Oleh Joseph , Kenya
Saudara-saudari, damai sejahtera dalam Tuhan! Aku merasa sangat beruntung dapat bersekutu dengan engkau sekalian hari ini tentang pengalamanku dalam menyambut Tuhan, dan aku merasa amat tersanjung dan sangat bersyukur kepada Tuhan karena memberiku kesempatan ini.
Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga Kristen. Ibuku adalah orang percaya yang sangat saleh, dan ketika aku masih kecil, dia biasa membimbing kami membaca Alkitab dan menyanyikan lagu-lagu pujian dan membawa kami ke berbagai acara di gereja. Ketika aku tumbuh dewasa, aku meninggalkan rumah untuk bekerja dan mulai menghadiri pertemuan gereja di gereja lokal yang baru, dan setelah beberapa tahun, aku ditunjuk untuk bertanggung jawab atas gereja itu. Karena pendeta di sana tidak pernah mengkhotbahkan sesuatu yang baru, karena ia hanya selalu mengkhotbahkan cara memberikan persembahan dan tanpa pencerahan Roh Kudus, beberapa orang beriman akan tertidur sembari mendengarkan khotbah-khotbahnya, dan ada yang memutuskan untuk tidak kembali lagi karena mereka tidak mendapatkan apa pun darinya. Untuk mempertahankan orang-orang percaya, terkadang kami mengundang beberapa pengkhotbah dari gereja-gereja lain untuk menyampaikan khotbah, atau kami akan mengadakan beberapa acara. Namun metode-metode ini hanya memiliki efek sementara, dan ketika umat beriman selesai menghadiri pertemuan ibadah, mereka tidak akan datang lagi. Ada juga beberapa orang percaya baru yang mau datang selama beberapa hari dan kemudian tidak datang lagi. Dengan cemas aku berpikir dalam hati, “Apa yang terjadi di sini? Situasi di gereja kami sangat buruk dan kami bahkan tidak bisa membuat orang percaya baru tetap tinggal. Apakah kami melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan? Ataukah gereja kami telah ditinggalkan oleh Tuhan?”
Lanjutkan membaca “Seorang orang Kristen dari Kenya menemukan jalan keluar dari dosa (I)”