Renungan Harian

Zaman Nuh Telah Tiba: Bagaimana Kita Bisa Menaiki Bahtera Akhir Zaman?


Apa Yang Harus Kita Simpulkan Dari Tanda-tanda munculnya Zaman Nuh?

Pemandangan ini mengingatkan kita pada zaman Nuh. Orang-orang pada zaman itu tidak begitu peduli tentang keberadaan Tuhan, mereka juga tidak menghormati Tuhan atau mengikuti ajaran-Nya. Sebaliknya, mereka melakukan segala macam perbuatan jahat yang menentang Tuhan, seperti pembunuhan, pembakaran, pencurian dan perampokan. Perzinaan telah menjadi kebiasaan bagi mereka sehingga mereka menikah berulang kali, pikiran dan tindakan mereka penuh dengan kejahatan dan kerusakan mereka telah sampai pada tahap yang tidak dapat dipandang. Akhirnya, mereka dihukum oleh Tuhan dan dihancurkan oleh air bah. Sekarang, orang-orang di dunia sama rusak dan jahat seperti orang-orang di zaman Nuh, bahkan lebih parah lagi. Dua ribu tahun yang lalu, Tuhan Yesus bernubuat: “Dan sama seperti di zaman Nuh, begitu juga kelak di hari-hari Anak Manusia. Mereka makan, minum, kawin, dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu air bah datang dan menghancurkan mereka semua. Demikian juga yang terjadi di zaman Lot: mereka makan, minum, menjual, membeli, menanam, dan membangun. Tetapi di hari yang sama Lot keluar dari Sodom, dan turunlah hujan api, dan belerang dari langit dan menghancurkan mereka semua. Demikian juga pada hari ketika Anak Manusia menampakkan diri-Nya” (Lukas 17:26-30). Firman Tuhan memberi tahu kita sesuatu yang sangat penting: Orang-orang di akhir zaman telah menjadi rusak dan jahat seperti orang-orang pada zaman Nuh, maka ia akan menjadi hari kedatangan Anak Manusia dan hari Tuhan datang kembali. Jadi bagaimana kita bisa naik ke bahtera pada akhir zaman sebelum bencana diturunkan?

Lanjutkan membaca “Zaman Nuh Telah Tiba: Bagaimana Kita Bisa Menaiki Bahtera Akhir Zaman?”
Renungan Harian

Cara Bertobat dan Tidak Berbuat Dosa Lagi: Aku Menemukan Jalan

Oleh Saudari Meng’ai, Taiwan

Catatan Editor: Saudari Meng’ai adalah orang Kristen generasi ketiga yang telah secara konsisten melayani di dalam gereja, tetapi dalam beberapa tahun terakhir dia mendapati bahwa walaupun iman dan pelayanannya teguh bagi Tuhan, dia masih terkungkung oleh ikatan dosa sampai pada titik di mana dia bahkan tidak mampu bersikap toleran atau mengampuni suaminya sendiri. Ketika dia membaca firman Tuhan yang mengatakan, “Karena itu jadilah kudus, sebab Aku ini kudus” (Imamat 11:44), dia menyadari bahwa jika dia terus berbuat dosa, dia tidak akan memenuhi syarat untuk melihat wajah Tuhan. Ini benar-benar menyusahkan baginya. Namun, sekarang dia telah menemukan jalan untuk dibebaskan dari dosa, dan hubungannya dengan suaminya juga menjadi harmonis. Bagaimana Meng’ai menemukan jalan menuju kebebasan dari dosa? Marilah kita membaca pengalamannya.


Hidup dalam Dosa, dalam Penderitaan yang Mengerikan
Aku sudah pergi ke gereja sejak aku masih kanak-kanak dan aku selalu senang bersekutu membahas firman Tuhan dengan saudara-saudari. Setelah menikah, aku dan suamiku masih menomorsatukan pekerjaan gereja, dan kami terlibat secara aktif dalam pelayanan untuk gereja, dalam hal-hal besar dan kecil.

Lanjutkan membaca “Cara Bertobat dan Tidak Berbuat Dosa Lagi: Aku Menemukan Jalan”