Aku sering mengatakan bahwa Tuhan melihat lubuk hati manusia, dan manusia melihat aspek lahiriah orang lain. Karena Tuhan melihat lubuk hati manusia, Dia memahami hakikat mereka, sedangkan manusia mendefinisikan hakikat orang lain berdasarkan aspek lahiriahnya. Ketika Ayub membuka mulutnya dan mengutuk hari kelahirannya, tindakan ini mengejutkan semua tokoh spiritual, termasuk ketiga teman Ayub. Manusia berasal dari Tuhan dan harus bersyukur atas jiwa dan raganya, serta hari kelahirannya, yang dianugerahkan kepadanya oleh Tuhan, dan dia tidak boleh mengutuknya. Inilah yang dapat dimengerti dan dipahami oleh kebanyakan orang. Lanjutkan membaca “Ayub Mengalahkan Iblis dan Menjadi Manusia Sejati di Mata Tuhan”