berdosa karena penyelamatan Tuhan, tetapi hal ini tidak berarti bahwa engkau tidak berdosa, dan tidak najis. Bagaimana mungkin engkau bisa kudus jika engkau belum diubahkan? Di dalam dirimu, engkau dipenuhi dengan kenajisan, egois dan kasar, tetapi engkau masih berharap untuk dapat turun bersama Yesus—enak sekali kau! Engkau melewatkan satu tahap dalam kepercayaanmu kepada Tuhan: engkau baru hanya ditebus, tetapi belum diubahkan. Agar engkau dapat berkenan di hati Tuhan, Tuhan harus langsung melakukan pekerjaan pengubahan dan pembersihan terhadapmu. Jika engkau hanya ditebus, engkau tidak akan dapat mencapai kekudusan. Dengan begini, engkau tidak akan layak mendapat bagian dalam berkat-berkat Tuhan yang baik, sebab engkau melewatkan satu tahap dalam pekerjaan Tuhan dalam mengelola manusia, yaitu tahap kunci berupa pengubahan dan penyempurnaan. Oleh karena itu, engkau, seorang berdosa yang baru ditebus saja, tidak dapat langsung menerima warisan Tuhan” (“Mengenai Sebutan dan Identitas” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Membaca firman ini dan kemudian merenungkan apa yang disampaikan oleh Saudara Zheng kepadaku, tiba-tiba semuanya menjadi jelas bagiku. Ternyata Tuhan Yesus hanya melakukan pekerjaan penebusan umat manusia, dengan demikian memungkinkan dosa-dosa kita diampuni dan kita diselamatkan melalui kepercayaan kita; yang belum dilakukan-Nya adalah pekerjaan untuk mentahirkan dan mengubah manusia sepenuhnya. Meskipun Tuhan mengampuni dosa-dosa kita, Dia tidak membebaskan kita dari natur jahat kita, dan watak rusak di dalam diri kita tetap ada, seperti kecongkakan, keegoisan, kecurangan, dan kejahatan. Hal-hal ini lebih dalam dan lebih degil daripada dosa, dan kecuali natur jahat yang menentang Tuhan dan watak rusak ini diselesaikan, kita akan terus tanpa sadar melakukan dosa dan menentang Tuhan. Ini membuatku berpikir tentang bagaimana kita selalu hidup dalam dosa. Contohnya, dalam transaksi kita dengan orang lain, kita selalu ingin mengambil keuntungan dari mereka dan sama sekali tidak mau rugi; ketika kita melihat orang lain yang lebih baik daripada kita, kita sering mengungkapkan watak rusak kita berupa perasaan iri hati dan ketidaktaatan; kita tidak mengatakan apa pun ketika seseorang tidak menyenangkan kita, tetapi hati kita jadi dipenuhi dengan kebencian terhadap mereka; ketika Tuhan memberi anugerah kepada kita, kita merasa bahagia, tetapi ketika Dia tidak memberi anugerah kepada kita, kita menyalahkan Dia, sedemikian rupa sehingga ketika bencana alam atau bencana akibat perbuatan manusia terjadi, banyak pemahaman muncul dalam diri kita tentang Tuhan, dan dalam kasus-kasus serius, kita bahkan dapat menyangkal dan mengkhianati Tuhan …. Setiap hari, kita hidup dalam lingkaran setan berbuat dosa, mengaku dosa, dan kemudian kembali berbuat dosa, seperti yang dikatakan Rasul Paulus: “Karena aku tahu, bahwa di dalam aku (yaitu, di dalam dagingku), tidak ada hal yang baik, karena dalam diriku ada kehendak; tetapi aku tidak mendapati cara berbuat apa yang baik” (Roma 7:18). Jika Tuhan sendiri tidak datang untuk melakukan pekerjaan mentahirkan dan mengubah manusia, maka tak seorang pun dari kita yang akan mampu melepaskan ikatan dan kekangan dosa, kita akan dikalahkan oleh dosa, kita akan mengikuti tren jahat dunia, mengingini kesenangan dosa, dan tidak ada yang kita hidupi akan memiliki kemanusiaan yang normal sedikit pun. Bahkan orang-orang yang percaya kepada Tuhan sepanjang hidup mereka, atau para pemimpin agama yang mengetahui Alkitab dengan baik dan yang memiliki pengetahuan yang luas dalam ayat-ayat, mereka pun seperti ini—tak seorang pun dari mereka mampu melepaskan ikatan dosa. Jadi, bahkan jika dosa kita dapat diampuni ribuan kali, sepuluh ribuan kali, kita tetap tidak akan memenuhi syarat untuk masuk ke dalam kerajaan surga.

Syukur kepada Tuhan! Firman ini sangat berharga dan telah menyelesaikan masalah yang telah begitu lama membingungkanku ini. Jadi bagaimana sebenarnya kita dapat menyingkirkan dosa? Apakah buku ini punya sebuah jalan untuk melakukan ini? Aku harus terus membaca …

Kamis, 16 Agustus 2018. Mendung berubah cerah.

Di sore hari, matahari tetap dapat bersinar dari balik awan tebal. Aku sedang duduk di perpustakaanku sambil terus membaca buku itu.

Aku bersyukur atas pencerahan dan bimbingan Tuhan! Di dalam buku ini, aku telah menemukan jalan untuk melepaskan ikatan dosa: “Dosa manusia diampuni karena pekerjaan penyaliban Tuhan, tetapi manusia tetap hidup dalam watak lama Iblis yang rusak. Dengan demikian, manusia harus sepenuhnya diselamatkan dari watak rusak Iblis sehingga sifat dosa manusia sepenuhnya dibuang dan tidak akan pernah lagi berkembang, sehingga memungkinkan watak manusia berubah. Hal ini mengharuskan manusia memahami jalan pertumbuhan dalam kehidupan, jalan hidup, dan cara untuk mengubah wataknya. Hal ini juga mengharuskan manusia untuk bertindak sesuai dengan jalan ini sehingga watak manusia dapat secara bertahap diubahkan dan ia dapat hidup di bawah cahaya terang, sehingga segala sesuatu yang ia lakukan sesuai dengan kehendak Tuhan, sehingga ia dapat membuang watak rusak Iblisnya, dan supaya dia dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kegelapan Iblis, sehingga ia pun benar-benar lepas dari dosa. Hanya dengan begitu, manusia akan menerima keselamatan yang lengkap” (“Misteri Inkarnasi (4)” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). “Menyelamatkan manusia sepenuhnya dari pengaruh Iblis tidak hanya membuat Yesus harus menanggung dosa manusia sebagai korban penghapus dosa, tetapi juga membuat Tuhan wajib melakukan pekerjaan yang lebih besar untuk melepaskan manusia dari wataknya yang telah dirusak Iblis. Jadi, setelah dosa manusia diampuni, Tuhan kembali menjadi daging untuk memimpin manusia memasuki zaman yang baru. Tuhan memulai melakukan hajaran dan penghakiman, dan pekerjaan ini telah membawa manusia ke dalam alam yang lebih tinggi. Semua orang yang tunduk di bawah kekuasaan-Nya akan menikmati kebenaran yang lebih tinggi dan menerima berkat yang lebih besar. Mereka benar-benar hidup dalam terang dan akan mendapatkan kebenaran, jalan, dan hidup” (Kata Pengantar, Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia).

Ketika membaca dua bagian ini, tiba-tiba aku mengerti: ternyata, jika kita ingin melepaskan ikatan dan kekangan watak kita yang jahat dan rusak, kita harus menerima pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman dan kemudian watak kita yang rusak dapat diubah dan ditahirkan, dan baru pada saat itulah kita akan memenuhi syarat untuk melihat wajah Tuhan, memperoleh keselamatan Tuhan yang sempurna, dan hidup selamanya dalam kerajaan Tuhan. Aku mau tak mau teringat dengan sesuatu yang Tuhan Yesus katakan: “Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu” (Yohanes 16:12–13). Dan nubuat-nubuat dalam Alkitab ini juga muncul di benakku: “Karena waktunya akan datang penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan” (1 Petrus 4:17). “Yang dijaga oleh kuasa Tuhan oleh iman kepada keselamatan yang siap untuk dinyatakan pada akhir zaman” (1 Petrus 1: 5). Sebenarnya, Tuhan Yesus telah sejak lama menubuatkan bahwa Dia akan datang kembali pada akhir zaman dan akan melakukan pekerjaan penghakiman-Nya agar dapat sepenuhnya mentahirkan dan mengubah watak kita yang rusak, dan memungkinkan kita untuk mendapatkan semua kebenaran dan memperoleh keselamatan Tuhan yang sempurna. Namun aku begitu bodoh dan buta; aku tidak berupaya untuk merenungkan atau mencari kehendak Tuhan di dalam firman-Nya, melainkan aku berpegang pada pemahaman dan imajinasiku sendiri, percaya bahwa Tuhan Yesus telah menanggung semua dosa kita, bahwa dosa-dosa kita telah diampuni, dan asalkan kita menyerahkan segalanya untuk mengikuti Tuhan, kita akan dapat masuk ke dalam kerajaan surga. Sekarang tampaknya jika masalah berbuat dosa kita tidak diselesaikan, dengan tubuh kita yang penuh dengan kekotoran dan kerusakan, pada akhirnya kita tidak akan dapat masuk ke dalam kerajaan surga, sama seperti yang dikatakan dalam buku ini: “Engkau harus tahu orang-orang semacam apa yang Aku inginkan. Orang yang tidak murni tidak diizinkan masuk ke dalam kerajaan. Orang-orang yang tidak murni tidak diizinkan mencemarkan tanah yang kudus. Meskipun engkau mungkin sudah melakukan banyak pekerjaan, dan telah bekerja selama bertahun-tahun, pada akhirnya, jika engkau masih tetap kotor dan menyedihkan—menurut hukum Surga tidak dapat dibenarkan engkau berharap dapat masuk ke dalam kerajaan-Ku! Semenjak dunia dijadikan sampai saat ini, tak pernah Aku memberi jalan masuk yang mudah bagi orang-orang yang menjilat untuk mendapatkan perkenanan-Ku. Inilah peraturan surga, dan tak seorang pun dapat melanggarnya!” (“Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada Jalan yang Dijalani Manusia” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Firman ini memiliki otoritas dan kuasa, dan aku mengerti bahwa Tuhan itu pengasih dan penyayang, namun Dia juga adalah Tuhan itu sendiri yang benar dan kudus. Tuhan tidak mengizinkan manusia yang kotor dan rusak untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya, dan jika natur dosa kita tidak ditahirkan dan diubah, bahkan jika dosa-dosa kita telah diampuni, dan secara lahiriah kita tampaknya melakukan beberapa perbuatan baik dan kita menyerahkan segalanya, mengorbankan diri kita dan bekerja untuk Tuhan, impian kita untuk masuk ke dalam kerajaan surga hanya akan selamanya menjadi sebuah mimpi!

Awan benar-benar telah berlalu dan sekarang aku melihat sinar matahari! Akhirnya sekarang aku mengerti bahwa kita yang telah memperoleh keselamatan Tuhan hanya telah diampuni dari dosa-dosa kita dan telah ditebus, tetapi kita belum membebaskan diri kita dari dosa. Kita masih harus menerima pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman dan ditahirkan, dan baru pada saat itulah kita akan memenuhi syarat untuk masuk ke dalam kerajaan surga dan memperoleh hidup yang kekal. Ini dengan tepat menggenapi apa yang dinubuatkan dalam Kitab Wahyu: “Dan sekali-kali tidak akan masuk ke sana segala sesuatu yang mencemarkan, siapa pun yang melakukan kekejian, atau berdusta, melainkan hanya mereka yang tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba” (Wahyu 21:27). Syukur kepada Tuhan, karena akhirnya aku tahu cara membebaskan diriku dari dosa!

Renungan Harian

Apa Arti Pengangkatan Menurut Alkitab? Bagaimana Kita Akan Diangkat Sebelum Kesengsaraan Besar?

Oleh Saudari Becky, U.S.A.

Sekarang, bencana di seluruh dunia menjadi semakin parah. Berita dipenuhi dengan kisah-kisah tentang wabah, gempa bumi, banjir, dan kekeringan. Pernahkah engkau merenung: nubuat-nubuat tentang kedatangan Tuhan kembali telah digenapi, jadi mengapa kita masih belum menyambut Tuhan? Jika ini terus berlanjut, saat kesengsaraan besar tiba, bukankah kita juga akan jatuh ke dalam bencana? Kapan Tuhan akan membawa kita masuk ke dalam kerajaan surga?

Saat Kita Diangkat, Apakah Kita Benar-Benar Akan Diangkat ke Angkasa?

Banyak orang yang percaya kepada Tuhan telah membaca firman ini di dalam Alkitab: “Lalu kita yang masih hidup, dan masih tinggal akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan-awan, berjumpa dengan Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan bersama-sama dengan Tuhan selamanya” (1 Tesalonika 4:17). Mereka rindu untuk diangkat ke angkasa dan bertemu dengan Tuhan ketika Dia datang. Namun kenyataannya, perkataan ini sebenarnya bukan diucapkan oleh Tuhan Yesus, juga bukan sebuah nubuat dari Kitab Wahyu. Itu tidak lain hanyalah perkataan Rasul Paulus. Apakah tepat mengandalkan perkataan Paulus dalam hal menyambut kedatangan Tuhan? Bisakah perkataan Paulus mewakili firman Tuhan? Cara Tuhan akhir zaman datang, dan cara Dia membawa mereka yang percaya kepada-Nya masuk ke dalam kerajaan surga adalah pekerjaan Tuhan sendiri. Paulus hanyalah seorang rasul yang menyampaikan pesan bagi Tuhan; bagaimana mungkin dia bisa mengetahui hal-hal seperti itu? Menyambut kedatangan Tuhan adalah masalah yang sangat penting, sesuatu yang harus mengandalkan firman Tuhan Yesus untuk kita bisa menjadi akurat. Tuhan Yesus berkata: “Bapa kami yang di surga, dimuliakanlah nama-Mu. Kerajaan-Mu datanglah, kehendak-Mu terjadilah di bumi, seperti di surga” (Matius 6:9–10). Kitab Wahyu juga berisi nubuat-nubuat berikut ini: “Dan aku, Yohanes, melihat kota yang kudus, Yerusalem Baru, yang turun dari Tuhan dari surga… Dan aku mendengar suara nyaring dari surga berkata: Lihatlah Bait Suci Tuhan ada bersama manusia, dan Dia akan tinggal bersama mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya dan Tuhan sendiri akan ada bersama mereka, menjadi Tuhan mereka” (Wahyu) 21:2–3). “Kerajaan-kerajaan di dunia ini menjadi milik Tuhan kita, dan Kristus-Nya; dan Dia akan memerintah sampai selama-selamanya” (Wahyu 11:15). Dalam nubuat-nubuat ini, kata-kata “turun dari Tuhan dari surga,” “Bait Suci Tuhan ada bersama manusia,” dan “Kerajaan-kerajaan di dunia ini menjadi milik Tuhan kita, dan Kristus-Nya,” menunjukkan bahwa Tuhan akan mendirikan kerajaan-Nya di bumi, dan tempat tujuan yang telah Dia atur bagi manusia juga berada di bumi. Bukankah itu berarti keinginan kita yang terus-menerus untuk diangkat masuk ke dalam surga berasal dari gagasan dan imajinasi kita sendiri? Dan bukankah ini berjalan di jalan yang berbeda dari Tuhan?

Kenyataannya adalah Tuhan tidak pernah berbicara tentang mengangkat orang ke angkasa, dan ini adalah sesuatu yang dapat kita kenali dari fakta-fakta pekerjaan Tuhan. Pada mulanya, Tuhan menciptakan manusia dari debu tanah dan menempatkannya di Taman Eden, tempat dia tinggal dan menyembah Tuhan dengan benar. Pada zaman Nuh, Tuhan juga tidak mengangkat Nuh dan keluarganya ke angkasa untuk menghindari banjir; sebaliknya, Dia memerintahkan Nuh untuk mengambil tindakan praktis, yaitu membangun sebuah bahtera di bumi. Di akhir Zaman Hukum Taurat, manusia menghadapi bahaya dihukum mati karena melanggar hukum-hukum Tuhan. Tuhan tidak mengangkat mereka ke angkasa untuk mendapatkan korban penghapus dosa, melainkan secara pribadi menjadi manusia dan datang ke bumi, di mana Dia benar-benar disalibkan bagi umat manusia, membebaskan manusia dari dosa. Dari sini kita dapat memahami bahwa Tuhan terus bekerja di bumi demi keselamatan manusia, membimbing manusia dalam menjalani kehidupan dan menyembah Tuhan. Kerinduan kita yang terus-menerus untuk diangkat ke angkasa jelas bertentangan dengan kehendak Tuhan!

Apa yang Dimaksud Dengan Pengangkatan Sebelum Kesengsaraan Besar?

Beberapa darimu mungkin tidak jelas tentang apa yang dimaksud dengan “diangkat.” Untuk memahami hal ini, marilah kita terlebih dahulu membaca apa yang dikatakan firman Tuhan. Tuhan berkata: “‘Diangkat’ bukan diambil dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi seperti yang orang bayangkan. Ini kesalahan yang besar. Diangkat mengacu pada penentuan-Ku sejak semula dan pemilihan-Ku. Ini ditujukan kepada semua orang yang telah Kutentukan sejak semula dan Kupilih. Mereka yang telah mendapatkan status sebagai anak sulung, status sebagai anak-anak, atau umat adalah mereka semua yang telah diangkat. Ini adalah yang paling tidak sesuai dengan pemahaman manusia. Mereka yang berbagian di rumah-Ku di masa depan adalah semua orang yang telah diangkat di hadapan-Ku. Ini sepenuhnya benar, tidak akan pernah berubah, dan tidak dapat dibantah oleh siapa pun. Ini adalah serangan balik terhadap Iblis. Siapa pun yang telah Kutentukan dari semula akan diangkat di hadapan-Ku” (“Bab 104, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Firman ini memberi tahu kita bahwa diangkat artinya bukan dibawa ke angkasa untuk bertemu Tuhan seperti yang kita bayangkan; sebagai gantinya, itu berarti dapat menerima dan menaati pekerjaan baru Tuhan setelah mendengar suara-Nya, mengikuti jejak langkah Anak Domba dengan saksama, dan datang ke hadapan Tuhan ketika Dia datang ke bumi dan melakukan pekerjaan-Nya. Inilah satu-satunya arti pengangkatan yang sejati. Sama seperti saat Tuhan Yesus datang untuk melakukan pekerjaan penebusan: Petrus, perempuan Samaria, Yakobus, dan yang lainnya mengenali suara Tuhan ketika mereka mendengar perkataan-Nya dan berketetapan bahwa Dia adalah Mesias yang telah datang. Sebagai hasilnya, mereka menerima keselamatan Tuhan dan semuanya dibangkitkan di hadapan Tuhan selama Zaman Kasih Karunia. Semua manusia yang pada akhir zaman menyambut kedatangan Tuhan kembali dan menerima pekerjaan Tuhan sekarang ini adalah mereka yang mengikuti jejak langkah Anak Domba, dan yang dibangkitkan di hadapan Tuhan!

Cara untuk Diangkat Sebelum Kesengsaraan Besar

Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk menyambut Tuhan dan diangkat sebelum bencana? Ini telah dinubuatkan sejak lama di dalam Alkitab, ketika Tuhan Yesus berkata: “Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu” (Yohanes 16:12-13). Pasal 2 dan 3 dari Kitab Wahyu menubuatkan beberapa kali: “Barang siapa memiliki telinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang diucapkan Roh kepada gereja-gereja.” Ada juga pasal 3, ayat 20: “Lihatlah, Aku berdiri di pintu dan mengetuk: kalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membuka pintu itu, Aku akan datang masuk kepadanya, dan bersantap dengannya, dia bersama-Ku.” Firman Tuhan berkata: “Kita sedang mencari jejak langkah Tuhan. Kita tidak sedang mencari tokoh rohani, apalagi mengejar tokoh ternama, melainkan sedang mengejar jejak langkah Tuhan. Oleh karena inilah, berhubung kita sedang mencari jejak langkah Tuhan, maka kita pun harus mencari kehendak Tuhan, firman Tuhan, perkataan Tuhan—sebab, di mana pun ada firman baru yang diucapkan Tuhan, suara Tuhan ada di sana, dan di mana pun ada langkah kaki Tuhan, perbuatan Tuhan juga ada di sana. Di mana pun ada pengungkapan Tuhan, di sanalah Tuhan menampakkan diri, dan di mana pun Tuhan menampakkan diri, di situlah kebenaran, dan jalan, dan hidup ada” (“Penampakan Tuhan Telah Mengantarkan Zaman yang Baru” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Firman Tuhan memberi tahu kita bahwa jika kita ingin menyambut Tuhan, menyelidiki pekerjaan dan Firman Tuhan adalah kuncinya. Tidak ada yang lebih penting daripada mencari di mana perkataan Roh Kudus kepada gereja-gereja sekarang ini, dan di mana penampakan dan pekerjaan Tuhan sekarang ini. Jika kita tidak berinisiatif atau secara aktif mencari jejak kaki Tuhan, jika kita tidak menganggap penting untuk mendengar suara Tuhan, melainkan secara pasif menatap awan di angkasa, hanya diam saja menunggu Tuhan untuk datang dan mengangkat kita ke angkasa, bukankah pikiran seperti itu adalah khayalan? Dan kemudian bukankah itu berarti kita akan selamanya tidak mampu menyambut Tuhan, yang pada akhirnya menyia-nyiakan kesempatan untuk diangkat oleh-Nya?

Jadi di manakah jejak kaki Tuhan? Dan di manakah Tuhan mengucapkan firman-Nya? Sekarang, hanya Gereja Tuhan Yang Mahakuasa yang secara terbuka menjadi saksi bagi umat manusia bahwa Tuhan telah datang kembali: yaitu, Tuhan yang berinkarnasi pada akhir zaman, Tuhan Yang Mahakuasa. Tuhan Yang Mahakuasa telah mengungkapkan jutaan firman, menyingkapkan banyak kebenaran dan misteri, serta menyingkapkan bagi kita rencana pengelolaan Tuhan selama enam ribu tahun, misteri inkarnasi, dan misteri Alkitab. Demikian juga, Dia telah mengungkapkan firman untuk menghakimi dan menelanjangi manusia, dan menyingkapkan fakta sebenarnya dari kerusakan kita di tangan Iblis dan berbagai watak jahat kita. Dengan menerima penghakiman dan hajaran firman Tuhan, kita melihat kerusakan diri kita sendiri, dan melihat bahwa segala sesuatu yang kita singkapkan adalah watak jahat dari kecongkakan, keegoisan, ketidakpedulian, pengkhianatan, dan kelicikan, dan bahwa kita tidak memiliki hati nurani dan nalar. Kita telah benar-benar diyakinkan oleh firman Tuhan, kita bersujud di hadapan Tuhan, diliputi dengan penyesalan, dan kita memiliki beberapa pengetahuan tentang watak Tuhan yang adil dan kudus; di dalam diri kita lahir hati yang penuh hormat dan ketaatan kepada Tuhan, dan kita menegaskan dari dalam hati kita bahwa semua yang diungkapkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa adalah kebenaran, dan mampu mentahirkan serta mengubah manusia.

Sekarang, Firman Tuhan Yang Mahakuasa sedang menyebar di antara manusia. Banyak orang dari berbagai denominasi Kristen yang adalah orang percaya sejati dan sungguh-sungguh mencintai kebenaran telah mendengar suara Tuhan, dibangunkan oleh firman Tuhan, dan kembali ke hadapan takhta-Nya. Mereka menikmati penyiraman dan makanan dari firman-Nya, dan merasakan betapa otoritatif dan sangat berkuasanya firman ini, mereka telah berketetapan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali. Mereka adalah orang-orang yang diangkat sebelum kesengsaraan besar! Marilah kita membaca satu bagian dari firman Tuhan Yang Mahakuasa: “Suara-Ku akan menyebar ke seluruh bumi; Ketika melihat umat pilihan-Ku, Aku ingin berbicara lebih banyak kepada mereka. Seperti guruh hebat yang menggoncangkan gunung-gunung dan sungai-sungai, Aku mengucapkan firman-Ku kepada seluruh alam semesta dan umat manusia. Oleh karena itulah, firman yang keluar dari mulut-Ku telah menjadi kekayaan manusia, dan semua manusia menghargai firman-Ku. Kilat memancar dari Timur terus sampai ke Barat. Firman-Ku begitu berharga sampai-sampai manusia enggan melepaskannya dan pada saat yang sama mendapati bahwa firman itu tak terselami, tetapi semakin bersuka di dalamnya. Seperti bayi yang baru lahir, semua orang bergembira dan bersukacita, merayakan kedatangan-Ku. Dengan suara-Ku, Aku akan membawa semua manusia ke hadapan-Ku. Sejak saat itu, Aku resmi masuk ke dalam ras manusia supaya mereka datang menyembah-Ku. Dengan kemuliaan yang Aku pancarkan dan firman dalam mulut-Ku, Aku akan menjadikannya sedemikian rupa sehingga semua manusia datang ke hadapan-Ku dan melihat kilat yang menyambar dari Timur dan melihat bahwa Aku juga telah turun ke ‘Bukit Zaitun’ di Timur. Mereka akan melihat bahwa Aku sudah lama ada di bumi, bukan lagi sebagai Anak Orang Yahudi, tetapi sebagai Kilat dari Timur. Karena Aku telah lama bangkit, dan telah beranjak dari tengah-tengah umat manusia, lalu menampakkan diri lagi dengan kemuliaan di antara manusia. Akulah Dia yang disembah berabad-abad lamanya sebelum saat ini, dan Aku juga bayi yang ditelantarkan orang Israel berabad-abad sebelum saat ini. Terlebih lagi, Akulah Tuhan Yang Mahakuasa dan penuh kemuliaan di zaman sekarang ini! Biarlah semua orang datang ke hadapan takhta-Ku dan melihat wajah kemuliaan-Ku, mendengar suara-Ku, dan memandang pada perbuatan-perbuatan-Ku. Inilah keseluruhan kehendak-Ku. Inilah akhir dan puncak rencana-Ku, dan juga tujuan pengelolaan-Ku. Biarlah setiap bangsa menyembah-Ku, setiap lidah mengakui Aku, setiap manusia memercayai-Ku, dan setiap umat tunduk kepada-Ku!” (“Deru Tujuh Guruh—Menubuatkan Bahwa Injil Kerajaan Akan Tersebar ke Seluruh Alam Semesta” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Apa yang engkau rasakan setelah membaca bagian dari Firman Tuhan ini? Apakah tidak ada kegembiraan di dalam hatimu? Apakah engkau merasa bahwa firman adalah perkataan Sang Pencipta yang berbicara kepada seluruh umat manusia? Apakah engkau merasa bahwa Tuhan sekarang sedang bersaksi kepada kita bahwa Dia telah datang kembali? Apa pun yang mungkin engkau rasakan, kita memiliki tugas yang mendesak di hadapan kita: kita harus menjadi gadis bijaksana, mendengarkan firman yang diucapkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa, dan menyelidiki pekerjaan-Nya pada akhir zaman dengan pikiran terbuka. Tidak ada jalan lain untuk diangkat sebelum kesengsaraan besar!

Catatan Editor: Di masa seperti ini ketika dunia dilanda bencana, banyak orang yang ingin menyambut kedatangan Tuhan kembali untuk diangkat sebelum kesengsaraan besar untuk mengikuti perjamuan dengan Tuhan dan untuk menerima pemeliharaan dan perlindungan-Nya. Bukankah membaca tulisan ini menunjukkan kepada Anda jalan untuk diangkat sebelum kesengsaraan besar? Saya berharap Anda akan membagikan tulisan ini dengan saudara-saudari lainnya sehingga lebih banyak orang dapat segera diangkat dan menyambut Tuhan. Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan hubungi kami. Kami akan menjawab Anda sesegera mungkin.

Misteri Alkitab

Apakah Diselamatkan Berarti Menerima Keselamatan Penuh?

Oleh Xiaorui, Tiongkok

Mengenai keselamatan, banyak saudara-saudari mengatakan dengan percaya diri, “Alkitab menyatakan: ‘Karena itu jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya di dalam hatimu bahwa Tuhan telah membangkitkan Dia dari kematian, engkau akan diselamatkan. Sebab dengan hati, orang percaya kepada kebenaran; dan dengan mulut, pengakuan kepada keselamatan dibuat’ (Roma 10:9–10). Kita telah menerima keselamatan pada kayu salib Tuhan Yesus dan jika kita hanya percaya dalam hati kita dan mengakui dosa kita dengan mulut, kita akan diampuni—kita sudah diselamatkan, jadi kita mendapatkan keselamatan penuh dan ketika Tuhan datang, kita pasti akan memasuki kerajaan surga.” Apakah sudut pandang kita ini benar? Apakah diampuninya dosa-dosa kita dan diselamatkan benar-benar berarti kita mendapatkan keselamatan penuh? Kita benar-benar perlu membahas masalah ini dengan jelas, karena ini berkaitan langsung dengan masuknya kita ke kerajaan surga, sebuah masalah besar.
SalibPertama, kita perlu mengakui kenyataan bahwa kita tak dapat disangkal lagi telah menerima penebusan Tuhan Yesus. Namun, sudahkah sifat dosa kita berubah? Apakah Tuhan mengampuni dosa-dosa kita berarti bahwa kita sekarang disucikan? Bagi kita, jika kita melihat diri sendiri dan bagaimana sebagian besar saudara-saudari di sekitar kita menjalani kehidupan mereka, kita melihat bahwa sebagian besar dari kita mengikuti cara-cara dunia; ketika kita menghadapi suatu masalah, kita tidak memiliki toleransi dan kesabaran, dan tidak mampu menerapkan firman Tuhan. Kita menjalani kehidupan lama kita dengan berbuat dosa pada siang hari dan mengaku dosa pada malam hari. Bisakah kita yang sangat sering berdosa benar-benar diselamatkan? Akankah kita benar-benar masuk ke kerajaan surga di masa depan? Dalam Alkitab, telah tercatat: “Yesus menjawab mereka, Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, siapa saja yang melakukan dosa adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tinggal di rumah selamanya: tetapi Anak tetap tinggal selama-selamanya” (Yohanes 8:34–35). “For I am Jehovah your God: you shall therefore sanctify yourselves, and you shall be holy; for I am holy” (Leviticus 11:44). “Kekudusan, tidak ada manusia yang bisa melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Dari ayat-ayat ini kita melihat bahwa Tuhan itu kudus, kerajaan-Nya kudus dan Tuhan tidak akan memperkenankan orang-orang kotor memasuki kerajaan-Nya. Meskipun dosa-dosa kita telah diampuni, sifat berdosa kita masih ada di dalam diri kita dan kita tidak bebas dari belenggu dosa. Kita hidup dalam lingkaran setan berupa berdosa dan mengaku dosa dan tidak disucikan sama sekali. Sering berdosa membuat kita menjadi hamba dosa. Bagaimana mungkin seorang hamba dosa memasuki kerajaan Tuhan? Oleh karena itu, pendapat bahwa diampuninya dosa-dosa kita berarti memperoleh keselamatan penuh dan memasuki kerajaan surga tidak berlaku.

Apa artinya “diselamatkan” dalam hal ini? Kita semua tahu bahwa di bawah Zaman Hukum Taurat, Tuhan mengeluarkan hukum dan perintah-perintah melalui Musa untuk memimpin bangsa Israel dalam kehidupan mereka di bumi. Pada masa itu, bangsa Israel hanya harus mematuhi hukum dan perintah dan mereka tidak akan dihukum. Setiap pelanggar harus mempersembahkan korban untuk menebus dosa mereka, atau mereka akan dihukum. Oleh karena itu, orang-orang pada masa itu sangat patuh dengan hukum dan tidak ada yang berani melanggarnya. Menjelang akhir Zaman Hukum Taurat, orang-orang semakin banyak berbuat dosa seiring kerusakan mereka oleh Iblis tumbuh semakin dalam. Tidak ada lagi korban yang cukup untuk menebus dosa-dosa mereka dan semua orang berisiko dihukum mati sesuai dengan hukum. Tuhan tidak tahan melihat orang-orang yang telah Dia ciptakan dilahap oleh Iblis, sehingga Tuhan menjadi manusia dan datang ke bumi untuk bertindak sebagai korban penghapus dosa dengan dipaku pada kayu salib, dengan demikian menyelamatkan manusia dari hidup di bawah hukum Taurat. Sejak saat itu, jika kita hanya percaya kepada Tuhan Yesus, dosa kita bisa diampuni. Kita tidak lagi menderita kutukan karena gagal menegakkan hukum; artinya, kita diselamatkan oleh penebusan Tuhan. Maka jelaslah bahwa “diselamatkan” adalah kita percaya kepada Tuhan Yesus, diampuni dari dosa-dosa kita dengan bertobat di hadapan Tuhan, dan tidak lagi dihukum mati oleh hukum Taurat. Bukan hanya itu, tetapi itu juga berarti bisa menikmati kedamaian, sukacita, dan kasih karunia berlimpah yang diberikan kepada kita oleh Tuhan Yesus. Inilah yang biasa kita sebut sebagai makna sebenarnya dari “diselamatkan” oleh iman.

Mari kita baca bersama beberapa bagian: “Orang berdosa sepertimu, yang baru saja ditebus, yang belum diubahkan, atau disempurnakan Tuhan, mungkinkah engkau berkenan di hati Tuhan? Bagimu, engkau yang masih berada dalam diri manusia yang lama, memang benar bahwa engkau diselamatkan oleh Yesus, dan engkau tidak terhitung sebagai orang berdosa karena penyelamatan Tuhan, tetapi hal ini tidak berarti bahwa engkau tidak berdosa, dan tidak najis. Bagaimana mungkin engkau bisa kudus jika engkau belum diubahkan? Di dalam dirimu, engkau dipenuhi dengan kenajisan, egois dan kasar, tetapi engkau masih berharap untuk dapat turun bersama Yesus—enak sekali kau! Engkau melewatkan satu tahap dalam kepercayaanmu kepada Tuhan: engkau baru hanya ditebus, tetapi belum diubahkan. Agar engkau dapat berkenan di hati Tuhan, Tuhan harus langsung melakukan pekerjaan pengubahan dan pembersihan terhadapmu. Jika engkau hanya ditebus, engkau tidak akan dapat mencapai kekudusan. Dengan begini, engkau tidak akan layak mendapat bagian dalam berkat-berkat Tuhan yang baik, sebab engkau melewatkan satu tahap dalam pekerjaan Tuhan dalam mengelola manusia, yaitu tahap kunci berupa pengubahan dan penyempurnaan. Oleh karena itu, engkau, seorang berdosa yang baru ditebus saja, tidak dapat langsung menerima warisan Tuhan.”

“Dosa manusia diampuni melalui Tuhan yang berinkarnasi, namun bukan berarti manusia tidak lagi memiliki dosa dalam dirinya. Dosa manusia dapat diampuni melalui korban penghapusan dosa, tetapi manusia belum mampu menyelesaikan masalah bagaimana ia dapat untuk tidak lagi berbuat dosa dan bagaimana agar sifat dosanya dapat dibuang sepenuhnya dan diubahkan. Dosa manusia diampuni karena pekerjaan penyaliban Tuhan, tetapi manusia tetap hidup dalam watak lama Iblis yang rusak. Dengan demikian, manusia harus sepenuhnya diselamatkan dari watak rusak Iblis sehingga sifat dosa manusia sepenuhnya dibuang dan tidak akan pernah lagi berkembang, sehingga memungkinkan watak manusia berubah.”

Dari dua bagian ini, kita dapat melihat bahwa kita memang diselamatkan oleh pekerjaan penebusan Tuhan Yesus, tetapi keselamatan ini hanya berarti dosa-dosa kita diampuni. Itu tidak berarti kita bebas dari belenggu dan kendali dosa. Karena sifat dosa kita masih ada, kita sering melawan ajaran Tuhan dan mengikuti keinginan daging dan melakukan dosa. Persis seperti yang pernah dikatakan oleh Paulus: “Karena dalam diriku ada kehendak; tetapi aku tidak mendapati cara berbuat apa yang baik. Karena apa yang baik yang aku mau tidak aku lakukan: tetapi yang jahat yang aku tidak mau, itu yang aku lakukan. Jadi jika aku melakukan hal yang tidak kukehendaki, maka bukan aku lagi yang melakukannya, melainkan dosa yang diam di dalam diriku” (Roma 7:18–20). Perkataan Paulus menyampaikan suara hati setiap saudara-saudari. Kita sering dikuasai oleh dosa, mewujudkan segala macam watak Iblis yang rusak. Misalnya, Tuhan menuntut kita untuk menjadi orang yang jujur, tetapi kita sering berdusta, menipu, dan berbuat curang demi keuntungan kita sendiri. Dalam hubungan antarpribadi, kita saling bersekongkol demi keuntungan pribadi. Ketika kita menderita melalui pencobaan, kita masih salah paham dan menyalahkan Tuhan, bahkan menjauhkan diri kita dari-Nya atau mengkhianati-Nya. Ketika pekerjaan Tuhan tidak sesuai dengan gagasan kita, kita menghakimi dan mengutuk Tuhan sesuka hati. Kita mengikuti Tuhan tetapi pada saat bersamaan mengikuti dan memuja manusia …. Sulit untuk membebaskan diri kita dari lingkaran setan ini dan kemudian mengaku dosa. Kita tidak pernah dapat membebaskan diri dari belenggu dosa, kita juga tidak dapat benar-benar tunduk kepada Tuhan dan menjadi sesuai dengan-Nya. Bagaimana ini bisa disebut keselamatan penuh?

Apakah kita masih punya harapan untuk mencapai keselamatan penuh dan memasuki kerajaan Tuhan? Sebenarnya ada beberapa ayat dalam Alkitab yang telah mengungkapkan hal ini kepada kita. Mari kita lihat. Tercatat dalam Alkitab bahwa: “Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu” (Yohanes 16:12-13). “Dia yang menolak Aku dan tidak menerima firman-Ku, sudah ada yang menghakiminya: firman yang Aku nyatakan, itulah yang akan menghakiminya di akhir zaman” (Yohanes 12:48). “Yang dijaga oleh kuasa Tuhan oleh iman kepada keselamatan yang siap untuk dinyatakan pada akhir zaman” (1 Petrus 1:5). “Lihatlah, Sang Hakim berdiri di ambang pintu” (James 5:9). Kita dapat melihat dari ayat-ayat ini bahwa Tuhan Yesus akan datang lagi pada akhir zaman dan mengungkapkan kebenaran, melakukan tahap pekerjaan untuk menghakimi dan menyucikan umat manusia, menyelamatkan kita sepenuhnya dari dosa, memperkenankan kita untuk melepaskan diri dari belenggu dosa, dan pada akhirnya membuat kita sesuai dengan Tuhan. Kita akan menjadi orang yang takut akan Tuhan dan tunduk kepada-Nya. Mencapai hasil seperti itu harus diraih melalui pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman. Hanya melalui penghakiman dan pewahyuan firman Tuhan kita dapat memahami kebenaran akan kerusakan kita oleh Iblis serta sifat dan esensi kita; baru pada saat itulah kita dapat memahami kebenaran, keagungan, dan sifat Tuhan yang tidak dapat diganggu gugat. Baru pada saat itulah kita dapat memiliki penyesalan dan pertobatan sejati, dan memiliki tekad untuk membenci daging dan meninggalkan Iblis. Kita kemudian dapat mengembangkan hati yang takut kepada Tuhan; kita dapat melepaskan diri sepenuhnya dari pengaruh jahat Iblis, berbalik sepenuhnya kepada Tuhan dan didapatkan oleh Tuhan. Saat pemahaman kita tentang kebenaran semakin dalam, kita akan semakin tunduk kepada Tuhan dan melakukan semakin banyak kebenaran. Dengan cara ini, bahkan sebelum kita sadari, kita akan sepenuhnya membuang dosa dan disucikan. Baru pada saat itulah kita dapat mencapai keselamatan penuh dan memasuki kerajaan Tuhan. Jelaslah bahwa hanya ketika kita menerima penghakiman dan hajaran dari firman Tuhan pada akhir zaman, kita dapat memahami kebenaran, mengenal Tuhan, sepenuhnya membebaskan diri dari pengaruh Iblis, dan membuang watak Iblis yang rusak. Kemudian kita bisa hidup dengan kebenaran dan dengan firman Tuhan—inilah arti sebenarnya dari keselamatan penuh. Ini mengharuskan kita untuk lebih banyak berdoa terkait penyambutan kedatangan kembali Tuhan, mencarinya dengan kerendahan hati, dan dengan penuh perhatian mengindahkan “apa yang diucapkan Roh kepada gereja-gereja.” Baru kemudian kita dapat menyambut penampakan Tuhan, mengalami pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman, dimurnikan dan diselamatkan sepenuhnya. Syukur pada Tuhan—semoga keselamatan Tuhan pada akhir zaman segera mendatangi kita!