Misteri Alkitab

Kunci Terpenting untuk Menyambut Tuhan, Mendengar Suara Tuhan

nonton film rohani kristen dapat memungkinkan Anda untuk memahami kebenaran dan mengenal Tuhan dan menemukan cara untuk diselamatkan oleh Tuhan dan masuk ke kerajaan surga.”

Xun Qiu

Catata editor: Sekarang bencana sering terjadi, dan nubuat kedatangan Tuhan pada dasarnya telah digenapi, apakah Anda ingin menyambut Tuhan? Bagaimana cara yang benar untuk menyambut kedatangan Tuhan? Bagaimana kita bisa menyambut Tuhan? Konten berikut akan memberi tahu Anda jawabannya, sehingga Anda dapat mendengar suara Tuhan secepat mungkin untuk menyambut Tuhan.

Bagaimana kita bisa melihat penampakan Tuhan di akhir zaman dan menyambut Tuhan
Setiap orang yang benar-benar percaya Tuhan mempunyai harapan terbesar adalah menyambut kembalinya Tuhan, tetapi ketika beberapa orang mendengar berita kedatangan Tuhan, mereka berkata: “Tuhan telah datang kembali, mengapa saya tidak melihatnya? Saya tidak melihatnya, bagaimana mungkin Tuhan kembali? “Apakah benar menyambut kedatangan Tuhan harus melihat dengan mata sendiri? Tuhan juga tidak pernah berkata bahwa kita harus melihat dengan mata sendiri. Tuhan Yesus berkata kepada kita: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka, dan mereka mengikut Aku” (Yohanes 10:27). “Wahyu” 3:20 berkata, “Lihatlah, Aku berdiri di pintu dan mengetuk: kalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membuka pintu itu, Aku akan datang masuk kepadanya, dan bersantap dengannya, dia bersama-Ku.” Tuhan kembali di akhir zaman dengan mengucapkan firman. Berfirman untuk menemukan dombanya, siapa pun yang mendengar suara Tuhan dan mengenal Tuhan kembali ke hadapan Tuhan, ini artinya melihat penampakan Tuhan untuk menyambut kedatangan Tuhan kembali. Oleh karena itu, jika kita ingin melihat penampakan Tuhan untuk menyambut Tuhan, tidak bisa hanya mengandalkan penglihatan, tetapi kuncinya adalah mendengarkan suara Tuhan. Karena hanya Tuhan yang bisa mengungkapkan kebenaran, dan kita mengenal suara Tuhan berdasarkan intuisi hati kita dan mengakui bahwa ini adalah pengungkapan kebenaran. Lalu bukankah telah melihat penampakan Tuhan dan pergi ke pesta perjamuan bersama Tuhan? Sama seperti kita percaya kepada Tuhan Yesus, bukan dengan melihat Tuhan Yesus dengan mata sendiri, tetapi berdasarkan kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan Yesus, kita mengenalnya dan mengikutinya. Kita tidak mengikuti Tuhan melalui melihat dengan mata sendiri. Lalu diakhir zaman, kita harus mengandalkan penglihatan untuk menyambut kedatangan Tuhan kembali, apakah ini cara yang benar?

Selain itu, tercatat di dalam Alkitab bahwa banyak orang melihat penampakan Tuhan, bukan melihat dengan mata sendiri, tetapi dengan mendengarkan suara Tuhan. Ayub pernah mengatakan perkataan seperti ini: ” Aku sudah mendengar tentang Engkau hanya dari kata orang saja: tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. ” (Ayub 42: 5) Ayub berkata bahwa dia melihat Tuhan, apakah dia benar-benar melihat Tuhan dengan matanya sendiri? tentu bukan. Apa yang dikatakan Ayub tentang melihat Tuhan dengan matanya sendiri bukanlah melihatnya dengan matanya, tetapi karena dia mendengar Tuhan berbicara kepadanya dalam angin puyuh. Dia dapat memastikan dari hatinya bahwa ini adalah suara Tuhan, seperti melihat Tuhan dan penampakan Tuhan. Dan bagaimana Petrus, Filipus, Yakobus, Yohanes, Matius dan yang lainnya mengenal bahwa Tuhan Yesus adalah manifestasi dari Tuhan? Mereka semua menyadari bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias karena mereka mendengar apa yang Tuhan Yesus katakan dan mengenali bahwa ini adalah suara Tuhan, dan akhirnya mengikuti Tuhan. Oleh karena itu, dapat dikatakan dengan pasti bahwa orang yang melihat penampakan Tuhan bukan melihat dengan mata sendiri, tetapi intuisi hati, yang menegaskan bahwa itu adalah suara Tuhan. Jika Anda melihat penampakan Tuhan dengan mata sendiri, tetapi di dalam hati tidak mengenalnya, maka Anda juga belum melihat penampakan Tuhan. Sama seperti ketika Tuhan Yesus datang untuk berbicara dan bekerja, semua orang Farisi melihat Tuhan Yesus, tetapi mereka tidak mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias yang akan datang, dan mereka juga mengutuk Tuhan Yesus, dan akhirnya bergabung dengan pemerintah Romawi untuk memakukan Tuhan Yesus di kayu salib, mereka melakukan kejahatan keji dan dihukum oleh Tuhan. Mengapa mereka tidak percaya ketika mereka melihat Tuhan Yesus? Itu karena mereka tidak mengenal kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan Yesus dan tidak mengenali suara Tuhan, sehingga meskipun mereka melihat Tuhan Yesus, mereka tidak mengenali bahwa Tuhan Yesus adalah manifestasi Tuhan. Ini menunjukkan bahwa jika orang tidak mengenal kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan, tidak akan mengenalnya, walaupun sudah bertahun-tahun Tuhan muncul untuk bekerja. Oleh karena itu, apakah kita dapat melihat penampakan dan pekerjaan Tuhan tidak ada hubungannya dengan ketidakmampuan kita melihat dengan mata kita. Ini adalah masalah hati. Jika hati tidak dapat dikukuhkan dengan firman Tuhan, maka meskipun kita melihat penampakan Tuhan dengan mata kita sendiri, kita tidak akan mengenalnya.

Dari fakta-fakta tersebut kita dapat melihat bahwa mereka yang mengikuti Tuhan melihat penampakan Tuhan hanya karena mereka mendengar suara Tuhan. Di akhir zaman, kita tidak boleh hanya mengandalkan melihat dengan mata sendiri untuk menyambut kedatangan Tuhan kembali. Kita juga harus memperhatikan mendengarkan suara Tuhan dan menggunakan hati kita, untuk merasakan apakah itu firman Tuhan, jika kita dapat yakin bahwa firman ini adalah ekspresi kebenaran dan suara Tuhan, maka secara alami kita dapat yakin bahwa Tuhan telah datang dan itu adalah penampakan dan pekerjaan Tuhan. Tuhan Yesus bernubuat: “Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu” (Yohanes 16:12-13). Dalam Wahyu pasal 2-3, banyak tempat menyebutkan “Barang siapa memiliki telinga, hendaklah dia mendengarkan apa yang diucapkan Roh kepada gereja-gereja” Tuhan Yesus dengan jelas mengatakan kepada kita bahwa Dia akan berfirman diakhir zaman dan memberitahu kita semua kebenaran yang kita butuhkan. Saat kita mendengar seseorang bersaksi bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali, hanya dengan memperhatikan suara Tuhan kita dapat melihat penampakan Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan kembali. Saat ini, hanya Gereja Tuhan Yang Mahakuasa di seluruh dunia yang telah menyaksikan kedatangan kembali Tuhan Yesus, yaitu Tuhan Yang Mahakuasa. Tuhan Yang Mahakuasa telah mengucapkan jutaan kata atas dasar pekerjaan penyelamatan Tuhan Yesus dan telah melakukan pekerjaan penghakiman dan menyucikan orang di akhir zaman. Kemudian, jika kita ingin menentukan apakah Tuhan Yang Mahakuasa adalah kedatangan Tuhan Yesus, kuncinya adalah berusaha mendengar suara Tuhan, membedakan suara Tuhan adalah mengenal suara Tuhan dan ciri-ciri firman Tuhan. Kemudian kita akan membedakan apakah perkataan Tuhan Yang Mahakuasa merupakan suara Tuhan dari ciri-ciri berikut ini.

Firman Tuhan Yang Mahakuasa berotoritas dan berkuasa
Kita semua tahu bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta. Baik Tuhan berinkarnasi untuk mengungkapkan kebenaran atau berbicara melalui sarana Roh, Tuhan berbicara kepada seluruh umat manusia sebagai Sang Pencipta. Kata-kata ini secara langsung mewakili identitas dan esensi Tuhan, mengandung otoritas, kekuatan, dan setiap kata dapat mengguncangkan hati manusia, sama seperti Tuhan surgawi yang berbicara kepada kita, membuat orang kagum. Oleh karena itu, selama kita merasakannya dengan hati kita, meskipun kita tidak memahami konotasi firman Tuhan, kita dapat merasakan firman Tuhan memiliki otoritas dan kuasa ketika kita mendengarnya.

Selanjutnya, mari kita lihat dua perikop dari firman Tuhan Yang Mahakuasa untuk mendengar apakah ini suara Tuhan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: “Aku pernah dikenal sebagai Yahweh. Aku juga pernah dipanggil Mesias, dan orang-orang pernah memanggil-Ku Yesus sang Juruselamat karena mereka mengasihi dan menghormati-Ku. Namun saat ini, Aku bukan Yahweh ataupun Yesus yang dikenal orang di masa lampau itu—Aku adalah Tuhan yang datang kembali pada akhir zaman, Tuhan yang akan membawa zaman ini menuju akhir. Aku-lah Tuhan itu sendiri yang bangkit dari ujung bumi, sarat dengan keseluruhan watak-Ku, dan penuh dengan otoritas, hormat, serta kemuliaan. Orang-orang tidak pernah menjalin hubungan dengan-Ku, tidak pernah mengenal-Ku, dan tidak tahu tentang watak-Ku. Sejak penciptaan dunia hingga saat ini, tidak seorang pun pernah melihat-Ku. Inilah Tuhan yang menampakkan diri kepada manusia pada akhir zaman, tetapi tersembunyi di antara manusia. Ia berdiam di antara manusia, benar dan nyata, seperti matahari yang menyala-nyala dan lidah api, penuh dengan kuasa dan sarat akan otoritas. Tidak ada satu orang atau perkara pun yang tidak akan dihakimi oleh firman-Ku, dan tidak satu orang atau perkara pun yang akan luput dari pemurnian melalui nyala api. Pada akhirnya, segala bangsa akan diberkati karena firman-Ku, dan juga dihancurkan berkeping-keping karena firman-Ku. Dengan demikian, semua orang pada akhir zaman melihat bahwa Akulah Juruselamat yang datang kembali, Akulah Tuhan Yang Mahakuasa yang menaklukkan semua umat manusia. Aku pernah menjadi korban penghapus dosa manusia, tapi di akhir zaman, Aku juga menjadi terik matahari yang membakar segala sesuatu, dan juga Matahari kebenaran yang menyingkapkan segala sesuatu. Demikianlah pekerjaan-Ku di akhir zaman.”

“Ketika Aku memalingkan wajah-Ku kepada alam semesta untuk berfirman, seluruh umat manusia mendengar suara-Ku, dan kemudian melihat semua pekerjaan yang telah Kuperbuat di seluruh alam semesta. Mereka yang bertentangan dengan kehendak-Ku, artinya, barangsiapa yang menentang Aku dengan perbuatan manusia, akan tumbang di bawah hajaran-Ku. Aku akan mengambil beraneka ragam bintang di langit dan menjadikannya baru, dan berkat Aku, matahari dan bulan akan diperbarui—langit tidak akan lagi seperti sebelumnya; segala sesuatu di bumi akan diperbarui. Semuanya akan menjadi sempurna melalui firman-Ku. Banyak bangsa di alam semesta akan dipisahkan sekali lagi dan digantikan oleh bangsa-Ku, sehingga bangsa-bangsa di muka bumi akan lenyap selamanya dan menjadi suatu bangsa yang memuja Aku; seluruh bangsa di bumi akan dihancurkan, dan akan lenyap. Manusia di alam semesta, semua yang menjadi milik setan akan dimusnahkan; semua orang yang menyembah Iblis akan ditumbangkan oleh api-Ku yang menyala-nyala―kecuali mereka yang sekarang berada di dalam aliran ini, sisanya akan diubah menjadi abu. Ketika Aku menghajar orang banyak itu, mereka yang berada di dunia agamawi, dalam tingkat yang beragam, kembali ke kerajaan-Ku, ditaklukkan oleh pekerjaan-Ku, karena mereka akan melihat kedatangan Yang Mahakudus yang berada di atas awan putih. Segenap umat manusia akan mengikuti golongan mereka sendiri, dan akan menerima hajaran yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat. Mereka semua yang telah menentang Aku akan binasa; sedang mereka yang perbuatannya di bumi tidak melibatkan Aku, karena mereka telah membebaskan diri mereka sendiri, mereka akan terus berada di bumi di bawah pemerintahan anak-anak-Ku dan umat-Ku. Aku akan menyatakan diri-Ku kepada banyak orang dan berbagai bangsa, memperdengarkan suara-Ku sendiri di atas bumi untuk menyatakan penyempurnaan pekerjaan-Ku yang besar bagi segenap umat manusia yang akan menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri.”

Firman Tuhan Yang Mahakuasa membawa otoritas dan kekuatan yang tersirat, dan itu juga mengungkapkan watak Tuhan yang benar, agung, dan tidak dapat disinggung. Ketika kita mendengar firman Tuhan Yang Mahakuasa, kita merasa bahwa firman Tuhan Yang Mahakuasa itu berotoritas dan berkuasa. Kecuali Tuhan sendiri, siapa yang berani berdiri dari sudut pandang sebagai Sang Pencipta berbicara langsung dengan manusia? Siapa yang bisa langsung menggantikan bintang dan menghukum semua orang yang melakukan kejahatan? Siapa yang bisa langsung menentukan akhir seseorang? Kecuali Tuhan sendiri yang bisa mengungkapkan perkataan seperti itu, tidak ada yang bisa menjangkaunya. Hanya Sang Pencipta yang dapat berbicara seperti ini kepada seluruh umat manusia, dapat mengungkapkan kehendak Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia dan akhir umat manusia, menentukan nasib umat manusia, dan dapat menuntut semua makhluk untuk mematuhinya. Hanya Tuhan yang dapat mengucapkan kata-kata seperti itu. Semua domba-domba Tuhan mendengar firman Tuhan Yang Mahakuasa, meskipun mereka tidak memahami kebenaran firman Tuhan pada saat itu, dan tidak memiliki pengalaman atau pengetahuan tentang firman Tuhan, namun mereka merasa bahwa firman Tuhan Yang Mahakuasa membawa otoritas dan kuasa yang dapat meneguhkan hati mereka. Kata-kata ini adalah suara sang pencipta, ekspresi langsung Tuhan, dan tidak ada yang bisa menirunya. Ini adalah perasaan yang paling benar di hati kita ketika kita membaca firman Tuhan, sehingga kita dapat memastikan dari hati kita bahwa ini adalah suara Tuhan.Tuhan Yang Mahakuasa telah mengungkap misteri yang tidak pernah diketahui manusia selama berabad-abad
Alkitab berkata:”Hal-hal rahasia adalah milik Yahweh, Tuhan kita; tetapi hal-hal yang dinyatakan adalah milik kita dan anak-anak kita selama-lamanya” (Ulangan 29:9) Tuhan adalah Tuhan atas semua ciptaan, pekerjaan pengelolaan menyelamatkan umat manusia dilakukan oleh Tuhan, sehingga semua misteri pekerjaan Tuhan hanya bisa dibuka oleh Tuhan Sendiri. Jika Tuhan tidak mengungkapkan misteri ini kepada kita, kita tidak akan pernah tahu. Di akhir zaman, Tuhan Yang Mahakuasa telah mengucapkan jutaan kata, membuka misteri seluruh rencana pekerjaan pengelolaan Tuhan. Misalnya, “Engkau Seharusnya Tahu Bagaimana Seluruh Umat Manusia Telah Berkembang Hingga Hari Ini”, “Mengenal Tiga Tahap Pekerjaan Tuhan adalah Jalan untuk Mengenal Tuhan”, “Pekerjaan di Zaman Hukum Taurat”, “Kristus Melakukan Pekerjaan Penghakiman dengan Kebenaran”, “Kristus Menggunakan Kebenaran untuk Melakukan Pekerjaan Penghakiman” “Kebenaran Sesungguhnya di Balik Karya Penaklukan” 1 sampai 4 dan seterusnya, dan bagaimana Setan merusak umat manusia, apa akar dosa yang tidak dapat disingkirkan oleh manusia yang rusak, bagaimana Tuhan bekerja untuk menyelamatkan dan memurnikan manusia, kisah sesungguhnya pekerjaan Tuhan di balik Zaman Hukum Taurat, kisah sesungguhnya di balik pekerjaan keselamatan Zaman Kasih Karunia, kisah sesungguhnya di balik pekerjaan penghakiman Zaman Kerajaan, esensi dan kisah Alkitab, makna nama Tuhan, mengapa Tuhan melakukan pekerjaan penghakiman di akhir zaman, apa makna pekerjaan penghakiman, dan bagaimana hamba baik, hamba jahat, domba dan kambing, dan lalang gandum tersingkapkan, bagaimana manusia mengikuti jenis mereka masing-masing, bagaimana kerajaan Kristus diwujudkan, keindahan kerajaan seribu tahun dan tujuan sejati umat manusia di masa depan, dll. Tuhan Yang Mahakuasa telah membuka semua misteri pekerjaan Tuhan masa lalu, sekarang, dan masa depan serta rencana pengelolaan enam ribu tahun Tuhan. Selama kita membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa- “Firman Menampakkan Diri dalam Daging”, kita dapat melihat Firman Tuhan di akhir zaman itu kaya dan berlimpah, yang sepenuhnya menggenapi firman Tuhan Yesus: “Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu” (Yohanes 16:12-13). Kita dapat memikirkannya, jika Tuhan tidak datang untuk bekerja dan berfirman sendiri, siapa yang dapat mengungkapkan begitu banyak kebenaran, yang dapat menjelaskan pekerjaan Tuhan? siapa yang bisa memberi tahu kita misteri ini? Hanya Tuhan yang dapat mengungkapkan misteri surgawi ini, dan hanya Tuhan sendiri yang mengetahui kisah sesungguhnya dari pekerjaan ini, dan tidak ada yang dapat mengetahuinya. Dari sini dapat dipastikan bahwa perkataan Tuhan Yang Mahakuasa adalah suara Tuhan.

Firman Tuhan Yang Mahakuasa bisa membuka zaman baru, mengakhiri zaman lama, dan mengarahkan manusia menuju zaman baru
Tuhan berfirman:”Firman Tuhan yang berinkarnasi memulai zaman yang baru, membimbing seluruh umat manusia, mengungkapkan misteri, dan mengarahkan manusia menuju zaman yang baru …”

Kita semua tahu bahwa Tuhan adalah kebenaran, jalan, dan hidup. Setiap kali Tuhan datang untuk bekerja dan berbicara, Dia tidak hanya berfirman dengan beberapa kata saja. Ketika Tuhan menjadi manusia, dia harus banyak berbicara dan mengungkapkan banyak kebenaran dalam satu tahap pekerjaan. Kebenaran ini membuka zaman baru, mengakhiri zaman lama, menunjukkan jalan penerapan zaman baru bagi manusia. Sama seperti di akhir zaman hukum taurat, orang-orang semakin banyak melakukan kejahatan, dan banyak orang tidak dapat menaati hukum dan menghadapi hukuman mati. Sesuai dengan kebutuhan umat manusia, Tuhan sendiri datang menjadi manusia dan melakukan pekerjaan keselamatan, membawa jalan pertobatan bagi umat manusia. Kata-kata dan pekerjaan Tuhan Yesus menyelamatkan umat manusia dari aturan hukum taurat. Dia tidak lagi mengajar orang bagaimana mematuhi hukum, tetapi menunjukkan jalan penerapan baru, menuntut orang untuk mencintai musuh, rendah hati, sabar, dan toleran, saling memaafkan, menjadi terang dan garam, dll. Kata-kata ini semua adalah kata-kata baru yang diungkapkan atas dasar Zaman Hukum Taurat. Kata-kata ini adalah jalan yang ditunjukkan Tuhan kepada orang-orang untuk dipraktekkan di Zaman Kasih Karunia, jadi firman Tuhan Yesus membuka Zaman kasih karunia mengakhiri zaman hukum taurat.

Tuhan Yang Mahakuasa akhir zaman telah datang, membawa semua kebenaran yang menyelamatkan umat manusia, menggunakan firman untuk membuka zaman kerajaan, mengakhiri zaman kasih karunia, dan membawakan manusia jalan penerapan zaman baru. Mari kita melihat satu paragraf firman Tuhan Yang Mahakuasa, akan menjadi jelas. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: “Ketika Yesus datang ke dalam dunia manusia, Ia membawa Zaman Kasih Karunia dan mengakhiri Zaman Hukum Taurat. Pada akhir zaman, Tuhan sekali lagi menjadi daging, dan ketika Ia menjadi daging, Ia mengakhiri Zaman Kasih Karunia dan memulai Zaman Kerajaan. Semua orang yang menerima inkarnasi Tuhan yang kedua akan dipimpin ke dalam Zaman Kerajaan, dan dapat menerima bimbingan Tuhan secara pribadi. Meskipun Yesus melakukan banyak pekerjaan di antara manusia, Ia hanya menyelesaikan penebusan seluruh umat manusia dan menjadi korban penghapus dosa manusia, tetapi tidak melepaskan manusia dari wataknya yang rusak. Menyelamatkan manusia sepenuhnya dari pengaruh Iblis tidak hanya membuat Yesus harus menanggung dosa manusia sebagai korban penghapus dosa, tetapi juga membuat Tuhan wajib melakukan pekerjaan yang lebih besar untuk melepaskan manusia dari wataknya yang telah dirusak Iblis. Jadi, setelah dosa manusia diampuni, Tuhan kembali menjadi daging untuk memimpin manusia memasuki zaman yang baru. Tuhan memulai melakukan hajaran dan penghakiman, dan pekerjaan ini telah membawa manusia ke dalam alam yang lebih tinggi. Semua orang yang tunduk di bawah kekuasaan-Nya akan menikmati kebenaran yang lebih tinggi dan menerima berkat yang lebih besar. Mereka benar-benar hidup dalam terang dan akan mendapatkan kebenaran, jalan, dan hidup.”

Dari firman Tuhan Yang Mahakuasa, kami memahami bahwa di Zaman Kasih Karunia, meskipun orang telah mengalami keselamatan Tuhan Yesus dan dosa-dosa telah diampuni, tetapi watak sombong, egois, kebengkokan dan kelicikan dalam diri manusia masih ada. Watak iblis ini masih tetap ada dalam diri manusia, dan manusia masih hidup dengan falsafah iblis, masih sering dapat berbohong dan menipu untuk keuntungan diri sendiri. Masih bisa cemburu dan membenci orang lain dan sering meninggikan diri, serta merendahkan orang lain. Mereka juga dapat menyalahkan Tuhan saat menghadapi bencana alam dan bencana buatan manusia, saat menghadapi penderitaan masih melawan Tuhan, dan menghakimi Tuhan ketika pekerjaan Tuhan tidak sejalan dengan konsep manusia … Hidup dalam lingkaran dosa dan tidak dapat lepas dari belenggu dosa, tidak peduli seberapa keras berusaha, tidak dapat melepaskan diri dari belenggu dan kendali dosa. Di akhir zaman, Kristus Tuhan Yang Mahakuasa telah datang, mengakhiri zaman kasih karunia dan membuka zaman kerajaan. Dia telah melakukan satu tahap pekerjaan penghakiman dan hajaran dengan firman dan menyingkapkan sifat pemberontak, sifat kerusakan, dan pikiran kita, sehingga dapat mengenal watak kerusakan kita. Menemukan akar pemberontakan dan perlawanan kepada Tuhan. Selain itu, Tuhan juga telah mengungkapkan berbagai aspek kebenaran bagi umat manusia, seperti apa itu iman yang benar kepada Tuhan, bagaimana menjalin hubungan yang normal dengan Tuhan, bagaimana menjalani kemanusiaan yang normal, bagaimana melayani dengan Tuhan, bagaimana cara menaati Tuhan, dan bagaimana mengamalkan kebenaran. Bagaimana menjadi orang yang jujur, bagaimana berusaha menjadi pemenang, bagaimana menyingkirkan watak rusak setan untuk mencapai keselamatan, bagaimana memenuhi tugas sebagai makhluk ciptaan untuk memuaskan kehendak Tuhan, bagaimana mencapai rasa takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan dan menjadi orang yang melakukan kehendak Tuhan, dll. Tuhan Yang Mahakuasa mengungkapkan kebenaran, memberi kita jalan praktek nyata dalam kehidupan nyata, ini adalah kebenaran yang Tuhan berikan kepada orang-orang untuk dimurnikan dan di selamatkan di akhir zaman. Kita dapat memikirkannya, jika bukan karena Tuhan yang berfirman, siapa yang dapat mengungkapkan firman-Nya untuk melakukan pekerjaan penghakiman Tuhan di akhir zaman? Siapa yang dapat menunjukkan kepada umat manusia watak Tuhan yang benar, watak Tuhan yang kudus yang tidak dapat di singgung? Siapa yang bisa menghakimi, memurnikan, dan menyelamatkan manusia dari dosa? Hanya firman Tuhan yang memiliki otoritas dan kuasa seperti itu. Perkataan dan pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa sepenuhnya mengungkapkan identitas dan status Tuhan sendiri, dan menunjukkan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Sang Pencipta, kembalinya Tuhan Yesus, dan firman yang diungkapkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa adalah suara Tuhan.

Sekarang, bagaimana seharusnya kita memperlakukan penampakan dan pekerjaan Tuhan? Apakah Anda memperhatikan untuk mendengarkan suara Tuhan dan menyelidiki, atau apakah Anda menolak untuk menerimanya, dan hanya percaya melihat Tuhan dengan mata Anda? Bukankah terlalu bodoh jika Anda harus percaya Tuhan dengan melihat Tuhan dan melewatkan kesempatan untuk menyambut kembalinya Tuhan lagi? Sebelum bencana, kita mendengar suara Tuhan dan mengenali suara Tuhan, menerima pekerjaan penghakiman dan pemurnian Tuhan di akhir zaman, memiliki kesempatan untuk disucikan dan dijadikan pemenang. Ini adalah hal yang paling diberkati, seperti yang Tuhan Yesus katakan: “karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya: diberkatilah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:29).

Misteri Alkitab

Tahukah Anda arti dari “Lihatlah, Aku berdiri di pintu dan mengetuk”

ayat ayat emas alkitab yang harus dibaca bagi orang Kristen untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, sehingga Anda dapat menyambut Tuhan Yesus secepat mungkin.

“Lihatlah, Aku berdiri di pintu dan mengetuk: kalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membuka pintu itu, Aku akan datang masuk kepadanya, dan bersantap dengannya, dia bersama-Ku” (Wahyu 3:20). Ini adalah nubuatan tentang kedatangan Tuhan Yesus di akhir zaman. Dari sini kita dapat melihat bahwa ketika Tuhan Yesus datang, Dia akan mengetuk pintu orang-orang. Lalu bagaimana Tuhan Yesus mengetuk? Bagaimana kita bisa menyambut-Nya ketika Tuhan Yesus mengetuk pintu? Mari kita bersekutu bersama.

Bagaimana Tuhan Yesus mengetuk pintu orang ketika Dia kembali
Bagaimana seharusnya Tuhan Yesus mengetuk pintu orang ketika Dia kembali? Pertanyaan ini secara langsung berkaitan dengan apakah kita dapat menyambut Tuhan Yesus. “Kitab Wahyu” 3:20 bernubuat dengan jelas: “Lihatlah, Aku berdiri di pintu dan mengetuk: kalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membuka pintu itu, Aku akan datang masuk kepadanya, dan bersantap dengannya, dia bersama-Ku.” Dapat dilihat dari sini bahwa hanya mereka yang mendengar suara Tuhan dan membuka pintu yang dapat menghadiri pesta perjamuan bersama Tuhan Yesus. Lalu bagaimana Tuhan Yesus menggunakan suara-Nya untuk mengetuk pintu orang? Mungkinkah kedatangan Tuhan, seperti yang dibayangkan orang, datang di luar pintu dan mengetuk, serta memberi tahu kita secara langsung bahwa Dia telah kembali? Faktanya, Tuhan Yesus telah memberi tahu kita jawabannya, dan Tuhan Yesus pernah bernubuat: “Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu” (Yohanes 16:12-13). “Kitab Wahyu” pasal 2 dan 3 juga telah bernubuat selama tujuh kali:”Barang siapa memiliki telinga, hendaklah dia mendengarkan apa yang diucapkan Roh kepada gereja-gereja”. Dapat dilihat dari nubuatan bahwa ketika Tuhan Yesus datang kembali, Dia akan bersuara dan berfirman kepada gereja-gereja, dan mengungkapkan kebenaran untuk menyediakan orang-orang, serta memperingatkan orang-orang bahwa barang siapa yang memiliki telinga hendaknya mendengarkan. Ini berarti bahwa Tuhan Yesus datang di akhir zaman untuk mengetuk pintu orang, yakni Dia bersuara dan berfirman kepada orang-orang dan menggunakan firman-Nya untuk mengetuk pintu hati kita. Inilah yang sebenarnya Tuhan Yesus maksudkan ketika Dia datang untuk mengetuk pintu.

Lanjutkan membaca “Tahukah Anda arti dari “Lihatlah, Aku berdiri di pintu dan mengetuk””
Misteri Alkitab

Apakah Anda Tahu Bagaimana Mencari Wajah Tuhan

“Semua orang Kristen harus belajar untuk merenungkan firman Tuhan, mengenal diri mereka sendiri dalam firman Tuhan, dan mencapai pertobatan sejati. Dengan ini, Anda akan menjadi orang yang dipuji oleh Tuhan.

Dalam kehidupan kita, jika kita sering mencari dengan datang ke hadapan Tuhan, itu tidak hanya bisa membuat kita menjalin hubungan normal dengan Tuhan, tetapi kita juga bisa mendapatkan bimbingan, dan petunjuk Tuhan, hingga kita dapat memahami kehendak Tuhan, dan memiliki cara penerapan. Jadi, bagaimana cara untuk mencari wajah Tuhan? Di bawah ini ada tiga cara untuk mencari wajah Tuhan, semoga dapat membantu anda.

Cara pertama untuk mencari wajah Tuhan :Berdoa dan mencari dengan tenang di hadapan Tuhan
Jika kita ingin mencari wajah Tuhan, kita harus menenangkan diri, berdoa, dan mencari di hadapan Tuhan. Tenang di hadapan Tuhan berdoa dan mencari, merupakan penerapan yang tidak boleh di kurangi. Yohanes 4 : 23-24 mencatat : “Tetapi waktunya akan tiba, sekaranglah waktunya, ketika penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran: karena Bapa mencari penyembah yang seperti itu. Tuhan adalah Roh dan mereka yang menyembah Dia harus menyembah Dia dalam roh dan kebenaran.”

Lanjutkan membaca “Apakah Anda Tahu Bagaimana Mencari Wajah Tuhan”
Kesaksian Kristen

Demi kesehatan, biarkan tubuh engkau yang lelah untuk beristirahat

Oleh Zhao Lei, Prancis

Ketika aku masih sekolah, banyak orang di desaku pindah ke bangunan apartemen dan membeli mobil, sedangkan keluargaku tinggal di sebuah rumah tua berlantai satu. Oleh sebab itu, aku bertekad untuk bekerja keras agar menjadi kaya saat dewasa. Ketika saat itu tiba, kukemasi barang bawaanku , naik kereta ke tempat lain, dan mulai berjuang demi masa depanku …

“Cepat! Cepat!” Mandor terus berteriak di tempat kerja. Semua staf bekerja secepat mungkin. Kuseka keringat di wajahku dengan satu tangan sambil memegang bor dengan tangan satunya lagi. Kemudian aku membungkuk untuk memijat punggung bawahku sebelum memulai tugas selanjutnya.

“Jie, cepat! Cepat! Jangan membuang waktu! Apa kau tak ingin pulang?” Seruan mandor datang dari tempat pengepakan. Aku baru saja menyelesaikan senampan kotak kardus ketika staf pemasok bahan mengirim setumpuk bahan setinggi kepalaku. Aku berjinjit untuk menurunkan selusin kotak. Aku merasa kelelahan. Namun setiap kali aku melambat untuk menarik napas, aku mendengar suara mandor yang mendesakku untuk bekerja lebih keras lagi. Dengan 3.000 kotak yang harus diselesaikan, aku menundukkan kepala dan enggan melanjutkan pekerjaan. Di malam hari, jari-jariku sering terasa sakit. Aku berkata kepada diri sendiri bahwa orang yang dapat bertahan dalam penderitaan terburuk adalah yang terbaik. Jadi, aku harus bertahan. Semuanya akan baik-baik saja ketika aku kaya …

Suatu hari, ketika aku mau pulang setelah mengikuti rapat kerja, tiba-tiba segalanya menjadi gelap dan aku jatuh meringkuk di lantai. Mandor melihatku dan berteriak, “Jie, ada apa denganmu? Ada apa denganmu?” Kepalaku terasa sangat berat dan aku merasa tubuhku sangat tidak enak. Aku butuh waktu cukup lama untuk memulihkan diri sedikit. Namun demikian, aku tidak menganggap itu serius, karena kupikir aku seorang dewasa muda yang penuh energi.

Demi mendapatkan bayaran yang lebih tinggi, aku mencari pekerjaan baru di sebuah perusahaan mesin dengan bekerja sebagai penjaga gudang. Aku bertugas menerima, mengirim, dan menyimpan ribuan barang. Di samping gaji pokok, aku juga mendapat uang lembur. Demi mendapat lebih banyak uang, aku bekerja lembur hampir setiap malam memperbarui laporan.

Seiring dengan semakin banyaknya jumlah produk baru yang dikembangkan oleh perusahaan, gang-gang di gudang dengan cepat terisi dengan barang-barang. Akibatnya, jam kerjaku berubah dari delapan jam menjadi sepuluh jam kemudian dua belas jam, dan terkadang bahkan lebih dari dua belas jam. Dalam perjalanan pulang kerja, aku selalu berjalan sendirian hanya ditemani oleh malam yang sunyi. Namun pikiran tentang meningkatnya tabungan di rekening gajiku membuatku melupakan rasa letih dan lelah. Aku membayangkan suatu hari dalam waktu dekat ketika aku memiliki rumah dan mobil sendiri …

Suatu hari, ketika sedang menarik beberapa bahan berat, aku tiba-tiba tercekik dan merasa jantungku berdebar dan nyeri dada. Aku pergi ke dokter dan didiagnosis terkena aritmia. Dokter memberitahuku: “Anak muda, beristirahatlah dengan baik dan hiduplah dengan lebih teratur. Jika tidak, engkau akan mengalami komplikasi jika ini menjadi serius.” Itu menjadi sebuah teguran akan kesehatanku yang buruk. Akan tetapi, aku tidak mendengarkan saran dokter dan memutuskan untuk tidak memikirkannya sampai benar-benar terjadi. Jadi, aku terus bekerja keras demi uang dan agar dapat memiliki rumah, dan mobil …

Suatu hari di tempat kerja, seorang kolega, Pak Xia, ambruk terkena serangan jantung ketika sedang bekerja dan segera dilarikan ke rumah sakit. Dia sakit karena terlalu banyak bekerja dan hampir kehilangan nyawanya. Melihat ini, aku mulai merasa khawatir hal yang sama akan terjadi padaku. Aku bertanya pada diri sendiri: “Apakah uang benar-benar lebih penting daripada hidup? Jika aku kehilangan kesehatanku, apa gunanya punya uang?” Setiap hari, dalam perjalanan pulang setelah kerja, aku akan berbelok di persimpangan gang menuju ke akomodasiku. Namun, arah mana yang harus kupilih sekarang ketika aku berada di persimpangan jalan dalam kehidupan? Untuk pertama kalinya, aku merasa kesepian, tidak berdaya, dan kebingungan. Aku merasa kelelahan secara fisik dan mental. Akankah aku hidup seperti ini di sepanjang sisa hidupku?

Tepat ketika aku sedang kebingungan dan merasa tak berdaya, Injil Tuhan datang kepadaku. Aku membaca sebuah ayat firman Tuhan: “‘Uang membuat dunia berputar’ adalah filsafat Iblis, dan filsafat ini berlaku di tengah seluruh umat manusia, di tengah setiap masyarakat manusia. Engkau dapat mengatakan bahwa itu adalah tren karena pepatah disampaikan kepada semua orang dan sekarang melekat di hati mereka. … Terlepas dari seberapa banyak pengalaman yang dialami seseorang dengan pepatah ini, apa efek negatif yang dapat ditimbulkannya terhadap hati seseorang? (Orang akan menghargai uang.) Sesuatu terungkap melalui watak manusia di dunia ini, termasuk masing-masing dan setiap dari engkau semua. Apa artinya ini? Itu artinya pemujaan uang. Apakah sulit untuk mengeluarkan ini dari hati seseorang? Ini sangat sulit! Tampaknya perusakan manusia oleh Iblis memang menyeluruh! Jadi, setelah Iblis menggunakan tren ini untuk merusak manusia, bagaimana perwujudannya pada diri mereka? Tidakkah engkau semua merasa bahwa engkau tidak dapat bertahan hidup di dunia ini tanpa uang, bahwa bahkan suatu hari akan mustahil? (Ya.) Status orang didasarkan pada berapa banyak uang yang mereka miliki dan begitu pula kehormatan mereka. Punggung orang miskin membungkuk malu, sementara orang kaya menikmati status tinggi mereka. Mereka berdiri tegak dan bangga, berbicara keras-keras dan hidup dengan sombong. Apa yang ditimbulkan oleh pepatah dan tren ini terhadap manusia? Bukankah banyak orang akan melakukan apa pun demi mendapatkan uang?”

Lalu aku mengerti ini: “Uang membuat dunia berputar” dan “Uang adalah yang utama” adalah peraturan hidup Iblis yang telah merusak pandanganku tentang hidup dan menipuku untuk menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidup. Di bawah pengaruh gagasan dan pandangan ini, aku percaya bahwa uang adalah segalanya dan dengan uang aku bisa lebih unggul daripada orang lain, membuat perbedaan, dan memuliakan keluargaku. Oleh karena itu, aku sering bekerja lembur dan banting tulang hanya untuk mendapatkan lebih banyak uang, dan aku tidak beristirahat bahkan ketika kelelahan dan menderita penyakit. Tuhan menggunakan kasus Pak Xia untuk memperingatkanku bahwa adalah bodoh mengorbankan kesehatan dan hidup demi uang. Tuhan Yesus berkata: “Karena apa untungnya jika seseorang mampu mendapatkan seluruh dunia, dan kehilangan jiwanya sendiri? Atau apa yang bisa diberikan seseorang sebagai ganti jiwanya?” (Matius 16:26). Dibandingkan dengan kehidupan, uang tidak layak disebut sama sekali! Uang hanya memberiku kesenangan fisik sementara, tetapi tidak dapat membantuku mendapatkan kembali kesehatanku. Jadi, aku tidak boleh hidup hanya untuk uang.

Memahami ini, niatku untuk mengejar uang menjadi berkurang. Setelah itu, aku mulai menghadiri kebaktian gereja, membaca firman Tuhan, dan menyanyikan lagu pujian untuk memuji Tuhan, menjadikan hal-hal ini sebagai bagian yang tak terpisahkan dari hidupku. Aku mendapatkan semacam keterjaminan dan kedamaian di dalam hatiku yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Aku mencoba untuk melepas hasratku akan kekayaan, dan tidak terlalu mementingkan kerja keras; di akhir pekan, aku mulai beristirahat. Hingga, aku sedikit demi sedikit pulih. Namun, aku kembali ragu ketika mendengar tentang kolegaku yang mendapat bayaran yang lebih tinggi untuk kerja lembur mereka. Aku tak tahu mana yang harus kupilih: bekerja lembur demi uang atau beristirahat dengan baik demi kesehatanku …

Kemudian, aku membaca ayat firman Tuhan: “Ada cara yang paling sederhana untuk membebaskan diri seseorang dari keadaan ini: berpisah dengan cara hidupnya yang lama, berpisah dengan tujuan hidupnya yang lama, merangkum dan meneliti gaya hidupnya, falsafah hidup, pengejaran, hasrat, dan impian mereka yang lama, kemudian membandingkan hal-hal tersebut dengan kehendak dan tuntutan Tuhan bagi manusia, dan melihat apakah ada dari hal-hal tersebut yang sejalan dengan kehendak dan tuntutan Tuhan, apakah ada satu di antara hal-hal tersebut yang memberikan nilai-nilai yang benar akan hidup, membawa seseorang kepada pengertian yang lebih baik akan kebenaran, dan membuat seseorang bisa hidup dengan kemanusiaan dan keserupaan dengan manusia. Ketika engkau berulang kali memeriksa dan dengan hati-hati membedah berbagai tujuan hidup yang ingin dicapai orang, beserta cara-cara hidup mereka yang berbeda-beda, engkau akan menemukan bahwa tidak ada satu pun dari tujuan itu yang sesuai dengan maksud mula-mula Sang Pencipta ketika Ia menciptakan umat manusia. Semua hal tadi malahan menjauhkan orang-orang dari kedaulatan dan pemeliharaan Sang Pencipta; semua hal tadi adalah lubang yang memerangkap manusia, yang membawa orang-orang ke neraka. Setelah engkau mengakui ini, tugasmu adalah menyingkirkan pandangan hidupmu yang lama, menjauhi berbagai perangkap, mengizinkan Tuhan mengendalikan hidupmu dan membuat penataan bagimu, semata-mata tunduk kepada pengaturan dan bimbingan Tuhan, tidak punya pilihan, dan menjadi seseorang yang menyembah Tuhan.”

Ketika merenungkan firman Tuhan, aku berulang kali mengangguk: “Firman Tuhan sangat praktis. Di masa lalu, gagasan Iblis bahwa ‘uang adalah yang utama’ mengakar di dalam hatiku dan aku menggunakannya sebagai moto di dalam hidupku dan terus bekerja lembur. Aku mengorbankan waktu, kebebasan, dan kesehatanku hanya untuk mendapatkan lebih banyak uang. Setelah mulai percaya pada Tuhan, aku mulai memiliki kehidupan yang normal. Jadi, bukankah bodoh kembali ke cara lamaku? Tuhan berkuasa dan mengatur nasib manusia. Jadi, kekayaan bukan diperoleh melalui usaha manusia. Kehendak Tuhan adalah melepaskanku dari pandangan hidup demi uang sehingga aku bisa bekerja secara normal dan memiliki rutinitas harian. Aku akan belajar untuk mematuhi kedaulatan dan pengaturan Tuhan.”

Setelah itu, aku bekerja dengan jadwal yang tetap dan beristirahat secara teratur. Perlahan-lahan, tubuhku menjadi lebih kuat dan aku terlihat semakin baik. Aku merasa gembira dan bekerja dengan lebih efisien. Hatiku terasa diperkaya dan damai, bukan khawatir dan panik. Kemudian, perusahaan menyesuaikan gaji di departemenku, meski mereka tidak memberi tahu alasannya. Aku bekerja lebih sedikit tetapi dibayar lebih banyak, yang meyakinkanku bahwa kekayaan tidak diperoleh melalui usaha manusia melainkan sudah ditentukan sebelumnya oleh Tuhan. Adalah menyakitkan untuk hidup dengan pandangan hidup Iblis alih-alih tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Sebaliknya, mereka yang memilih mematuhi Tuhan dan hidup berdasarkan firman-Nya akan memiliki kedamaian dan sukacita yang sejati.

Syukur kepada Tuhan, karena telah menyelamatkanku dari hidup yang melelahkan dan mengorbankan kesehatan demi uang. Sahabat terkasih, demi kesehatan, istirahatlah!

Baca firman Tuhan malam ini dan Anda akan memahami watak Tuhan dan memahami semua yang Tuhan miliki dan siapa Tuhan itu.

Misteri Alkitab

Apakah Inkarnasi itu? Apa Hakikat dari Inkarnasi?

Mendengarkan firman Tuhan pagi ini akan membuat Anda tahu lebih banyak tentang misteri pekerjaan Tuhan dan menjadi orang yang mengenal Tuhan dan diberkati oleh Tuhan.”

Ayat Alkitab untuk Referensi:

“Dan Firman itu menjadi manusia, dan tinggal di tengah-tengah kita, (dan kita melihat kemuliaan-Nya, kemuliaan sebagai Putra Tunggal Bapa,) dipenuhi kasih karunia dan kebenaran” (Yohanes 1:14).

“Akulah jalan, kebenaran, dan hidup” (Yohanes 14:6)

“Aku dan Bapaku adalah satu” (Yohanes 10:30)

“Yesus berkata kepadanya: Bukankah Aku sudah lama bersama kalian dan engkau masih belum mengenalKu, Filipus? Siapa yang sudah melihat-Ku, melihat Bapa; dan bagaimana bisa engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami? Apakah engkau tidak percaya Aku di dalam Bapa, dan Bapa di dalam Aku? Firman yang Aku sampaikan kepadamu bukan dari diri-Ku sendiri; melainkanBapa yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku: atau percayalah karena segala pekerjaan itu sendiri” (Yohanes 14:9-11).

Firman Tuhan yang Relevan:

Makna dari inkarnasi adalah bahwa Tuhan menampakkan diri dalam daging, dan Dia datang untuk bekerja di antara manusia ciptaan-Nya dalam rupa manusia. Jadi, agar Tuhan berinkarnasi, pertama-tama Dia harus menjadi daging, daging dengan wujud manusia normal; hal ini, setidaknya, harus benar. Faktanya, implikasi dari inkarnasi Tuhan adalah bahwa Tuhan hidup dan bekerja dalam daging, Tuhan di dalam hakikat-Nya menjadi daging, menjadi seorang manusia.

Kristus dengan kemanusiaan-Nya yang normal adalah daging tempat Roh diwujudkan, yang memiliki kemanusiaan yang normal, akal sehat, serta pikiran manusia. “Diwujudkan” artinya Tuhan menjadi manusia, Roh menjadi daging; atau secara gamblang, artinya adalah ketika Tuhan sendiri mendiami daging dengan kemanusiaan yang normal, dan melalui itu Ia mengekspresikan pekerjaan ilahi-Nya─inilah yang dimaksud dengan diwujudkan, atau berinkarnasi.

Tuhan yang menjadi manusia adalah Kristus, dan karena itu, Kristus yang bisa memberikan kebenaran kepada orang-orang adalah Tuhan. Tidak ada yang berlebihan dalam hal ini, karena Ia memiliki substansi sebagai Tuhan, dan memiliki watak Tuhan, serta hikmat dalam pekerjaan-Nya yang tidak bisa dijangkau oleh manusia. Mereka yang menyebut dirinya Kristus, tetapi tidak bisa melakukan pekerjaan Tuhan, adalah penipuan. Kristus bukan sekadar manifestasi Tuhan di dunia, tetapi justru merupakan daging manusia yang dipilih oleh Tuhan selagi Ia menjalankan dan menyelesaikan pekerjaan-Nya di antara manusia. Manusia ini bukan sesuatu yang bisa digantikan oleh sembarang manusia, tetapi yang mampu memikul pekerjaan Tuhan di dunia, dan mengungkapkan watak Tuhan, mewakili Tuhan, dan memberikan kehidupan bagi manusia.

Karena Dia adalah manusia dengan hakikat Tuhan, Dia berada di atas semua manusia yang diciptakan, di atas siapa pun yang dapat melakukan pekerjaan Tuhan. Dan juga, di antara semua yang memiliki cangkang manusia seperti milik-Nya, di antara semua yang memiliki kemanusiaan, hanya Dia Tuhan yang berinkarnasi itu sendiri—semua hal lain adalah manusia ciptaan. Meskipun mereka semua memiliki kemanusiaan, manusia yang diciptakan bukanlah apa-apa tetapi manusia, sementara Tuhan yang berinkarnasi berbeda: Di dalam daging-Nya Dia tidak hanya memiliki kemanusiaan tetapi yang lebih penting memiliki keilahian. Kemanusiaan-Nya dapat dilihat pada penampakan luar daging-Nya dan dalam kehidupan-Nya sehari-hari, tetapi keilahian-Nya sangat sulit dipahami. Karena keilahian-Nya dinyatakan hanya ketika Ia berada dalam kemanusiaan-Nya, dan tidak sesupernatural yang orang bayangkan, keilahian-Nya sangat sulit untuk orang pahami. Bahkan sampai sekarang pun, paling sulit bagi orang-orang untuk memahami hakikat sejati dari Tuhan yang berinkarnasi. … Karena Tuhan menjadi manusia, hakikat-Nya adalah kombinasi antara kemanusiaan dan keilahian. Kombinasi ini disebut Tuhan itu sendiri, Tuhan sendiri yang berada di bumi.

Kehidupan dan pekerjaan inkarnasi-Nya dapat dibagi menjadi dua tahap. Yang pertama adalah kehidupan-Nya sebelum melaksanakan pelayanan-Nya. Dia hidup dalam keluarga manusia biasa, dalam kemanusiaan yang normal, mematuhi moral dan hukum normal kehidupan manusia, dengan kebutuhan manusia normal (makanan, pakaian, tempat tinggal, tidur), kelemahan manusia normal, dan emosi manusia normal. Dengan kata lain, selama tahap pertama ini Dia hidup dalam ketidakilahian, manusia normal yang sepenuhnya, terlibat dalam semua kegiatan manusia normal. Tahap kedua adalah kehidupan yang Dia jalani setelah Dia mulai melakukan pelayanan-Nya. Dia masih menjalani kehidupan sebagai manusia normal dalam wujud manusia, tidak menunjukkan tanda kemahakuasaan. Namun Dia hidup murni demi pelayanan-Nya, dan selama periode ini kemanusiaan-Nya yang normal sepenuhnya ada untuk pekerjaan ilahi-Nya; karena pada saat itu kemanusiaan-Nya yang normal telah matang hingga dapat melakukan pelayanan-Nya. Jadi tahap kedua dari kehidupan-Nya adalah melaksanakan pelayanan-Nya dalam kemanusiaan-Nya yang normal, suatu kehidupan di mana Dia menjalani kemanusiaan yang normal dan sekaligus keilahian yang utuh. Alasan mengapa, selama tahap pertama kehidupan-Nya, Dia hidup sebagai manusia biasa seutuhnya adalah karena kemanusiaan-Nya belum setara dengan keseluruhan pekerjaan ilahi, belum dewasa; hanya setelah kemanusiaannya tumbuh dewasa, mampu memikul pelayanan-Nya, Dia dapat mengatur pelaksanaan pelayanan-Nya. Karena Dia, sebagai daging, perlu bertumbuh dan dewasa, tahap pertama kehidupan-Nya adalah kehidupan manusia normal, sedangkan di tahap kedua, karena kemanusiaan-Nya mampu menampung pekerjaan dan pelayanan-Nya, kehidupan yang Tuhan yang berinkarnasi hidupi selama pelayanan-Nya adalah kehidupan yang manusiawi sekaligus ilahi. Jika sejak saat kelahiran-Nya, Tuhan yang berinkarnasi memulai pelayanan-Nya dengan sungguh-sungguh, melakukan tanda-tanda dan mukjizat, maka Dia tidak akan memiliki hakikat jasmani. Oleh karena itu, kemanusiaan-Nya ada demi hakikat jasmani-Nya; tidak ada daging tanpa kemanusiaan, dan seseorang tanpa kemanusiaan bukanlah manusia. Dengan demikian, kemanusiaan Tuhan yang berinkarnasi adalah sifat hakiki dari Tuhan yang berinkarnasi. Mengatakan bahwa “Ketika Tuhan menjadi daging, Dia sepenuhnya ilahi dan sama sekali bukan manusia,” adalah penghujatan. karena ini mustahil terjadi dan melanggar prinsip inkarnasi. Bahkan setelah Dia mulai melakukan pelayanan-Nya, keilahian-Nya masih ada dalam kemanusiaan-Nya di saat Dia melakukan pekerjaan-Nya; hanya saja pada saat itu, kemanusiaan-Nya memiliki satu tujuan yaitu memungkinkan keilahian-Nya untuk melakukan pekerjaan dalam daging yang normal. Jadi yang bekerja adalah keilahian yang mendiami kemanusiaan-Nya. Keilahian-Nya-lah yang bekerja, bukan kemanusiaan-Nya, tetapi keilahian yang tersembunyi di dalam kemanusiaan-Nya; pekerjaan-Nya pada dasarnya dilakukan oleh keilahian-Nya yang sempurna, bukan oleh kemanusiaan-Nya. Tetapi yang melakukan pekerjaan itu adalah daging-Nya. Orang dapat mengatakan bahwa Dia adalah seorang manusia dan juga adalah Tuhan, karena Tuhan menjadi daging, dengan rupa manusia dan hakikat manusia tetapi juga hakikat Tuhan.

Kehidupan yang Yesus jalani di bumi adalah kehidupan daging yang normal. Ia hidup dalam kemanusiaan normal daging-Nya. Otoritas-Nya─untuk melakukan pekerjaan Tuhan dan mengucapkan firman Tuhan, atau menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh jahat, untuk melakukan hal-hal yang sedemikian luar biasa itu─tidak memanisfestasikan otoritas itu sendiri, di kebanyakan bagian, sampai Ia memulai pelayanan-Nya. Kehidupan-Nya sebelum berusia dua puluh sembilan tahun, sebelum Ia melakukan pelayanan-Nya, merupakan bukti yang cukup bahwa Ia hanyalah daging yang normal. Oleh karena hal ini, dan oleh karena Ia belum mulai melakukan pelayanan-Nya, orang tidak melihat keilahian dalam Diri-Nya, hanya melihat-Nya tidak lebih dari manusia normal, manusia biasa─sebagaimana pada mulanya beberapa orang percaya bahwa Ia adalah anak Yusuf. Orang-orang menganggap-Nya anak dari seorang manusia biasa, tidak mungkin mengatakan bahwa Ia adalah daging inkarnasinya Tuhan. Bahkan selama melakukan pelayanan-Nya, Ia melakukan banyak mukjizat, kebanyakan orang tetap mengatakan bahwa Ia adalah anak Yusuf, karena Ia adalah Kristus yang mengenakan kemanusiaan normal sebagai kulit luar-Nya. Kemanusiaan-Nya yang normal dan pekerjaan-Nya ada untuk memenuhi makna penting dari inkarnasi yang pertama, yang membuktikan bahwa Tuhan telah sepenuhnya datang ke dalam daging, menjadi manusia biasa sepenuhnya. Bahwa Ia memiliki kemanusiaan yang normal sebelum memulai pekerjaan-Nya merupakan bukti bahwa Ia adalah seorang manusia biasa; dan bahwa Ia bekerja sesudahnya juga membuktikan bahwa Ia adalah manusia biasa, karena Ia melakukan tanda-tanda dan mukjizat, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir roh-roh jahat dalam daging dengan kemanusiaan yang normal. Alasan Ia dapat melakukan mukjizat adalah karena daging-Nya yang membawa otoritas dari Tuhan, adalah daging yang dikenakan oleh Roh Tuhan. Ia memiliki otoritas ini karena Roh Tuhan, dan itu bukan berarti Ia bukan daging. Menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh jahat adalah pekerjaan yang perlu Ia lakukan dalam pelayanan-Nya, sebuah ungkapan keilahian-Nya yang tersembunyi dalam kemanusiaan-Nya, dan apa pun tanda ajaib yang Ia tunjukkan atau bagaimana pun Ia menunjukkan otoritas-Nya, Ia tetap menghidupi kemanusiaan-Nya yang normal, dan tetap merupakan daging yang normal. Sampai pada titik Ia dibangkitkan setelah kematian-Nya di kayu salib, Ia tetap berdiam di dalam daging yang normal. Menganugerahkan kasih karunia, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir roh jahat, semua itu adalah bagian dari pelayanan-Nya, semua itu adalah pekerjaan yang Ia lakukan di dalam daging-Nya yang normal. Sebelum disalibkan, Ia tidak pernah meninggalkan daging manusia normal-Nya, terlepas apa pun yang Ia lakukan. Ia adalah Tuhan itu sendiri, Ia melakukan pekerjaan Tuhan itu sendiri, namun karena Ia adalah daging inkarnasi Tuhan, Ia makan, mengenakan pakaian, memiliki kebutuhan manusia normal, memiliki nalar manusia normal dan memiliki pikiran manusia normal. Semua ini bukti bahwa Ia adalah manusia normal, yang membuktikan bahwa daging inkarnasi Tuhan adalah daging dengan kemanusiaan yang normal, bukan sosok yang supernatural.

Kemanusiaan Tuhan yang berinkarnasi ada untuk memelihara pekerjaan ilahi yang normal yang dilakukan dalam daging. Pikiran manusia normal-Nya menopang kemanusiaan normal-Nya dan semua aktivitas jasmani-Nya yang normal. Dapat dikatakan bahwa pikiran manusia normal-Nya ada untuk menopang seluruh pekerjaan Tuhan yang dilakukan-Nya dalam daging. Jika daging ini tidak memiliki pikiran manusia normal, maka Tuhan tidak dapat bekerja dalam daging, dan apa yang perlu Ia lakukan dalam daging tidak akan pernah dapat diselesaikan. Meskipun Tuhan yang berinkarnasi memiliki pikiran manusia normal, pekerjaan-Nya tidak tercemar oleh pikiran manusia. Ia melakukan pekerjaan dalam kemanusiaan dengan pikiran yang normal, dengan prasyarat bahwa Ia memiliki kemanusiaan dengan pikiran, bukan bertindak berdasarkan pikiran manusia normal. Tak peduli seluhur apa pun pikiran daging-Nya, pekerjaan-Nya tidak memiliki tanda logika atau pemikiran manusia. Dengan kata lain, pekerjaan-Nya itu bukan merupakan buah dari pemikiran daging-Nya, melainkan ungkapan langsung dari pekerjaan ilahi di dalam kemanusiaan-Nya. Semua pekerjaan-Nya adalah pelayanan yang perlu Ia genapi dan tak satu pun dari pekerjaan itu merupakan hasil dari pemikiran-Nya. Sebagai contoh, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan penyaliban, semua itu bukan hasil dari pikiran manusia-Nya, semua itu tidak dapat dilakukan oleh seorang manusia pun dengan pikirannya. Sama halnya dengan pekerjaan penaklukan di zaman sekarang, itu merupakan pelayanan yang harus dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi, tetapi bukan merupakan pekerjaan atas kehendak manusia, itu merupakan pekerjaan yang harus dilakukan oleh keilahian-Nya, pekerjaan yang tidak mampu dilakukan oleh seorang manusia pun. Jadi, Tuhan yang berinkarnasi harus memiliki pikiran manusia normal, harus memiliki kemanusiaan yang normal, karena Ia harus melakukan pekerjaan-Nya dalam kemanusiaan dengan pikiran manusia normal. Inilah hakikat pekerjaan Tuhan yang berinkarnasi, hakikat dari Tuhan yang berinkarnasi.

Inkarnasi Anak Manusia mengungkapkan keilahian Tuhan melalui kemanusiaan-Nya dan menyampaikan kehendak Tuhan kepada umat manusia. Dan melalui pengungkapan kehendak dan watak Tuhan, Ia juga mengungkapkan kepada orang-orang wujud Tuhan yang tidak bisa dilihat atau disentuh di alam rohani. Apa yang orang-orang lihat adalah Tuhan itu sendiri, yang nyata dan memiliki daging dan tulang. Jadi, inkarnasi Anak Manusia membuat hal-hal seperti identitas, status, gambar, dan watak Tuhan, dan apa yang Tuhan punya dan siapa Tuhan itu menjadi konkret dan dimanusiakan. Meskipun penampakan luar dari Anak Manusia memiliki batasan mengenai gambar diri Tuhan, esensi-Nya dan apa yang Ia punya dan siapa Ia semuanya mampu merepresentasikan identitas dan status Tuhan itu sendiri—hanya ada sejumlah perbedaan dalam bentuk pengungkapannya. Tidak peduli apakah itu sifat manusiawi dari Anak Manusia atau keilahian-Nya, kita tidak dapat menyangkal bahwa Ia merepresentasikan identitas dan status Tuhan sendiri. Akan tetapi, pada masa tersebut, Tuhan bekerja melalui daging, berbicara melalui perspektif daging, dan berdiri di hadapan umat manusia dengan identitas dan status Anak Manusia, dan ini memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk menemui dan mengalami firman dan pekerjaan Tuhan yang nyata di tengah manusia. Hal ini juga memberikan kepada orang-orang wawasan terhadap keilahian dan kebesaran-Nya di tengah kerendahhatian, sekaligus memungkinkan mereka beroleh pemahaman dan definisi pendahuluan akan autentisitas dan kenyataan Tuhan.

Walaupun penampilan Tuhan yang berinkarnasi benar-benar serupa dengan manusia, walaupun Ia belajar pengetahuan manusia dan berbicara dalam bahasa manusia, dan walaupun terkadang Ia bahkan mengungkapkan gagasan-gagasan-Nya dengan cara-cara atau ungkapan manusia, cara Ia melihat manusia, esensi berbagai hal dengan cara orang-orang yang rusak melihat kemanusiaan dan esensi berbagai hal tentunya akan sama sekali berbeda. Sudut pandang dan ketinggian tempat Ia berdiri adalah hal yang tak tergapai bagi seseorang yang rusak. Ini karena Tuhan adalah kebenaran, daging yang Ia kenakan juga memiliki esensi Tuhan, begitu juga pemikiran-Nya dan hal-hal yang diungkapkan oleh wujud manusia-Nya adalah juga kebenaran. … Tak peduli sebiasa apa pun, senormal apa pun, dan sehina apa pun daging dari Tuhan yang berinkarnasi, atau bahkan serendah apa pun orang memandang-Nya, pemikiran dan sikap-Nya terhadap umat manusia adalah hal yang tidak bisa dimiliki seorang manusia pun, hal yang tidak mungkin ditiru seorang manusia pun. Ia akan selalu mengamati umat manusia dari sudut pandang ilahi, dari ketinggian kedudukan-Nya sebagai Sang Pencipta. Ia akan selalu memandang umat manusia melalui esensi dan pola pikir Tuhan. Ia sama sekali tidak bisa memandang umat manusia dari ketinggian seorang manusia kebanyakan, apalagi dari sudut pandang seorang yang rusak. Ketika orang-orang melihat umat manusia, mereka melihatnya dari penglihatan manusia, dan mereka menggunakan hal-hal seperti pengetahuan dan peraturan manusia dan teori sebagai tolak ukur. Semua ini berada dalam lingkup hal-hal yang bisa dilihat orang; berada dalam lingkup hal-hal yang bisa dicapai oleh manusia yang rusak. Ketika Tuhan melihat manusia, Ia melihatnya melalui penglihatan ilahi, dan Ia menggunakan esensi-Nya dan apa yang Ia miliki dan siapa Ia sebagai tolak ukur. Lingkup ini meliputi hal-hal yang tidak bisa dilihat manusia, dan di sinilah Tuhan yang berinkarnasi dan manusia yang rusak sepenuhnya berbeda. Perbedaan ini ditentukan oleh esensi yang berbeda antara manusia dan Tuhan, dan perbedaan esensi inilah yang menentukan identitas dan kedudukan mereka, sekaligus juga sudut pandang dan ketinggian tempat mereka melihat berbagai hal.

Daging yang dikenakan Roh Tuhan adalah daging Tuhan sendiri. Roh Tuhan itu paling berkuasa; Dia mahakuasa, suci, dan benar. Dengan demikian, daging-Nya pun paling berkuasa, mahakuasa, suci, dan benar. Hanya daging seperti itulah yang dapat melakukan hal yang benar dan berguna bagi umat manusia, yang kudus, mulia, dan besar, dan yang tidak akan melanggar kebenaran atau moralitas serta keadilan, apalagi hal apa pun yang mengkhianati Roh Tuhan.

Tuhan yang berinkarnasi disebut Kristus, dan Kristus adalah daging yang dikenakan oleh Roh Tuhan. Daging ini tidak seperti manusia mana pun yang terbuat dari daging. Perbedaan ini dikarenakan Kristus bukanlah daging dan darah, melainkan inkarnasi Roh. Ia memiliki kemanusiaan yang normal sekaligus keilahian yang lengkap. Keilahian-Nya tidak dimiliki oleh manusia mana pun. Kemanusiaan-Nya yang normal menunjang semua kegiatan normal-Nya dalam daging, sementara keilahian-Nya melaksanakan pekerjaan Tuhan sendiri. Baik kemanusiaan-Nya maupun keilahian-Nya, keduanya berserah pada kehendak Bapa surgawi. Substansi Kristus adalah Roh, yaitu keilahian. Oleh karena itu, substansi-Nya adalah substansi Tuhan sendiri. Substansi ini tidak akan menyela pekerjaan-Nya sendiri, dan Ia tidak mungkin melakukan apa pun yang merusak pekerjaan-Nya sendiri, ataupun mengucapkan perkataan yang bertentangan dengan kehendak-Nya sendiri. Oleh karena itu, Tuhan yang berinkarnasi tentunya tidak akan melakukan pekerjaan yang menyela pengelolaan-Nya sendiri. Inilah yang harus dipahami semua manusia. Inti pekerjaan Roh Kudus adalah menyelamatkan manusia dan demi kepentingan pengelolaan Tuhan sendiri. Begitu pula, pekerjaan Kristus bertujuan untuk menyelamatkan manusia dan demi kehendak Tuhan. Mengingat Tuhan menjadi daging, Ia pun mewujudkan substansi-Nya dalam daging-Nya, sehingga daging-Nya memadai untuk melaksanakan pekerjaan-Nya. Oleh karena itu, semua pekerjaan Roh Tuhan digantikan oleh pekerjaan Kristus selama masa inkarnasi, dan inti semua pekerjaan di sepanjang masa inkarnasi adalah pekerjaan Kristus. Pekerjaan tersebut tidak dapat dicampur dengan pekerjaan di zaman lain. Lalu, karena Tuhan menjadi daging, Ia bekerja dalam identitas daging-Nya. Karena Ia datang dalam daging, Ia pun menyelesaikan pekerjaan yang harus dilakukan-Nya dalam daging. Baik Roh Tuhan maupun Kristus, keduanya adalah Tuhan sendiri, dan Ia melakukan pekerjaan yang harus dilakukan-Nya serta melaksanakan pelayanan yang harus dilaksanakan-Nya.

Substansi Tuhan sendiri memiliki otoritas, tetapi Ia sanggup untuk sepenuhnya berserah pada otoritas yang datang dari-Nya. Baik pekerjaan Roh maupun pekerjaan daging tidaklah bertentangan satu sama lain. Roh Tuhan merupakan otoritas atas seluruh ciptaan. Daging dengan substansi Tuhan juga memiliki otoritas, tetapi Tuhan dalam daging dapat melakukan semua pekerjaan yang taat pada kehendak Bapa surgawi. Hal ini tidak dapat dicapai atau dipahami oleh manusia mana pun. Tuhan sendiri adalah otoritas, tetapi daging-Nya dapat berserah pada otoritas-Nya itu. Inilah makna yang terkandung dalam perkataan berikut: “Kristus taat pada kehendak Tuhan Bapa.” Tuhan adalah Roh dan dapat melakukan pekerjaan penyelamatan, sebagaimana Tuhan dapat menjadi manusia. Bagaimanapun juga, Tuhan sendiri melakukan pekerjaan-Nya sendiri. Ia tidak menyela atau mencampuri, apalagi melakukan pekerjaan yang saling bertentangan, sebab substansi pekerjaan yang dilakukan Roh dan daging itu serupa. Baik Roh maupun daging, keduanya bekerja untuk menggenapi satu kehendak dan mengelola pekerjaan yang sama. Meskipun Roh dan daging memiliki dua kualitas yang berbeda, substansi keduanya sama. Keduanya memiliki substansi Tuhan sendiri, dan identitas Tuhan sendiri. Tuhan sendiri tidak memiliki unsur ketidaktaatan. Substansi-Nya baik. Ia merupakan pengungkapan segala keindahan dan kebaikan, juga segenap kasih. Bahkan dalam daging, Tuhan tidak melakukan apa pun yang tidak menaati Tuhan Bapa. Ia bahkan bersedia mengorbankan nyawa-Nya dengan sepenuh hati dan tidak mengambil pilihan lain. Tuhan tidak memiliki unsur pembenaran diri atau mementingkan diri sendiri, atau unsur kesombongan dan keangkuhan. Ia tidak memiliki unsur kecurangan. Semua orang yang tidak menaati Tuhan berasal dari Iblis. Iblis adalah sumber segala keburukan dan kejahatan. Alasan mengapa manusia memiliki kualitas yang serupa dengan Iblis adalah karena manusia telah dicemari dan dipengaruhi Iblis. Kristus tidak dicemari oleh Iblis, sehingga Ia hanya memiliki karakter Tuhan dan tidak satu pun karakter Iblis. Betapa pun sukarnya pekerjaan atau lemahnya daging, saat hidup dalam daging, Tuhan tidak akan pernah melakukan apa pun yang menyela pekerjaan Tuhan sendiri, apalagi meninggalkan kehendak Tuhan Bapa dalam ketidaktaatan. Ia lebih memilih menanggung penderitaan daging daripada menentang kehendak Tuhan Bapa. Sebagaimana yang telah dikatakan Yesus dalam doa-Nya, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Manusia akan memilih, tetapi Kristus tidak. Meskipun Ia memiliki identitas Tuhan sendiri, Ia tetap mencari kehendak Tuhan Bapa dan menggenapi apa yang dipercayakan kepada-Nya oleh Tuhan Bapa, dari sudut pandang daging. Ini adalah hal yang tidak dapat dicapai manusia. Apa yang berasal dari Iblis tidak dapat memiliki substansi Tuhan, melainkan hanya substansi yang tidak menaati dan menentang Tuhan. Substansi itu tidak dapat sepenuhnya taat pada Tuhan, apalagi secara sukarela taat pada kehendak Tuhan. Semua manusia selain Kristus dapat melakukan hal yang menentang Tuhan, dan tak seorang pun dapat secara langsung melaksanakan pekerjaan yang dipercayakan oleh Tuhan. Tak seorang pun dapat menganggap pengelolaan Tuhan sebagai tugas yang harus mereka laksanakan sendiri. Berserah pada kehendak Tuhan Bapa merupakan substansi Kristus, sedangkan ketidaktaatan terhadap Tuhan merupakan karakter Iblis. Kedua kualitas ini tidak sesuai, dan siapa pun yang memiliki kualitas Iblis tidak dapat disebut Kristus. Alasan mengapa manusia tidak dapat melakukan pekerjaan Tuhan menggantikan-Nya adalah karena manusia tidak memiliki sedikit pun substansi Tuhan. Manusia bekerja untuk Tuhan demi kepentingan pribadi manusia dan harapan-harapannya di masa depan, tetapi Kristus bekerja untuk melaksanakan kehendak Tuhan Bapa.

Kemanusiaan Kristus dikuasai oleh keilahian-Nya. Meskipun Ia hidup dalam daging, kemanusiaan-Nya tidak sepenuhnya seperti manusia yang terbuat dari daging. Ia memiliki karakter unik-Nya sendiri, dan ini pun dikuasai oleh keilahian-Nya. Keilahian-Nya tidak memiliki kelemahan. Kelemahan Kristus mengacu pada kelemahan kemanusiaan-Nya. Sampai tingkat tertentu, kelemahan ini membatasi keilahian-Nya, tetapi batasan tersebut hanya dalam lingkup dan waktu tertentu, dan bukan tanpa batas. Ketika tiba saatnya untuk melaksanakan pekerjaan keilahian-Nya, pekerjaan itu dilakukan tanpa memandang kemanusiaan-Nya. Kemanusiaan Kristus sepenuhnya dikendalikan oleh keilahian-Nya. Terlepas dari kehidupan normal kemanusiaan-Nya, seluruh tindakan kemanusiaan-Nya dipengaruhi, digerakkan, dan dibimbing oleh keilahian-Nya. Meskipun Kristus memiliki kemanusiaan, hal itu tidak mengganggu pekerjaan keilahian-Nya. Hal ini karena kemanusiaan Kristus dibimbing oleh keilahian-Nya. Meskipun kemanusiaan-Nya tidak menjadi matang dalam tingkah laku-Nya di hadapan orang lain, hal itu tidak memengaruhi pekerjaan normal keilahian-Nya. Saat Aku berkata kemanusiaan-Nya tidak tercemar, maksud Aku adalah kemanusiaan Kristus dapat secara langsung dibimbing oleh keilahian-Nya, dan bahwa Ia memiliki akal yang lebih tinggi daripada manusia biasa. Kemanusiaan-Nya paling tepat dibimbing oleh keilahian dalam pekerjaan-Nya. Kemanusiaan-Nya paling sanggup mengungkapkan pekerjaan keilahian, juga paling sanggup berserah pada pekerjaan itu. Karena Tuhan bekerja dalam daging, Ia tidak pernah melupakan tugas yang harus digenapi oleh manusia di dalam daging. Ia dapat menyembah Tuhan di surga dengan hati yang tulus. Ia memiliki substansi Tuhan, dan identitas-Nya adalah identitas Tuhan sendiri. Hanya saja Ia telah datang ke bumi dan menjadi makhluk ciptaan, dengan kulit luar serupa makhluk ciptaan, dan kini memiliki kemanusiaan yang tidak Ia miliki sebelumnya. Ia dapat menyembah Tuhan di surga. Inilah wujud Tuhan sendiri dan tidak dapat ditiru manusia. Identitas-Nya adalah Tuhan sendiri. Dari sudut pandang daginglah Ia menyembah Tuhan. Oleh karena itu, perkataan “Kristus menyembah Tuhan di surga” tidaklah keliru. Apa yang diminta-Nya dari manusia adalah substansi-Nya sendiri. Ia telah mencapai semua yang diminta-Nya dari manusia sebelum meminta hal itu dari mereka. Ia tidak akan menuntut apa pun dari orang lain sementara Ia sendiri terbebas dari hal itu, sebab semua ini membentuk substansi-Nya. Dengan cara apa pun Ia melaksanakan pekerjaan-Nya, Ia tidak akan bertindak dengan cara yang tidak taat pada Tuhan. Apa pun yang diminta-Nya dari manusia, tuntutan-Nya tidak ada yang melebihi apa yang sanggup dicapai oleh manusia. Semua yang dilakukan-Nya adalah menjalankan kehendak Tuhan dan demi pengelolaan-Nya. Keilahian Kristus melampaui seluruh manusia, oleh karena itu Ia memiliki otoritas tertinggi atas seluruh makhluk ciptaan. Otoritas ini adalah keilahian-Nya, yaitu watak dan wujud Tuhan sendiri, yang menentukan identitas-Nya. Oleh karena itu, betapa pun normalnya kemanusiaan-Nya, tidak dapat disangkal bahwa Ia memiliki identitas Tuhan sendiri. Dari posisi mana pun Ia berbicara dan bagaimana Ia menaati kehendak Tuhan, tidak dapat dikatakan bahwa Ia bukanlah Tuhan sendiri. Manusia yang bodoh dan bebal seringkali menganggap kemanusiaan Kristus yang biasa sebagai cacat. Bagaimanapun Ia mengungkapkan dan menyingkapkan substansi keilahian-Nya, manusia tidak sanggup mengakui bahwa Ia adalah Kristus. Semakin Kristus menunjukkan ketaatan dan kerendahhatian-Nya, manusia bebal memandang Kristus dengan semakin remeh. Bahkan ada orang-orang yang mengucilkan dan menghina-Nya, tetapi menempatkan gambar mewah “orang-orang hebat” itu di atas meja untuk disembah. Perlawanan dan ketidaktaatan manusia terhadap Tuhan berasal dari fakta bahwa substansi Tuhan yang berinkarnasi berserah pada kehendak Tuhan, juga dari kemanusiaan Kristus yang biasa: di sinilah terletak sumber dari perlawanan dan ketidaktaatan manusia terhadap Tuhan. Jika Kristus tidak memiliki kemanusiaan-Nya atau tidak mencari kehendak Tuhan Bapa dari sudut pandang makhluk ciptaan, tetapi malah memiliki kemanusiaan yang luar biasa, maka mungkin tidak akan ada ketidaktaatan dalam diri manusia mana pun. Alasan mengapa manusia selalu bersedia percaya kepada Tuhan yang tidak kelihatan di surga adalah karena Tuhan di surga tidak memiliki kemanusiaan dan Ia tidak memiliki satu pun kualitas sebagai makhluk ciptaan. Jadi, manusia selalu memandang-Nya dengan penuh hormat, tetapi menghina Kristus.

Meskipun Kristus di bumi mampu bekerja atas nama Tuhan sendiri, Ia tidak datang dengan tujuan untuk menunjukkan gambaran-Nya dalam daging kepada seluruh manusia. Ia tidak datang supaya semua manusia melihat-Nya. Ia datang agar manusia dapat dituntun oleh tangan-Nya saat memasuki zaman baru. Fungsi daging Kristus adalah untuk pekerjaan Tuhan sendiri, yaitu untuk pekerjaan Tuhan dalam daging, dan bukan untuk memungkinkan manusia memahami sepenuhnya substansi daging-Nya. Bagaimana pun Ia bekerja, pekerjaan-Nya tidak akan melebihi apa yang mampu dicapai daging. Bagaimana pun Ia bekerja, Ia melakukannya dalam daging dengan kemanusiaan yang biasa, dan tidak sepenuhnya mengungkapkan rupa Tuhan kepada manusia. Terlebih lagi, pekerjaan-Nya dalam daging tidak pernah segaib atau tak ternilai seperti yang dibayangkan manusia. Meskipun Kristus mewakili Tuhan sendiri dalam daging dan secara pribadi melaksanakan pekerjaan yang harus dilangsungkan Tuhan sendiri, Ia tidak menyangkal keberadaan Tuhan di surga, ataupun menyatakan perbuatan-perbuatan-Nya sendiri dengan terburu-buru. Akan tetapi, Ia malah menyembunyikan diri-Nya dalam daging dengan rendah hati. Selain Kristus, orang-orang yang mengaku sebagai Kristus tidak memiliki kualitas-kualitas-Nya. Saat disejajarkan dengan watak para Kristus palsu yang sombong dan tinggi hati itu, jelas terlihat bagaimana daging Kristus yang sejati. Semakin besar kepalsuan mereka, semakin menjadi-jadi para Kristus palsu itu memamerkan diri, dan semakin cakap juga mereka dalam melakukan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat untuk menipu manusia. Para Kristus palsu tidak memiliki kualitas-kualitas Tuhan. Kristus tidak dinodai oleh unsur apa pun yang dimiliki para Kristus palsu. Tuhan menjadi daging hanya untuk menyempurnakan pekerjaan daging, bukan sekadar mengizinkan manusia untuk melihat-Nya. Malah, Ia membiarkan pekerjaan-Nya menegaskan identitas-Nya, dan memungkinkan apa yang diungkapkan-Nya membuktikan substansi-Nya. Substansi-Nya tidaklah tanpa dasar. Identitas-Nya tidak diraih tangan-Nya, melainkan ditentukan oleh pekerjaan-Nya dan substansi-Nya. Meskipun Ia memiliki substansi Tuhan sendiri dan mampu melakukan pekerjaan Tuhan sendiri, Ia masih tetap daging yang berbeda dari Roh. Ia bukanlah Tuhan dengan kualitas-kualitas Roh, melainkan Tuhan dengan lapisan luar berupa daging. Oleh karena itu, betapa pun normal dan lemahnya Ia, dan bagaimana pun Ia mencari kehendak Tuhan Bapa, keilahian-Nya tidak dapat disangkal. Dalam Tuhan yang berinkarnasi tidak hanya ada kemanusiaan yang biasa beserta kelemahan-kelemahannya, tetapi juga ada lebih banyak keajaiban keilahian-Nya yang tak terselami, juga seluruh perbuatan-Nya dalam daging. Oleh karena itu, baik kemanusiaan maupun keilahian sungguh-sungguh dan memang ada dalam diri Kristus. Hal ini sama sekali tidak kosong atau gaib. Ia datang ke bumi dengan tujuan utama untuk melaksanakan pekerjaan. Memiliki kemanusiaan yang biasa merupakan keharusan untuk dapat melakukan pekerjaan di bumi. Jika tidak, betapa pun hebatnya kuasa keilahian-Nya, fungsinya yang mula-mula tidak dapat dimanfaatkan. Meskipun kemanusiaan-Nya amat penting, hal itu bukanlah substansi-Nya. Substansi-Nya adalah keilahian. Oleh karena itu, saat Ia mulai melaksanakan pelayanan-Nya di bumi adalah saat Ia memulai mengungkapkan wujud keilahian-Nya. Kemanusiaan-Nya hanya untuk menunjang kehidupan normal daging-Nya sehingga keilahian-Nya dapat melaksanakan pekerjaan sebagaimana yang biasa dilakukan dalam daging. Keilahianlah yang mengarahkan seluruh pekerjaan-Nya. Saat Ia menuntaskan pekerjaan-Nya, itu berarti Ia telah menggenapi pelayanan-Nya. Apa yang harus diketahui manusia adalah keseluruhan pekerjaan-Nya, dan melalui pekerjaan-Nya, Ia memampukan manusia untuk mengenal-Nya. Selama pelaksanaan pekerjaan-Nya, Ia sepenuhnya mengungkapkan wujud keilahian-Nya, yaitu watak yang tidak dinodai oleh kemanusiaan, atau jati diri yang dinodai oleh pikiran dan sikap manusia. Saat semua pelayanan-Nya telah berakhir, berarti Ia telah mengungkapkan watak yang harus diungkapkan-Nya dengan sempurna dan sepenuhnya. Pekerjaan-Nya tidak diperintahkan oleh manusia mana pun. Pengungkapan watak-Nya juga bebas, tidak dikendalikan oleh pikiran atau dipengaruhi penalaran, melainkan diungkapkan secara alami. Hal ini tidak dapat dicapai oleh manusia mana pun. Bahkan jika lingkungan di sekeliling menyulitkan dan keadaan tidak memungkinkan, Ia mampu mengungkapkan watak-Nya di saat yang tepat. Pribadi yang merupakan Kristus mengungkapkan substansi Kristus, sementara yang bukan Kristus tidak memiliki watak Kristus. Oleh karena itu, bahkan jika semua orang melawan-Nya atau memiliki konsepsi-konsepsi tentang-Nya, tak seorang pun dapat menyangkal berdasarkan konsepsi-konsepsi manusia bahwa watak yang diungkapkan oleh Kristus adalah watak Tuhan. Semua orang yang mencari Kristus dengan segenap hati atau mencari Tuhan dengan bersungguh-sungguh akan mengakui bahwa Ia adalah Kristus berdasarkan pengungkapan keilahian-Nya. Mereka tidak akan pernah menyangkal Kristus berdasarkan aspek apa pun dalam diri-Nya yang tidak sesuai dengan konsepsi-konsepsi manusia. Meskipun manusia itu bebal, semua mengetahui dengan tepat apa kehendak manusia dan apa yang berasal dari Tuhan. Hanya saja, banyak orang sengaja melawan Kristus karena maksud mereka sendiri. Jika bukan karena hal tersebut, tak seorang pun memiliki alasan untuk menyangkal keberadaan Kristus, sebab keilahian yang diungkapkan Kristus memang ada, dan pekerjaan-Nya dapat disaksikan oleh mata kepala semua orang.

Pekerjaan dan pengungkapan Kristus menentukan substansi-Nya. Ia sanggup menunaikan apa yang telah dipercayakan kepada-Nya dengan segenap hati. Ia sanggup menyembah Tuhan di surga dengan segenap hati, dan dengan segenap hati mencari kehendak Tuhan Bapa. Semua ini ditentukan oleh substansi-Nya. Demikian pula pewahyuan alami-Nya ditentukan oleh substansi-Nya. Alasan mengapa pewahyuan-Nya disebut alami karena pengungkapan-Nya bukanlah tiruan, ataupun didikan manusia, atau hasil pengembangan bertahun-tahun manusia. Ia tidak mempelajarinya ataupun memperelok diri-Nya dengan hal itu, tetapi semua itu memang sudah melekat di dalam diri-Nya. Manusia mungkin menyangkal pekerjaan-Nya, pengungkapan-Nya, kemanusiaan-Nya, dan seluruh kehidupan kemanusiaan-Nya yang biasa, tetapi tak seorang pun dapat menyangkal bahwa Ia menyembah Tuhan di surga dengan segenap hati. Tak seorang pun dapat menyangkal bahwa Ia telah datang untuk menggenapi kehendak Tuhan di surga, dan tak seorang pun dapat menyangkal ketulusan-Nya dalam mencari Tuhan Bapa. Meskipun gambaran-Nya tidak menyenangkan akal-akal, khotbah-Nya tidak terasa luar biasa, dan pekerjaan-Nya tidak menggemparkan dunia atau mengguncang surga seperti yang dibayangkan manusia, Ia memang Kristus, yang menggenapi kehendak Bapa surgawi dengan segenap hati, sepenuhnya berserah kepada Bapa surgawi, dan taat sampai mati. Ini karena substansi-Nya adalah substansi Kristus. Kebenaran ini sulit dipercaya manusia tetapi benar-benar ada. Saat pelayanan Kristus telah sepenuhnya tergenapi, manusia akan dapat melihat dari pekerjaan-Nya bahwa watak dan substansi-Nya mewakili watak dan substansi Tuhan di surga. Pada saat itu, keseluruhan pekerjaan-Nya dapat meneguhkan bahwa Ia memang Firman yang menjadi manusia, dan tidak serupa dengan daging dan darah manusia.

Dia berusaha keras bagi kita, kurang tidur dan makan demi kita, menangisi kita, mengeluh karena kita, merintih dalam sakit bagi kita, dihina bagi tempat tujuan dan keselamatan kita, dan hati-Nya berdarah dan menangis karena pemberontakan dan kekerasan hati kita. Wujud dan kepemilikan-Nya melampaui orang biasa dan tidak bisa diperoleh atau didapat oleh orang yang rusak. Dia memiliki kesabaran dan toleransi yang tidak dimiliki orang biasa dan kasih-Nya tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan lainnya. Tidak ada orang selain Dia yang bisa tahu seluruh pikiran kita atau mengerti sifat dan substansi kita, atau menghakimi pemberontakan dan kerusakan manusia atau berbicara kepada kita dan bekerja di antara kita seperti ini mewakili Tuhan di surga. Tidak ada orang selain Dia yang bisa memiliki otoritas, hikmat, dan kewibawaan Tuhan; watak Tuhan dan apa yang dimiliki-Nya dan siapa Dia dinyatakan dalam seluruh keberadaannya, dari Dia. Tidak ada orang selain Dia yang bisa menunjukkan jalan dan membawa terang kepada kita. Tidak ada orang selain Dia yang bisa menyatakan misteri yang belum Tuhan bukakan sejak penciptaan sampai sekarang. Tidak ada orang selain Dia yang bisa menyelamatkan kita dari ikatan Iblis dan watak kita sudah rusak. Dia mewakili Tuhan dan mengungkapkan isi hati Tuhan, dorongan Tuhan, dan firman-firman penghakiman Tuhan terhadap seluruh umat manusia. Dia telah memulai zaman baru, era baru, dan membawa langit dan bumi baru, pekerjaan baru, dan membawa kita harapan, dan mengakhiri hidup yang kita jalani dalam kesamaran dan memungkinkan kita memandang jalan kesalamatan dengan utuh. Dia sudah menaklukkan seluruh keberadaan kita dan mendapatkan hati kita. Sejak saat itu, pikiran kita menjadi sadar dan roh kita dibangkitkan. Orang biasa yang tidak penting ini, yang hidup di antara kita dan sudah lama ditolak oleh kita—bukankah Dia Tuhan Yesus yang selalu ada dalam pikiran kita dan kita rindukan siang dan malam? Itu Dia! Itu benar-benar Dia! Dia Tuhan kita! Dia jalan, kebenaran dan kehidupan!

Apa pun zaman dan di mana pun tempat Tuhan berinkarnasi, prinsip pekerjaan-Nya dalam daging tetap tidak berubah. Ia tidak dapat menjadi daging namun melampaui daging tersebut untuk bekerja. Selain itu, Ia tidak dapat menjadi daging namun tidak bekerja di dalam kemanusiaan yang biasa dari daging itu. Jika tidak, makna penting inkarnasi Tuhan akan menjadi hampa, dan makna penting Firman menjadi daging menjadi tidak ada artinya sama sekali. Selain itu, hanya Bapa di surga (Roh Kudus) yang mengetahui inkarnasi Tuhan, dan tidak ada yang mengetahuinya selain Dia, bahkan tidak daging itu sendiri ataupun para utusan dari surga. Karena itu, pekerjaan Tuhan dalam daging bahkan menjadi lebih normal dan lebih mampu menunjukkan bahwa memang Firman itu telah menjadi daging; daging yang berarti manusia normal dan biasa.

Daging ini adalah manusia dan juga Tuhan, manusia dengan kemanusiaan-Nya yang normal dan juga Tuhan dengan keilahian-Nya yang penuh. Maka, meskipun daging ini bukanlah Roh Tuhan, dan berbeda sekali dari Roh, daging ini adalah Tuhan sendiri yang berinkarnasi, yang menyelamatkan manusia, yang adalah Roh juga daging. Tak peduli disebut siapa Dia, yang terpenting dia adalah Tuhan itu sendiri yang menyelamatkan umat manusia. Karena Roh Tuhan tak terpisahkan dari daging, dan pekerjaan daging juga adalah pekerjaan Roh Tuhan; hanya saja pekerjaan ini tak dikerjakan dengan identitas Roh, melainkan identitas daging.

Apa yang tercakup dalam ungkapan Roh? Terkadang Tuhan yang praktis bekerja dalam kemanusiaan, dan terkadang dalam keilahian—tetapi secara keseluruhan, Rohlah yang berkuasa dalam kedua kondisi tersebut. …Tuhan yang praktis yang sedang dibicarakan saat ini bekerja dalam kemanusiaan dan keilahian. Melalui penampakan Tuhan yang praktis, pekerjaan dan kehidupan kemanusiaan yang biasa-Nya serta keseluruhan pekerjaan ilahi-Nya tercapai. Kemanusiaan dan keilahian-Nya tergabung menjadi satu, dan pekerjaan keduanya[a] dicapai melalui firman. Baik dalam kemanusiaan maupun keilahian, Ia mengucapkan firman. Ketika Tuhan bekerja di dalam kemanusiaan, Ia berbicara dengan bahasa manusia, sehingga orang dapat terlibat dan paham. Firman-Nya diucapkan secara sederhana dan mudah dipahami, sehingga dapat diberikan kepada semua orang. Baik orang-orang yang memiliki pengetahuan maupun kurang berpendidikan, mereka semua dapat menerima firman Tuhan. Pekerjaan Tuhan dalam keilahian juga dilakukan melalui firman-Nya, tetapi pekerjaan-Nya ini penuh dengan perbekalan, penuh dengan kehidupan, tidak tercemar oleh ide-ide manusia, tidak melibatkan preferensi manusia, dan tanpa batas-batas manusia, berada di luar batas-batas kemanusiaan yang biasa mana pun. Pekerjaan ini juga dilakukan dalam daging, tetapi merupakan ungkapan langsung Roh. … Penampakan Tuhan di dalam daging berarti semua pekerjaan dan firman Roh Tuhan dilakukan melalui kemanusiaan-Nya yang biasa, dan melalui inkarnasi daging-Nya. Dengan kata lain, Roh Tuhan mengarahkan pekerjaan kemanusiaan-Nya dan melakukan pekerjaan keilahian di dalam daging, dan di dalam Tuhan yang berinkarnasi engkau bisa melihat pekerjaan Tuhan dalam kemanusiaan dan pekerjaan-Nya yang sepenuhnya ilahi. Inilah makna sejati penampakan Tuhan yang praktis dalam daging. Jika bisa melihat ini dengan jelas, engkau akan dapat mengaitkan semua bagian Tuhan yang berbeda, dan tidak akan menempatkan nilai yang terlalu tinggi terhadap pekerjaan-Nya dalam keilahian, dan behenti meremehkan pekerjaan-Nya di dalam kemanusiaan, dan engkau tidak akan bersikap berlebihan, atau melenceng. Secara keseluruhan, arti dari Tuhan yang praktis adalah pekerjaan kemanusiaan dan keilahian-Nya yang diarahkan oleh Roh, diungkapkan melalui daging-Nya, sehingga orang dapat melihat bahwa Ia kasatmata dan hidup, serta nyata dan konkret.

Misteri Alkitab

Bagaimana memahami Wahyu yang selaras dengan kehendak Tuhan

Renungan firman Tuhan Kristen mengungkapkan rahasia untuk Anda, dan membiarkan Anda memahami arti inkarnasi Tuhan untuk melakukan pekerjaan keselamatan.

Oleh Wang Wei, Tiongkok

Alkitab mengatakan: “Ketahuilah ini terlebih dahulu, tidak ada nubuat dalam Kitab Suci yang berasal dari penafsiran pribadi. Karena nubuat itu datang pada zaman dahulu bukan karena kehendak manusia, tetapi orang-orang kudus Tuhan berbicara ketika mereka digerakkan oleh Roh Kudus” (2 Petrus 1:20-21). “Yang dipelintir oleh mereka yang tidak terpelajar dan goyah, seperti yang mereka lakukan juga terhadap tulisan kitab suci lainnya, untuk kehancuran mereka sendiri” (2 Petrus 3:16). “Sebab yang tertulis membawa kematian, tetapi roh memberi kehidupan” (2 Korintus 3:6). Ayat-ayat ini memberi tahu kita bahwa kita tidak dapat menafsirkan nubuatan yang benar-benar mengandalkan pemahaman dan imajinasi kita, karena nubuat itu berasal dari Tuhan, dan hanya melalui pencerahan Roh Kuduslah kita dapat memahaminya. Namun, sebelum nubuat digenapi, mudah bagi kita untuk mengandalkan gagasan kita sendiri dan menafsirkannya secara harfiah. Ini menjadikannya mudah untuk salah menafsirkan nubuat. Dan penafsiran absurd kita akan menyesatkan orang lain. Misalnya, ketika menyangkut nubuat tentang kedatangan Mesias, orang-orang Farisi mengandalkan gagasan mereka sendiri. Sebelum Tuhan Yesus lahir, berdasarkan makna harfiah dari nubuat dalam Yesaya 7:14, 9:6-7 dan Mikha 5:2, mereka membayangkan kedatangan Mesias: Mesias akan dilahirkan dari seorang anak dara di Betlehem, dan diberi nama Imanuel; Dia akan tumbuh besar di istana dan memerintah Israel selagi duduk di atas takhta. Namun, ketika nubuat-nubuat itu digenapi, cara mereka membayangkan Dia akhirnya bertentangan dengan fakta. Yang sebenarnya mereka saksikan adalah: Tuhan lahir dari Maria yang sudah menikah dan menjadi anggota keluarga tukang kayu, dan dipanggil Yesus; Dia datang dari Nazaret, dan pada akhirnya dipakukan di kayu salib. Ini sangat berbeda dari arti harfiah nubuat-nubuat itu. Oleh karena itu, meskipun mereka melihat bahwa pekerjaan dan pemberitaan Tuhan Yesus memiliki otoritas dan kuasa, orang-orang Farisi tidak mengakui Tuhan Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan. Sebaliknya, mereka bahkan menghujat Tuhan Yesus, dengan mengatakan bahwa Dia bergantung pada pangeran setan untuk mengusir roh-roh jahat. Dengan demikian, mereka melakukan dosa penghujatan terhadap Roh Kudus, menyinggung watak Tuhan, dan tidak akan pernah mendapatkan pengampunan dari Tuhan. Dan orang-orang awam yang tidak memiliki kepekaan dan percaya apa yang dikatakan orang-orang Farisi juga kehilangan keselamatan Tuhan. Dari contoh ini, kita dapat melihat bahwa karena orang-orang Farisi berpegang pada imajinasi mereka dan makna harfiah dari nubuat-nubuat itu, mereka menghancurkan diri mereka sendiri dan juga orang lain.

Lanjutkan membaca “Bagaimana memahami Wahyu yang selaras dengan kehendak Tuhan”
Kesaksian Kristen

Hubungan suami dan istri: Bagaimana mengatasi kecurigaan antara suami dan istri

Mendengarkan firman Tuhan pagi ini akan membuat Anda tahu lebih banyak tentang misteri pekerjaan Tuhan dan menjadi orang yang mengenal Tuhan dan diberkati oleh Tuhan.”

Kecurigaan timbul disebabkan oleh tebakan dan keraguan kita yang tak berdasar. Ini adalah penghalang terbesar bagi hubungan suami istri dan juga bahaya tersembunyi yang merusakkan hubungan suami istri. Lebih parah lagi, itu dapat menghancurkan sebuah keluarga yang bahagia. Jadi, bagaimana cara untuk mengatasi krisis pernikahan yang disebabkan oleh kecurigaan?

Kecurigaan yang menyebabkan badai di dalam keluarga
Sudah 22 tahun sejak saya berpacaran sampai menikahi istri saya. Biasanya saya bekerja mencari uang dan istri saya merawat anak di rumah. Kadang-kadang saya dan istri saya berselisih pendapat tetapi kami bisa berdamai dengan cepat. Kehidupan kami sangat biasa dan bahagia. Sampai beberapa hari yang lalu, istri saya tiba-tiba mendapatkan pekerjaan dan ada sesuatu yang akan menghancurkan kehidupan kami yang tenang…

Lanjutkan membaca “Hubungan suami dan istri: Bagaimana mengatasi kecurigaan antara suami dan istri”
Kesaksian Kristen

Tujuh belas hari antara hidup dan mati

Bagaimana cara berdoa dengan baik? Mengamalkan firman Tuhan dan berdoa kepada Tuhan untuk pertumbuhan hidup. Dengan ini, Anda bisa mendapatkan bimbingan dan berkat Tuhan.

Setelah menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, meskipun aku menghadiri kebaktian, hatiku sering kali tidak ada di sana. Aku malah selalu berpikir tentang bagaimana menghasilkan banyak uang dan menjalani kehidupan sebagai orang yang sangat sukses. Aku tidak pernah benar-benar memperlakukan kepercayaan pada Tuhan dengan serius. Baru ketika mendapati diriku di ambang kematian, aku akhirnya mengalami kebangkitan.

September adalah waktu terbaik untuk memetik kacang berangan. Untuk memanfaatkan peluang menghasilkan uang ini, pada suatu pagi, aku membawa kedua anakku ke atas gunung untuk membantuku mengumpulkannya. Begitu tiba di atas gunung, aku memanjat sebuah pohon berangan yang tingginya lebih dari sembilan meter dan, sambil berdiri di atas dahan yang menggantung lebih dari enam meter di atas tanah, aku memukul keras pohon itu dengan batang bambu untuk membuat kacang berangan berjatuhan ke tanah. Setelah memukul-mukul pohon itu selama sekitar satu jam, tiba-tiba aku mendengar suara retakan dan langsung menyadari bahwa dahan tempatku berdiri telah patah. Aku berpikir dalam hati: matilah aku. Ada bebatuan di kedua sisi di bawah sana serta tonggak-tonggak bambu yang patah. Apakah aku jatuh ke atas batu ataukah tonggak bambu, aku akan mati …. Saat jatuh bersama dahan itu, aku buru-buru memanggil Tuhan untuk menyelamatkanku. Aku jatuh ke sebidang tanah tanpa batu ataupun tonggak bambu, tetapi kepalaku membentur patahan dahan tersebut, dan aku dikejutkan oleh ledakan rasa sakit. Aku sulit bernapas, dan rasanya seperti tercekik. Tangan kananku kemudian mulai membengkak dan mati rasa. Perlahan-lahan, aku mengangkat tangan kiri dan kaki kiriku dan mendapati bahwa aku masih bisa menggerakkannya. Yang bisa aku dengar saat itu hanyalah dua anakku yang menangis dan menjerit, “Ayah! Ayah jatuh dari atas pohon ….” Mendengar anak-anakku meratap, aku ingin menjawab tetapi tidak bisa mengeluarkan suara. Aku buru-buru berdoa kepada Tuhan: “Ya Tuhan, sekarang aku telah jatuh dari pohon dan aku takut aku akan mati. Aku merasa sangat kesusahan dan lemah. Tolong berilah aku iman!” Setelah berdoa, aku memikirkan firman Tuhan: “Tuhan Yang Mahakuasa adalah dokter yang maha mampu! … Seandainya engkau tinggal mempunyai satu tarikan nafas terakhir, Tuhan takkan pernah membiarkanmu mati.” Ya, pikirku. Tuhan adalah Tuhan yang Mahakuasa; Dia mengatur semua hal dan mengendalikan nasib umat manusia. Aku harus memiliki iman kepada Tuhan, karena hidup dan matiku ada di tangan-Nya. Jika sekarang belum waktuku, maka Tuhan tidak akan membiarkan aku mati meskipun hanya tinggal satu napas yang tersisa …. Firman Tuhan memberiku harapan dan keberanian, dan ketakutan yang aku rasakan di hatiku jauh berkurang.

Lanjutkan membaca “Tujuh belas hari antara hidup dan mati”
Renungan Harian

Apakah Anda Tahu Bagaimana Cara Menyelesaikan Amarah

Aku telah percaya pada Tuhan Yesus selama bertahun-tahun, dan selalu hidupku, aku hidup dalam dosa dan mengaku dosa, terutama pada darahku yang lebih tinggi, tidak peduli apakah itu di rumah, atau di kantor. Ketika orang lain bicara, dan melakukan suatu hal yang tidak sesuai dengan keinginanku, aku selalu tidak bisa mengendalikan amarahku, dan masalah ini membuat aku sangat tersiksa. Aku ingin mencari, bagaimana cara menyelesaikan masalah amarahku, dan tidak hidup dalam dosa, serta mempraktikan ajaran Tuhan Yesus?

Jawaban :

Halo ! Pertanyaan yang anda ajukan adalah masalah umum mayoritas orang percaya, Jika kita ingin menyelesaikan masalah amarah, pertama-tama kita harus menemukan sumber akar dari amarah kita. Faktanya, ketika kita mengalami suatu hal yang tidak sesuai dengan kehendak kita, kita sering kali marah, dan menyingkapkan darah panas, itu semua karena didominasi oleh sifat alami dosa dari dalam. Contohnya, kita didominasi oleh sifat alami yang sombong dan angkuh, kita merasa bahwa kita sempurna dalam segala hal, pandangan kita adalah pandangan yang paling benar, semua ingin diputuskan oleh diri sendiri, dan membiarkan orang lain mengikuti kita. Karena itu, tidak peduli apakah kita bergaul, baik dengan keluarga, teman, atau rekan kerja, begitu orang lain melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan gagasan kita, atau tidak mendengarkan kita, kita tidak bisa tidak mengendalikan amarah kita untuk mengajari orang lain; Kita telah didominasi oleh sifat alami yang congkak, dan serakah, hanya memikirkan keuntungan, dan manfaat diri sendiri. Begitu kita kehilangan keuntungan kita, kita tidak bisa menahan amarah kita, dan emosi kita tersingkap. Dapat dilihat dari sini, bahwa kita marah, dan emosi tersingkap tanpa kita sadari, semua disebabkan karena sifat alami dosa kita. Jika sifat alami dosa kita tidak diselesaikan, maka kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah amarah. Bahkan jika kita berusaha untuk menahan diri kita, ketika kita mengalami hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, kita hanya bisa menahan diri untuk sementara waktu, dan mungkin kita akan kembali meledak tentang hal lainnya.


Beberapa orang mungkin bertanya, bukankah dosa kita telah diampuni dengan menerima keselamatan dari Tuhan Yesus? Mengapa Anda masih bisa marah tanpa sadar di bawah kendali sifat kerusakan, dan tidak bisa menyingkirkan belenggu dosa? Mari kita memahami dengan membaca dua bagian dari firman Tuhan terlebih dahulu. Tuhan berkata: “Dosa manusia diampuni melalui Tuhan yang berinkarnasi, namun bukan berarti manusia tidak lagi memiliki dosa dalam dirinya. Dosa manusia dapat diampuni melalui korban penghapusan dosa, tetapi manusia belum mampu menyelesaikan masalah bagaimana ia dapat untuk tidak lagi berbuat dosa dan bagaimana agar sifat dosanya dapat dibuang sepenuhnya dan diubahkan. Dosa manusia diampuni karena pekerjaan penyaliban Tuhan, tetapi manusia tetap hidup dalam watak lama Iblis yang rusak. Dengan demikian, manusia harus sepenuhnya diselamatkan dari watak rusak Iblis sehingga sifat dosa manusia sepenuhnya dibuang dan tidak akan pernah lagi berkembang, sehingga memungkinkan watak manusia berubah. Hal ini mengharuskan manusia memahami jalan pertumbuhan dalam kehidupan, jalan hidup, dan cara untuk mengubah wataknya. Hal ini juga mengharuskan manusia untuk bertindak sesuai dengan jalan ini sehingga watak manusia dapat secara bertahap diubahkan dan ia dapat hidup di bawah cahaya terang, sehingga segala sesuatu yang ia lakukan sesuai dengan kehendak Tuhan, sehingga ia dapat membuang watak rusak Iblisnya, dan supaya dia dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kegelapan Iblis, sehingga ia pun benar-benar lepas dari dosa.”

Lanjutkan membaca “Apakah Anda Tahu Bagaimana Cara Menyelesaikan Amarah”