Firman Tuhan · Kesaksian Kristen

Pengalamanku Mengajarkan Injil (II)

iman, Iman Kristen, cinta Tuhan,Oleh Heyi, Malaysia

Pengajaran Injil Tidak Pernah Berhenti

Beberapa hari kemudian, secara tak terduga aku mendapat telepon dari Saudara Amei, yang tinggal di Myanmar. Dia adalah seorang yang memiliki kemanusiaan yang baik dan merupakan seorang percaya yang sejati kepada Tuhan. Karena itu, aku mengabarkan injil Tuhan akhir zaman kepadanya dan berbagi kebenaran nama Tuhan dengannya. Setelah mendengarnya, dia ingin tahu lebih banyak mengenai kebenaran pekerjaan Tuhan dan nama Tuhan, sehingga aku mengundangnya untuk hadir di pertemuan kami. Lanjutkan membaca “Pengalamanku Mengajarkan Injil (II)”

Firman Tuhan · Kisah dalam Alkitab

Apakah Anda tahu di mana kebijaksanaan gadis-gadis bijaksana

dimana Tuhan, Ajaran Yesus, kedatangan Yesus yang kedua,Saudari Mu Zhen,

Damai sejahtera bagi Anda di dalam Tuhan! Saya sangat senang Anda telah menulis kepada kami. Dalam surat, Anda menyebutkan bahwa hari kedatangan Tuhan sudah dekat, dan bahwa Anda dengan sengaja membaca Alkitab dan berdoa lebih banyak, dan melakukan lebih banyak pekerjaan bagi Tuhan agar Anda dapat menjadi salah satu gadis bijaksana yang senantiasa berjaga-jaga menunggu kedatangan Tuhan. Namun, hal-hal ini belum mempertajam kepekaan rohani Anda atau meningkatkan iman atau kasih Anda kepada Tuhan. Anda bingung apakah Anda sudah bisa dianggap sebagai gadis bijaksana dengan cara melakukan hal-hal di atas, Lanjutkan membaca “Apakah Anda tahu di mana kebijaksanaan gadis-gadis bijaksana”

Firman Tuhan · Misteri Alkitab

Di Zaman Ketika Sulit Membedakan Antara yang Benar dan yang Salah, Kita Hanya Dapat Menerima Tuhan dengan Belajar Membedakan Kristus-kristus Palsu

iman, berdoa, agama Kristen,Konsentris Malaysia

Sudahkah Anda menerima uang palsu? Banyak dari Anda akan menjawab. Di era uang kertas palsu, akankah Anda menolak membayar karena takut menerima uang kertas palsu? Tentu saja tidak, karena begitu Anda dapat membedakan antara yang asli dan yang palsu, Anda tidak lagi waspada. Jadi, mereka yang benar-benar merindukan kedatangan  Tuhan ?  Anda datang kembali bagaimana mereka harus berurusan dengan isu-isu timbul Kristus-Kristus palsu? Haruskah mereka membela dan menghindari hal-hal? Atau haruskah Anda berkonsentrasi mendengarkan suara Tuhan? Ini tentang apakah kita dapat menerima Tuhan. Suatu kali, saya berhati-hati untuk tidak tersesat oleh Kristus palsu dan hampir kehilangan kesempatan untuk menerima Tuhan. Lanjutkan membaca “Di Zaman Ketika Sulit Membedakan Antara yang Benar dan yang Salah, Kita Hanya Dapat Menerima Tuhan dengan Belajar Membedakan Kristus-kristus Palsu”

Firman Tuhan · Kesaksian Kristen

Seseorang yang dibutakan oleh rumor telah bangkit (I)

suara Tuhan, firman Tuhan, kedatangan Kristus yang kedua,

Oleh Heyi, Malaysia

Menemukan Sumber Air Kehidupan yang Hidup

Ketika aku muda, karena orangtuaku sering kali bepergian ke tempat-tempat lain untuk bisnis, kakak perempuanku menjadi penyokong rohaniku. Pada usia 15 tahun, bibiku yang sudah berusia lanjut mengajarkan injil kepada kakakku dan aku dan kemudian kami mulai percaya kepada Tuhan. Setelah menikah, suamiku menjadi pencandu narkoba, sehingga aku tidak punya pilihan lain kecuali menceraikannya. Aku mengungsi, dengan dua anakku yang masih kecil, ke rumah kakakku, dan aku mulai bekerja melayani Tuhan di gereja yang dipimpin oleh kakak iparku. Lanjutkan membaca “Seseorang yang dibutakan oleh rumor telah bangkit (I)”

Firman Tuhan · Renungan Harian

Lingkungan Hidup Dasar yang Diciptakan Tuhan bagi Umat Manusia—Udara

Menikmati udara segar

Pertama, Tuhan menciptakan udara supaya manusia dapat bernapas. Bukankah “udara” ini adalah udara yang bersentuhan dengan kehidupan manusia setiap harinya? Bukankah udara adalah hal yang padanya manusia tergantung setiap saat, bahkan ketika sedang tidur sekalipun? Udara yang Tuhan ciptakan sangat penting bagi umat manusia: Itu adalah bagian penting dari tiap helaan napas mereka dan hidup itu sendiri. Zat ini, yang hanya dapat dirasa, namun tidak dapat dilihat, adalah anugerah pertama Tuhan kepada segala sesuatu. Setelah menciptakan udara, apakah Tuhan lalu tutup toko? Setelah menciptakan udara, apakah Tuhan memikirkan kerapatan udara itu? Apakah Tuhan memikirkan isi udara? (Ya) Apa yang Tuhan pikirkan ketika Dia menciptakan udara? Mengapa Tuhan menciptakan udara, dan apa pemikiran-Nya? Manusia membutuhkan udara, dan mereka perlu bernapas. Pertama, kerapatan udara harus cocok dengan paru-paru manusia. Apakah ada yang tahu kerapatan udara? Ini bukanlah hal yang perlu diketahui manusia; tidak perlu manusia mengetahui hal ini. Kita tidak perlu angka tepat yang berkaitan dengan berat jenis udara, dan memiliki pengetahuan umum saja sudah cukup. Tuhan menciptakan udara dengan kerapatan yang paling cocok agar paru-paru manusia dapat bernapas. Oleh sebab itu, manusia merasa nyaman dan tidak akan membahayakan tubuh saat mereka bernapas. Inilah gagasan di balik kerapatan udara. Lalu kita akan bicara tentang kandungan udara. Pertama-tama, udara tidak beracun bagi manusia, karena itu tidak akan merusak paru-paru dan tubuh. Tuhan harus memikirkan semua ini. Tuhan harus memikirkan bahwa udara yang dihirup manusia harus keluar masuk dengan lancar, dan bahwa setelah dihirup, kandungan dan jumlahnya harus sedemikian rupa hingga darah dan pembuangan udara di paru-paru dan tubuh harus beredar dengan baik, juga agar udara tidak boleh mengandung racun sama sekali. Aku tidak mau memberikanmu setumpuk ilmu pengetahuan tentang kedua standar ini, namun cukup memberitahukan kepadamu bahwa Tuhan memiliki proses pemikiran yang spesifik saat Dia menciptakan setiap hal─yaitu yang terbaik. Sedangkan mengenai jumlah debu udara, jumlah debu, pasir dan tanah di bumi, termasuk debu yang melayang turun dari langit, Tuhan juga sudah punya rencana atas semua ini–suatu cara untuk membersihkan atau menyelesaikan semuanya ini. Bila ada debu, Tuhan mengaturnya sedemikian rupa hingga debu itu tidak akan mencelakai tubuh dan pernapasan manusia, dan ukuran serpihan debu tersebut tidak akan sampai melukai tubuh. Tidakkah penciptaan Tuhan atas udara ini sungguh misterius? Apakah hanya sesederhana meniupkan udara dari mulut-Nya? (Tidak.) Bahkan dalam ciptaan-Nya yang paling sederhana pun, misteri, pikiran, pemikiran, dan kebijaksanaan-Nya jelas terlihat. Apakah Tuhan nyata? (Ya.) Hal ini untuk menyatakan bahwa bahkan dalam menciptakan sesuatu yang sederhana, Tuhan memikirkan manusia. Pertama-tama, udara yang dihirup manusia itu bersih, kandungannya cocok untuk pernapasan manusia, tidak beracun dan tidak akan mencelakai manusia, juga kerapatannya terukur untuk pernapasan manusia. Udara yang dihirup dan dihembuskan manusia penting bagi tubuh mereka, bagi dagingnya. Maka manusia dapat bernapas dengan bebas, tanpa kendala atau kekhawatiran. Mereka dapat bernapas dengan normal. Udara adalah hal yang Tuhan ciptakan di awal dan sangat diperlukan untuk pernapasan manusia.

 

ARTIKEL TERKAIT:
Firman Tuhan – Lingkungan Hidup Dasar yang Diciptakan Tuhan bagi Umat Manusia—Suhu Udara

Sumber Artikel dari “Belajar Alkitab
Firman Tuhan · Renungan Harian

Lingkungan Hidup Dasar yang Diciptakan Tuhan bagi Umat Manusia—Cahaya

iman, kekuatan doa, ayat Alkitab,Hal keempat yang berhubungan dengan mata manusia–yaitu cahaya. Ini juga sangat penting. Ketika engkau melihat cahaya terang, dan terangnya cahaya ini mencapai tingkat tertentu, matamu akan dibutakan. Bagaimana pun mata manusia adalah mata yang terbuat dari daging. Mata tidak kebal terhadap kerusakan. Apakah ada yang berani memandang matahari secara langsung? (Tidak.) Sudah adakah yang mencobanya? Beberapa orang telah mencobanya. Engkau dapat melihat dengan mengenakan kacamata gelap, bukan? Melihat matahari perlu bantuan alat. Tanpa alat, mata telanjang manusia tidak memiliki kemampuan untuk menatap matahari secara langsung. Namun, Tuhan menciptakan matahari untuk membawa cahaya pada umat manusia, dan Dia juga memanipulasi cahaya ini. Tuhan sama sekali tidak membiarkan matahari dan mengabaikannya setelah menciptakannya. Lanjutkan membaca “Lingkungan Hidup Dasar yang Diciptakan Tuhan bagi Umat Manusia—Cahaya”

Firman Tuhan · Kesaksian Kristen

Pencobaan dan penderitaan memberikan keyakinan pada Tuhan

Kristen, iman, cinta Tuhan,Oleh Xinyuan, Australia

Pertama Kalinya Aku Menghadapi Halangan dari Saudariku dan Suaminya

Pada bulan Mei 2018, aku menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman. Setelah membaca firman Tuhan selama beberapa waktu, aku menjadi yakin bahwa Tuhan Yang Mahakuasa memang Tuhan Yesus yang datang kembali. Dengan penuh sukacita, aku mengabarkan injil kepada kakak perempuanku.

Pada pagi hari tanggal 20 Juli, kakakku mengirim pesan kepadaku yang mengatakan bahwa dia ingin bertemu denganku untuk mengobrol. Aku sangat senang, percaya bahwa kakakku akan menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman. Namun, keadaannya tidak seperti yang telah kubayangkan. Ketika kami bertemu, aku mendengarnya memakai nada yang mengejek saat membaca firman Tuhan dan dia terus mencari-cari kesalahan dengan firman itu; intinya, dia tidak punya keinginan untuk mencari kebenaran. Selama percakapan kami, dia bersikukuh pada pemahamannya sendiri yang salah, dan menasihatiku untuk tidak percaya lagi. Bagaimana pun aku memberikan persekutuan kepadanya, dia tidak mau mendengarkan. Aku benar-benar merasa sedih melihatnya yang bersikap semacam itu, dan pembicaraan kami pun tidak mencapai hasil apa pun pada akhirnya.

Setelah makan malam pada hari itu, aku baru saja selesai membersihkan meja makan ketika tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu. Suamiku berdiri untuk membukakan pintu dan, yang membuatku sangat kaget, itu adalah kakakku dan suaminya.

Kakak iparku melangkah ke pintu dapur dan berkata kepadaku: “Kakakmu mengatakan engkau percaya pada Tuhan Yang Mahakuasa. Benarkah itu?”

Aku menjawab: “Ya.”

Dia melanjutkan: “Landasan kepercayaanmu sangat dangkal, dan yang engkau pahami sedikit sekali. Aku telah belajar teologi dan aku selalu memberikan diriku sendiri dan bekerja bagi Tuhan, dan aku punya pemahaman mengenai Alkitab yang lebih baik daripada engkau. Dikatakan dalam Kisah Para Rasul 4:12: ‘Tidak ada keselamatan dalam diri orang lain; karena tidak ada nama lain di bawah langit yang diberikan kepada manusia, yang olehnya kita bisa diselamatkan.’ Kita hanya dapat percaya pada Tuhan Yesus dalam kepercayaan kita kepada Tuhan. Selain dari pada-Nya, tidak ada Tuhan lain yang dapat kita andalkan untuk menyelamatkan kita. Mengapa engkau ingin pergi dan menerima Tuhan lain?” Pertanyaannya membuatku sangat gugup, dan aku tidak tahu bagaimana menjawabnya saat itu. Aku melirik ke arah suamiku dan dia memberi isyarat kepadaku untuk tetap tenang. Aku menghirup napas dalam-dalam dan menenangkan diriku sendiri, dan kemudian berpikir tentang satu aspek dari kebenaran yang telah saudara-saudariku persekutukan denganku sebelumnya.

Setelah beberapa saat, aku berkata: “‘Tidak ada keselamatan dalam diri orang lain; karena tidak ada nama lain di bawah langit yang diberikan kepada manusia, yang olehnya kita bisa diselamatkan’ (Kisah Para Rasul 4:12). Ini benar, tetapi tidak membuktikan bahwa nama Tuhan hanya Yesus saja. Telah dicatat dalam Perjanjian Lama: ‘Aku, Akulah Yahweh, dan selain Aku tidak ada Juruselamat lain’ (Yesaya 43:11). ‘Inilah nama-Ku untuk selama-lamanya dan inilah pengingat tentang Aku kepada semua generasi’ (Keluaran 3:15). Jika kita menjelaskan bacaan ini menurut makna harfiahnya, manakah yang merupakan nama Tuhan—Yahwe atau Yesus?”

Kakak iparku menukas dengan tidak sabar: “Engkau mengutip di luar konteksnya dan memelintir Alkitab. Tidak peduli kapan, nama Tuhan Yesus tidak akan pernah berubah!”

Aku melanjutkan: “Tuhan pada awalnya tidak punya nama. Tuhan mengambil nama hanya karena Dia harus melakukan pekerjaan untuk menyelamatkan umat manusia. Satu nama merepresentasikan satu tahap pekerjaan, dan tiap-tiap tahap pekerjaan menyatakan bagian dari watak Tuhan. Terlepas dari bagaimana nama Tuhan bisa berubah, intisari-Nya tidak akan pernah berubah, dan tiga tahap pekerjaan dilakukan oleh satu Tuhan. Nama Tuhan kekal selamanya berarti bahwa nama-Nya tidak berubah selama zaman itu. Ini tidak berarti bahwa nama-Nya tidak pernah berubah sepanjang segenap pekerjaan pengelolaan Tuhan. Ketika zaman berubah, nama Tuhan akan berubah selaras dengannya. Nama ‘Tuhan Yang Mahakuasa’ dengan tepat menggenapi pasal 1 ayat 8 dalam kitab Wahyu: “Akulah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terakhir, firman Tuhan, yang ada sekarang, yang sudah ada, dan yang akan datang, Yang Mahakuasa“. Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang lagi.”

Kakak iparku menaikkan nada bicaranya dan, sembari menunjuk kepadaku, dia berkata: “Terlepas dari apa yang kau katakan, aku tidak akan menerima. Aku hanya akan menerima nama Tuhan Yesus, dan hanya dengan percaya dalam nama Tuhan Yesus, kita dapat diselamatkan. Aku menasihatkan kepadamu untuk bertobat segera.”

Kakakku berdiri di sampingnya dan mengulangi apa yang telah suaminya katakan. Kakak iparku melihat bahwa aku bergeming, maka dia mulai mengubah subjek pembicaraan. Dia menghujaniku dengan pertanyaan demi pertanyaan, tetapi mereka tidak mau mendengarkan apa pun yang kukatakan, dan mereka mengatakan banyak hal yang menghujat Tuhan. Suamiku, yang menyaksikan pemandangan ini, meminta mereka untuk pulang. Mereka belum lama pergi ketika ibu mertuaku menelepon suamiku untuk bertanya mengenai kepercayaanku pada Tuhan Yang Mahakuasa. Dan, dia memanas-manasi hati suamiku dengan mengatakan: “Engkau adalah kepala keluarga. Engkau mestinya bisa sedikit lebih tegas.”

Kesulitan dan Ujian adalah Berkat Tuhan

Dihadapkan dengan penganiayaan dan gangguan mereka, aku merasa sedikit terpukul. Setelah mereka pergi, aku segera menggelesot ke sebuah kursi, dan berpikir dalam hati: “Aku hanya bermaksud baik ketika mengajarkan kepada mereka injil kedatangan Tuhan yang kedua, tetapi mengapa mereka tidak memercayainya, dan alih-alih berusaha menghalangiku? Aku hanya ingin percaya kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, tetapi mengapa itu begitu sulit? Jalan percaya kepada Tuhan benar-benar tidak mudah untuk dilalui!” Ketika memikirkan ini, aku merasa sedikit goyah, dan aku mulai menangis. Dengan bergegas, aku menelepon Saudari Zhang dan menceritakan kesulitan-kesulitanku kepadanya. Setelah mendengarkanku, Saudari Zhang membacakan bagiku sebuah bacaan dari firman Tuhan: “Jangan berkecil hati, jangan lemah, Aku akan mengungkapkan kepadamu. Jalan menuju kerajaan tidak semulus itu, tidak ada yang sesederhana itu! Engkau ingin berkah datang dengan mudah, bukan? Zaman sekarang semua orang akan mengalami ujian pahit yang harus dihadapi. Jika tidak, hati yang penuh kasih yang engkau miliki terhadap-Ku tidak akan tumbuh lebih kuat, dan engkau tidak akan memiliki cinta sejati kepada-Ku. Walaupun itu hanya keadaan kecil, semua orang harus menjalaninya. Hanya saja ujian itu berbeda sampai taraf tertentu.

Saudari Zhang memberi persekutuan, katanya: “Situasi yang telah menimpa kita pada hari ini adalah berkat Tuhan. Tuhan memakai situasi ini untuk menguji iman kita dan kasih kita kepada-Nya. Hanya dalam keadaan yang sulit dan beratlah Dia dapat menyingkapkan apakah kasih dan iman kita kepada Tuhan sejati atau tidak. Dalam keadaan yang nyaman, kita dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan, tetapi itu tidak nyata. Jika kita dapat mengandalkan Tuhan, menyenangkan hati-Nya dan kita dapat berdiri teguh dalam kesaksian kita bagi-Nya saat situasi yang nyata timbul dan pada waktu kesulitan dan ujian muncul, inilah yang dinamakan iman dan kasih yang sejati kepada Tuhan, dan baru saat inilah kita akan menjadi orang yang secara tulus percaya kepada Tuhan. Ketika kita menghadapi aniaya di tangan keluarga kita sendiri, itu adalah pesta besar yang disiapkan oleh Tuhan untuk menguji kasih kita kepada-Nya, dan itu adalah sebuah hal yang bagus.”

Ya! Jika aku hanya membaca firman Tuhan tetapi tidak mengalami kesulitan-kesulitan ini, itu tidak akan menguji apakah iman dan kasih-Ku kepada Tuhan nyata. Jika aku jadi lemah karena situasi kecil ini, hal itu akan menunjukkan bahwa aku tidak percaya kepada Tuhan dengan tulus. Ketika Ayub mengalami ujian, istrinya dan ketiga sahabatnya menasihatinya untuk meninggalkan kepercayaannya kepada Tuhan, tetapi Ayub berkanjang dalam devosinya kepada Tuhan dan tidak meninggalkan Tuhan—Ayub adalah seseorang yang dengan tulus percaya kepada Tuhan. Bila dibandingkan dengannya, apalah artinya pengalamanku menerima aniaya kecil dari keluargaku? Tidak, pikirku. Aku harus meneladani Ayub, dan betapa pun keluargaku memaksaku, aku harus bertahan dalam iman dan kasihku kepada Tuhan!

Ketika Aku Mengalami Halangan dan Tentangan Keluargaku Lagi, Firman Tuhan Memimpinku untuk Memberi Kesaksian

Pada pagi hari tanggal 21 Juli, kakakku mengirimiku sebuah pesan yang mengatakan bahwa dia akan datang ke rumahku malam itu, dan aku setuju. Pada sekitar jam 7 malam, aku mendengar ketukan di pintu dan suamiku beranjak untuk membukanya. Tak diduga-duga, sepupu suamiku juga ada di sana. Aku sedikit ngeri dengan perkembangan mendadak ini, dan kemudian aku berdoa dalam hatiku kepada Tuhan: “Ya, Tuhan Yang Mahakuasa! Kemarin malam, aku sangat kesulitan untuk menjawab ketika dihadapkan pada mahasiswa teologi itu. Kini, sepupu suamiku tiba-tiba muncul juga. Aku takut menghadapi begitu banyak orang. Ya, Tuhan! Tolong karuniai aku dengan iman dan kekuatan, jangan biarkan aku ketakutan dan goyah, dan mampukan aku untuk menghadapi situasi ini.” Setelah berdoa, aku berpikir tentang firman Tuhan: “Jangan takut, Tuhan Semesta Alam Yang Mahakuasa pasti akan bersamamu; Dia menolongmu dan Dia adalah perisaimu.” Ya! Dengan Tuhan sebagai perisaiku, apakah yang perlu kutakutkan di muka bumi ini? Aku percaya bahwa Tuhan pasti akan membimbingku melalui situasi ini, dan kemudian hatiku merasa jauh lebih damai dan tenang.

Sepupu suamiku berkata dengan nada suara yang kasar: “Engkau bilang Tuhan telah kembali dan telah berinkarnasi. Bagaimana mungkin begitu? Alkitab menulis: ‘Lihatlah Dia datang dengan awan-awan; dan setiap mata akan melihat-Nya, juga mereka yang menikam Dia: dan semua orang di bumi akan meratap karena Dia. Jadilah demikian, Amin‘ (Wahyu 1:7). Tuhan tak ayal lagi akan kembali dengan awan-awan dan bukan dalam rupa daging!”

Ketika mendengar nada bicara sepupu suamiku itu, aku tidak tahu bagaimana harus menanggapi, tetapi aku tidak lantas menjadi panik seperti sebelumnya. Alih-alih, aku diam di hadapan Tuhan dan aku berdoa dan mencari di dalam hatiku. Tiba-tiba, aku teringat pada sebuah aspek dari kebenaran yang saudara-saudari telah persekutukan denganku dalam sebuah pertemuan.

Setelah merasa tenang dan bisa mengendalikan diri, aku berkata kepada sepupu suamiku itu: “Kita tidak dapat menunggu kembalinya Tuhan hanya berdasarkan nubuat bahwa Tuhan akan turun dengan awan-awan. Wahyu 16:15 mengatakan: ‘Lihatlah, Aku datang bagaikan pencuri.‘ Karena ayat ini mengatakan bahwa Tuhan akan datang seperti seorang pencuri, ini menunjuk pada kedatangan Tuhan secara rahasia dan tak seorang pun akan tahu. Lukas 17:24-25 mengatakan: ‘Karena sama seperti kilat yang memancar dari satu bagian di bawah langit, bersinar sampai ke bagian lain di bawah langit; demikian juga Anak Manusia saat hari kedatangan-Nya tiba. Tetapi pertama-tama Dia harus mengalami berbagai penderitaan dan ditolak oleh generasi ini.‘ Mengingat bahwa Dia disebut Anak manusia, hal itu merujuk pada Tuhan dalam rupa daging. Dia tidak dapat disebut Anak manusia jika Dia adalah tubuh rohaniah. Dalam ayat ini, juga dikatakan bahwa ‘Tetapi pertama-tama Dia harus mengalami berbagai penderitaan dan ditolak oleh generasi ini.‘ Jika Tuhan tampak dalam tubuh rohaniah-Nya, tak perlu dikatakan lagi bahwa Dia tidak akan menderita karenanya dan Dia tidak akan ditolak oleh generasi ini.”

Sepupu suamiku memotongku dan memukulkan tangannya ke atas meja. “Aku pikir ‘ditolak oleh generasi ini‘ di sini, menunjuk kepada zaman Tuhan Yesus,” katanya.

Aku melanjutkan perkataanku: “Tuhan Yesus mengalami banyak penderitaan dan ditolak oleh generasi dari zaman ketika Dia datang. Di sini, itu berarti bahwa ketika Tuhan kembali, Dia akan berinkarnasi dalam daging dan ditolak oleh generasinya. Mari berpikir tentang hal itu. Jika Tuhan akan menampakkan diri kepada semua umat manusia secara terbuka dengan awan-awan, hal itu akan sangat luar biasa dan mengejutkan dunia. Semua orang akan berlutut di tanah dan tak seorang pun akan berani menentang. Bila demikian, akankah Tuhan Yesus yang kembali masih menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh generasi ini? Aku mengerti sedikit kebenaran, jadi akan sangat bagus bila aku menunjukkan padamu firman Tuhan!”

Sepupu suamiku mengaum: “Tak usah! Kami tidak akan menerimanya tak peduli apa pun yang engkau katakan. Kami akan menunggu Tuhan Yesus datang dengan awan-awan untuk membawa kami! Aku menasihatimu untuk mengubah jalanmu secepatnya.” Kakakku dan suaminya juga unjuk suara. Mereka kemudian terus menasihatiku untuk meninggalkan kepercayaanku kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan, demi melihat bahwa aku bergeming, mereka mengucapkan doa dan pergi.

Setelah Kesulitan dan Ujian, Aku Melihat Perbuatan-Perbuatan Tuhan

Sesaat sebelum dia pergi, kakakku mengatakan bahwa dia akan memberitahu orangtua kami mengenai kepercayaanku pada Tuhan Yang Mahakuasa, dan aku tak kuasa untuk tidak merasa cemas: Di Tiongkok daratan, Partai Komunis Tiongkok membuat berbagai desas-desus tentang Gereja Tuhan Yang Mahakuasa, sehingga ketika mereka mendengar mengenai kepercayaanku, akankah orangtuaku seketika itu juga menghalangi kepercayaanku kepada Tuhan? Aku sangat mengasihi orangtuaku, sehingga jika mereka datang, aku benar-benar tidak tahu bagaimana aku akan menghadapi mereka. Aku merasa semakin goyah dan sangat tertekan. Dalam rasa sakit, aku datang kepada Tuhan untuk berdoa: “Ya, Tuhan, aku merasa sangat lemah saat ini dan sangat takut. Aku mohon agar Engkau membantuku dan membuatku mengandalkan-Mu untuk berdiri teguh. Amin!” Setelah berdoa, aku berpikir tentang firman Tuhan yang mengatakan: “Engkau harus memiliki keberanian-Ku di dalam dirimu dan mempunyai prinsip ketika menghadapi kerabat yang tidak percaya. Tetapi demi Aku, engkau juga tidak boleh menyerah pada kekuatan gelap apa pun. Andalkan hikmat-Ku untuk berjalan dengan cara yang sempurna; jangan biarkan konspirasi Iblis menguasai. Kerahkan segala usahamu untuk menempatkan hatimu di hadapan-Ku, maka Aku akan menghiburmu dan memberimu kedamaian dan kebahagiaan di hatimu. Engkau tidak boleh mencari perkenanan manusia; bukankah lebih berharga dan berbobot untuk memuaskan-Ku?” Firman Tuhan menunjukkan jalan kepadaku. Karena aku telah menjadi yakin bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali, maka aku mesti berpegang teguh pada hal ini dan tetap setia kepada Tuhan. Bahkan jika orangtuaku menentangku, aku tidak boleh mengkhianati Tuhan. Ketika berpikir demikian, hatiku merasa jauh lebih merdeka.

Dua hari kemudian, sepupu suamiku dan bibi datang lagi. Walaupun bibi suamiku juga merupakan seorang mahasiswa teologi dan berkeliling untuk berkhotbah di gereja-gereja, menghadapi mereka kali ini aku tidak merasakan gentar sedikit pun. Sebaliknya, aku merasa dipenuhi dengan iman dan sukacita. Pengalamanku selama beberapa hari terakhir telah membuatku benar-benar menyadari bahwa kebenaran dapat mengalahkan semua kesalahan dan bahwa, sejauh aku mengandalkan Tuhan, Tuhan akan menuntunku dan memimpinku menangkis orang-orang ini dengan kebenaran. Aku tidak mengharapkan mereka jadi merasa begitu sedih, hingga mereka hanya bisa duduk di kursi mereka sembari melihatku dengan tatapan kosong, dan berkata: “Tidak tahu kenapa, tetapi kami selalu merasa tak berdaya ketika sampai ke masalah ini. Kami benar-benar tidak tahu harus berkata apa.” Demi mendengar ini, aku dalam hati bersyukur kepada Tuhan. Ketika aku menyadari bahwa imanku sedang diuji, Iblis ditempatkan dalam suatu kesulitan. Orang-orang ini sungguh tidak tahu harus berkata apa, sehingga mereka pun pergi. Mereka kemudian menggerakan orang-orang lain dalam keluarga untuk datang dan menggangguku satu demi satu, tetapi aku tak bergeser sedikit pun.

Aku Mengembangkan Pengertian melalui Ujian Ini

Pada suatu hari, aku melihat firman Tuhan ini: “Bukankah banyak orang yang menentang Tuhan dan merintangi pekerjaan Roh Kudus karena mereka tidak mengetahui berbagai jenis pekerjaan Tuhan, dan lebih jauh lagi, karena mereka memiliki pengetahuan dan doktrin yang sangat sedikit untuk mengukur pekerjaan Roh Kudus? Meski pengalaman mereka dangkal, mereka bersikap angkuh dan memuaskan diri, dan mereka menyepelekan pekerjaan Roh Kudus, mengabaikan disiplin Roh Kudus dan terlebih lagi, menggunakan argumen yang remeh untuk meneguhkan pekerjaan Roh Kudus. Mereka juga berlagak, dan sepenuhnya yakin akan pembelajaran dan pendidikannya sendiri, dan bahwa mereka bisa menjelajahi dunia. Bukankah orang-orang seperti ini yang disingkirkan dan ditolak oleh Roh Kudus, dan bukankah mereka akan disingkirkan oleh zaman yang baru? Bukankah mereka manusia berpandangan sempit yang menghadap Tuhan dan menentangnya secara terbuka, yang hanya ingin menunjukkan kepintarannya? Hanya dengan pengetahuan yang amat kurang tentang Kitab Suci, mereka berusaha menguasai ‘ilmu’ dunia, dengan doktrin yang dangkal untuk mengajar orang, mereka berusaha memundurkan pekerjaan Roh Kudus, dan berupaya membuatnya berkisar hanya di sekitar proses pikirnya sendiri, dan meski berpandangan sempit, mereka berusaha melihat 6000 tahun pekerjaan Tuhan dalam sekilas pandang saja. Orang-orang ini punya alasan untuk bicara!” Melalui gangguan yang berulang kali dari keluarga dan penyingkapan firman Tuhan, aku dengan jelas melihat bahwa para mahasiswa teologi dan pengkhotbah inilah orang yang pada hakikatnya congkak dan lamban, dan yang memandang pekerjaan Roh Kudus dengan rasa jijik, sebagaimana dinyatakan dalam firman Tuhan. Mereka tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan, tetapi semata-mata mengukur pekerjaan baru Tuhan dengan sedikit sekali pengetahuan alkitabiah yang mereka punyai, dan mereka mengecam pekerjaan Tuhan. Apakah ada bedanya antara mereka dan imam-imam kepala, ahli-ahli kitab, dan orang Farisi? Imam-imam kepala, ahli-ahli kitab, dan orang Farisi pada masa lalu adalah kalangan yang fasih dalam Perjanjian Lama, tetapi ketika Tuhan datang untuk melakukan pekerjaan-Nya, mereka mengandalkan pemahaman harfiah terhadap Alkitab dan mengecam pekerjaan Tuhan, dan akhirnya, mereka memaku Tuhan Yesus di kayu salib. Keluarga sama saja. Ketika mereka menghadapi pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, mereka tidak punya keinginan untuk mencari kebenaran apa pun, tetapi alih-alih bergayut pada makna harfiah dalam Alkitab, dan mereka menolak serta mengecam pekerjaan Tuhan—mereka begitu congkak dan berpuas diri! Aku bersyukur kepada Tuhan karena membuatku mampu mengembangkan pemahaman dalam situasi ini, dan aku jadi mengerti sedikit tentang pekerjaan Tuhan.

Syukur kepada Tuhan karena memilihku dari sangat banyak umat manusia dan membawaku kembali kepada-Nya. Walaupun aku mengalami kelemahan dan sikap negatif selama ujian ini, Tuhan selalu bersamaku, memakai firman-Nya untuk menyokong, menyediakan dan membimbingku, dan, dengan demikian, membuatku mampu berdiri teguh. Aku tidak lagi merasa sendiri atau gentar, sebab aku tahu Tuhan selalu ada di sisiku di jalan menuju kerajaan. Selama aku mengandalkan Tuhan dan melangkah maju dengan berani, aku dapat menghalau semua penghalang dan mengikuti Tuhan sampai pada akhirnya.

Sumber Artikel dari “Belajar Alkitab
Firman Tuhan · Renungan Harian

Hanya Kristus Akhir Zaman yang Bisa Memberi Manusia Jalan Hidup yang Kekal

kedatangan Yesus yang kedua, Yesus kembali, kedatangan kedua,Jalan kehidupan bukan sesuatu yang bisa dimiliki oleh siapa pun, dan itu tidak mudah diperoleh oleh semua manusia. Itu karena hidup hanya berasal dari Tuhan, yang artinya, hanya Tuhan sendiri yang memiliki hakikat kehidupan, tidak ada jalan kehidupan tanpa Tuhan itu sendiri, dan hanya Tuhan yang menjadi sumber kehidupan dan aliran air hidup yang abadi. Sejak Ia menciptakan dunia, Tuhan telah melakukan banyak pekerjaan yang meliputi vitalitas hidup, yang memberikan kehidupan bagi manusia, dan telah membayar harga yang mahal agar manusia bisa beroleh hidup. Tuhan melakukannya karena Tuhan sendiri adalah hidup yang kekal, dan Tuhan sendirilah jalan kebangkitan bagi manusia. Lanjutkan membaca “Hanya Kristus Akhir Zaman yang Bisa Memberi Manusia Jalan Hidup yang Kekal”

Firman Tuhan · Kisah dalam Alkitab · Renungan Harian

Apakah Tuhan Yesus adalah Anak Tuhan?

Tuhan Yesus, Kristen, kedatangan Yesus yang kedua,Oleh Zheng Xi, Tiongkok

Setelah menerima kasih karunia dan kembali kepada Tuhan, kita membaca dalam Matius 3:17 di dalam Alkitab: Dan terdengarlah suara dari surga berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Juga, ketika Tuhan Yesus berkhotbah kepada para murid, Dia juga menyebut Tuhan di surga sebagai Bapa, mengatakan ketika Dia berdoa di Getsemani: “Oh, Bapa-Ku,” yang membuat kita berpikir bahwa Tuhan adalah Anak, dan inilah yang telah dipikirkan oleh semua orang yang mengikuti Tuhan Yesus selama dua ribu tahun terakhir. Lanjutkan membaca “Apakah Tuhan Yesus adalah Anak Tuhan?”

Firman Tuhan · Kesaksian Kristen

Keluarga Saya Menentang Saya Karena Kepercayaan Kami yang Berbeda

Alkitab, Kristen, Gereja Kristen,

Oleh Yixin, Spanyol

Ketika suami saya mendapati saya sedang membaca firman Tuhan, dia dengan marah berkata: “Kamu tidak boleh membaca buku itu. Aku sudah menyimpannya, dan jika kamu melihatnya lagi, kamu akan harus meninggalkan rumah ini.”

Sejak saya mulai membaca firman yang Tuhan ungkapkan pada akhir zaman, suami saya dan putra saya selalu berusaha menghentikan saya, dan ini sangat menyakiti saya. Tetapi saya sudah menjadi yakin bahwa yang tertulis di buku ini adalah perkataan Roh Kudus, dan saya tidak bisa tidak membacanya. Akan tetapi, suami saya dan putra saya tidak berpandangan sama, dan suatu konflik kepercayaan meletus dalam keluarga kami …

Ketika Kembali ke Tiongkok untuk Mengunjungi Kerabat Saya, Saya Mendapatkan Firman yang Diucapkan Roh Kudus kepada Gereja-gereja.

Semuanya berawal ketika saya kembali ke Tiongkok untuk mengunjungi kerabat saya. Ketika saya bepergian kembali dari Spanyol untuk menemui kerabat saya, saudari ipar saya mengkhotbahkan pekerjaan Tuhan pada akhir zaman kepada saya dan dia memberi saya dua buah buku. Yang satu adalah buku mengenai firman Tuhan yang diungkapkan pada akhir zaman, Gulungan Kitab Dibuka oleh Anak Domba, dan yang lainnya adalah Pertanyaan dan Jawaban Klasik mengenai Injil Kerajaan.

Setelah saya tiba kembali di Spanyol, suami saya, putra saya, dan saya meneruskan mengelola sebuah bar, yang biasanya sangat ramai, tetapi saya akan membaca firman Tuhan kapan pun saya punya kesempatan. Saya melihat bahwa firman Tuhan tidak hanya mengungkapkan detail inti dari semua pekerjaan yang sudah dilakukan Tuhan sejak Ia menciptakan dunia, tetapi saya juga melihat bahwa firman mengungkapkan watak-watak yang rusak dalam diri kita, seperti kecongkakan dan keegoisan kita, juga pemahaman yang salah dan bayangan yang kita yakini mengenai Tuhan. Pada saat yang sama, firman Tuhan menunjukkan kepada kita cara untuk menyingkirkan dosa dan meraih keselamatan dalam kepercayaan kita kepada Tuhan. Saya merasa kata-kata ini berasal dari Tuhan, dan hanya Tuhan yang mungkin bisa mengucapkan kata-kata dengan otoritas dan kuasa sebesar itu. Saya merasa seperti sudah menemukan sesuatu yang sangat berharga dan saya mulai semakin haus akan firman Tuhan Kapan pun saya punya waktu, saya akan membuka buku firman Tuhan saya dan mulai membaca, dan saya tidak pernah ingin meletakkannya. Setelah beberapa waktu berlalu, saya perlahan-lahan memahami bahwa Tuhan Yang Mahakuasa telah menampakkan diri dan sedang melakukan pekerjaan-Nya pada akhir zaman dalam rupa “Anak manusia,” melakukan pekerjaan-Nya untuk menghakimi dan menyucikan manusia. Ini menggenapi nubuat dalam Alkitab “Karena sama seperti kilat datang dari arah timur dan bersinar ke arah barat, demikianlah kedatangan Anak Manusia kelak” (Mat. 24:27). “Karena itu hendaklah engkau juga bersiap sedia, karena Anak Manusia datang di waktu yang tidak engkau duga” (Mat. 24:44). “Karena Bapa tidak menghakimi siapa pun, tetapi telah menyerahkan seluruh penghakiman itu kepada Anak” (Yohanes 5:22). Saya menjadi yakin bahwa Tuhan Yang Mahakuasa sungguh adalah Tuhan Yesus yang datang kembali. Percaya kepada Tuhan selama lebih dari 10 tahun, saya selalu menantikan kedatangan kembali Tuhan. Sekarang, setelah saya pada akhirnya menyambut kedatangan kembali Tuhan Yesus, saya merasa bergairah sekaligus sukacita, dan saya merasa begitu sangat diberkati.

Bagaimana Melakukan Pendekatan pada Alkitab dengan Suatu Cara yang Selaras dengan Kehendak Tuhan

Suatu hari, saya berada di bar sedang membaca buku firman Tuhan saya dan, ketika saya melihat para pelanggan masuk, saya meletakkan buku di bar dan pergi menyambut mereka. Sesudah para pelanggan pergi, saya berbalik dan mendapati putra saya sedang membaca buku tersebut. Saya sangat senang melihat ini, karena saya sungguh ingin menjadi kesaksian untuk pekerjaan Tuhan pada akhir zaman bersama putra saya. Tetapi, karena saya punya sedikit sekali pemahaman akan kebenaran, saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya padanya, jadi saya pikir lebih baik jika dia bisa membaca dan memahaminya sendiri. Saya dengan gembira menghampiri putra saya, tetapi sebelum saya dapat mengatakan sepatah kata pun, putra saya menatap saya dengan wajah datar dan berkata: “Bagaimana ibu bisa membaca buku ini? Buku ini mengatakan bahwa kata-kata di dalamnya diungkapkan oleh Tuhan, tetapi bagaimana itu mungkin? Hanya kata-kata dalam Alkitab yang adalah firman Tuhan.”

Saya dengan sabar menjelaskan kepada putra saya, dengan berkata: “Tuhan Yesus sudah kembali sebagai Tuhan Yang Mahakuasa, Kristus dari akhir zaman. Buku yang kamu pegang sekarang berisi kata-kata yang diungkapkan oleh Tuhan Sendiri pada akhir zaman, dan adalah ‘firman yang diucapkan kepada gereja-gereja oleh Roh Kudus’ seperti yang dinubuatkan dalam Kitab Wahyu.

Ketika saya selesai mengatakan ini, putra saya sungguh tak bisa menahan amarahnya terhadap saya dan berkata: “Jika ibu percaya kepada Tuhan, maka ibu harus membaca Alkitab! Jadi mengapa ibu tidak membaca Alkitab?”

Suami saya mendengar pembicaraan kami dan menasihati saya, dengan mengatakan: “Jika kamu harus membaca sesuatu, maka bacalah Alkitab. Alkitab adalah buku yang sangat bagus. Jika kamu tidak membacanya, buku-buku apalagi yang akan kamu baca?”

Putra saya dan suami saya menentang kepercayaan saya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, dan ini adalah sesuatu yang sungguh tidak saya sangka. Saya tahu bahwa apa yang mereka katakan adalah salah dan saya ingin mendiskusikannya dengan mereka, tetapi saya mengerti sedikit sekali mengenai kebenaran tersebut dan saya tidak dapat menjelaskannya dengan jelas, jadi saya pergi dan menyibukkan diri dengan hal-hal lain.

Suatu hari, pada waktu devosi rohani saya, saya membaca di Pertanyaan dan Jawaban Klasik mengenai Injil Kerajaan jawaban atas sebuah pertanyaan mengenai mengapa orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa tidak membaca Alkitab: “Selama bertahun-tahun, setiap saudara-saudari yang percaya kepada Yesus sudah membaca Alkitab, dan seiring bergulirnya tahun, keyakinan ini sudah menetap dalam hati mereka semua—Alkitab adalah fondasi bagi mereka yang percaya kepada Tuhan, jika kamu percaya kepada Tuhan, maka kamu harus membaca Alkitab, dan jika kamu tidak membaca Alkitab, maka kamu jangan percaya kepada Tuhan. Tetapi, apakah pandangan ini sesungguhnya sesuai dengan kebenaran? Pada kenyataannya, sebelum Tuhan Yang Mahakuasa memulai pekerjaan baru-Nya, orang harus membaca Alkitab, sebab tercatat dalam Alkitab adalah kehendak dan tuntutan Tuhan kepada manusia selama dua tahap pekerjaan-Nya dan dua zaman dunia yang sudah berlalu, juga nubuat mengenai pekerjaan Tuhan pada akhir zaman. Jika manusia tidak membaca Alkitab, maka mereka tidak akan mampu mengetahui apa tuntutan Tuhan atas manusia di Zaman Hukum Taurat dan Zaman Kasih Karunia, dan juga tidak akan mampu memahami kehendak Tuhan. Karenanya, sebelum Tuhan memulai pekerjaan baru-Nya pada akhir zaman, manusia perlu membaca Alkitab dan melakukan sesuai dengan tuntutan Tuhan seperti yang tercatat dalam Alkitab. Akan tetapi, sekarang sesudah zaman berubah dan Tuhan telah memulai pekerjaan baru-Nya, manusia hendaknya mengikuti pekerjaan Tuhan sekarang ini, membaca firman Tuhan sekarang ini dan melakukan sesuai kehendak dan tuntutan Tuhan sekarang ini. Hanya dengan cara ini manusia dapat mengikuti jejak langkah Anak Domba …. Tuhan Yang Mahakuasa berkata: ‘Jika ada jalan yang lebih tinggi, mengapa mempelajari jalan yang rendah dan sudah kedaluwarsa? Jika ada perkataan yang lebih baru, dan pekerjaan yang lebih baru, mengapa hidup di antara catatan-catatan sejarah tua? Perkataan-perkataan baru ini dapat memberimu perbekalan, yang membuktikan bahwa ini adalah pekerjaan yang baru; catatan-catatan lama tidak dapat memuaskanmu, atau memuaskan kebutuhanmu di saat ini, yang membuktikan bahwa semua itu adalah sejarah, dan bukan pekerjaan di saat ini dan di sini. Jalan yang tertinggi adalah pekerjaan yang terbaru, terlepas dari seberapa tingginya jalan di masa lalu, jalan itu tetap merupakan sejarah berisi perenungan orang-orang, dan terlepas dari nilainya sebagai rujukan, semuanya tetap merupakan jalan yang lama. Meskipun tercatat dalam “Kitab Suci”, jalan yang lama tetap merupakan sejarah. Meskipun tidak tercatat dalam “Kitab Suci”, jalan yang baru adalah jalan yang terjadi di sini dan sekarang. Jalan ini bisa menyelamatkanmu, dan jalan ini bisa mengubahmu, karena ini adalah pekerjaan Roh Kudus. … Sekarang, engkau tidak perlu membaca Alkitab, karena tidak ada yang baru di dalamnya; semuanya sudah lama. Alkitab adalah sebuah buku sejarah, dan jika engkau makan dan minum Perjanjian Lama selama Zaman Kasih Karunia—jika engkau melakukan apa yang dituntut di zaman Perjanjian Lama selama Zaman Kasih Karunia—Yesus akan menolak dan mengutukmu; jika engkau menerapkan Perjanjian Lama pada pekerjaan Yesus, engkau akan menjadi orang Farisi. Jika hari ini engkau mencampur Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru untuk dimakan dan diminum, dan dilakukan, Tuhan masa kini akan mengutukmu; engkau akan ketinggalan pekerjaan Roh Kudus hari ini! Jika engkau makan dan minum Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, engkau berada di luar aliran Roh Kudus!‘ Jika kita percaya kepada Tuhan, maka kita harus mengikuti langkah-langkah pekerjaan Tuhan. Tuhan melaksanakan baik pekerjaan baru-Nya maupun mengungkapkan firman baru, dan kita harus melepaskan firman yang lama dan makan, minum, dan menikmati firman baru Tuhan.”

Setelah membaca jawaban ini, saya menjadi lebih memahami bahwa Alkitab hanyalah suatu catatan mengenai dua tahap pekerjaan sebelumnya yang telah Tuhan laksanakan. Sekarang, kita ada di Zaman Kerajaan dan Tuhan sedang mengungkapkan firman-Nya pada zaman baru dan melaksanakan pekerjaan pada akhir zaman-Nya untuk menghakimi dan menyucikan manusia. Oleh karenanya, kita harus meninggalkan Alkitab dan membaca firman Tuhan yang paling baru, sebab hanya dengan melakukan ini kita bisa mendapatkan pekerjaan Roh Kudus. Sebagai contoh, setelah Tuhan Yesus datang untuk melaksanakan pekerjaan-Nya, mereka yang mengikuti-Nya mulai mendengarkan khotbah-khotbah-Nya dan melakukan sesuai firman-Nya. Dengan melakukan ini, mereka mengikuti jejak langkah Anak Domba dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Jika saya berhenti membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa karena campur tangan dari suami dan putra saya, saya hanya akan kehilangan kesempatan saya untuk meraih keselamatan. Apa pun yang terjadi, saya tidak bisa berhenti membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa, dan saya tidak bisa berhenti mengikuti Tuhan Yang Mahakuasa.

Apa yang Ada di Balik Keluarga Saya Mencoba Menghentikan Saya Membaca Firman Tuhan

Suatu hari, saya tidak bisa menemukan buku firman Tuhan saya. Saya sudah mencari ke mana-mana di rumah, tetapi tetap tidak bisa menemukannya, dan saya lalu menyadari bahwa suami saya dan putra saya telah mengambilnya. Kemudian, saya meminta buku itu dari suami saya, tetapi dia dengan marah berkata kepada saya: “Kamu tidak boleh membaca buku itu. Aku sudah menyimpannya, dan kalau kamu melihatnya lagi kamu akan harus meninggalkan rumah ini.” Melihat suami saya mengambil sikap tegas seperti itu, saya tidak berani memintanya lagi. Tak lama berselang, satu-satunya buku firman Tuhan yang saya sembunyikan ditemukan oleh putra saya, yang dengan tegas menolak membiarkan saya membacanya dan dia tak bisa menahan amarahnya. Setelah suami saya mengetahuinya, dia memarahi saya karena tidak memberitahu dia mengenainya, dan dengan jengkel dia merebut satu-satunya buku firman Tuhan saya yang tersisa. Berpikir mengenai bagaimana saya sudah menghabiskan sebagian besar masa hidup saya mengurus keluarga ini dan bagaimana, sekarang saat saya tua, saya pada akhirnya menyambut kedatangan kembali Tuhan, hanya ingin mengikuti Tuhan dalam kesungguhan dan kendati demikian dihalangi lberulang kali oleh orang-orang terdekat saya, saya merasa sangat pedih dan saya menangis sepanjang malam itu.

Kemudian, saya meminta lagi buku firman Tuhan saya kepada suami saya, namun dia masih tidak bergeming. Tanpa firman Tuhan untuk dibaca, hati saya serasa sudah dilubangi dan kosong serta gersang, dan saya tidak dalam suasana hati untuk bekerja. Dalam kepedihan saya, saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan setiap hari, berharap suami saya akan mengembalikan buku saya, dan berharap

saya bisa berhubungan dengan saudara-saudari di Spanyol sini.

Puji Tuhan, saya kemudian menelepon saudari ipar saya di Tiongkok dan memintanya untuk membantu saya menghubungi saudara-saudari di Spanyol, dan tidak lama berselang mereka berhasil menemukan saya. Melihat seorang saudari dari gereja, saya merasa sangat gembira, seolah melihat seorang anggota keluarga. Saya menceritakan kepadanya bagaimana suami dan putra saya menghalangi kepercayaan saya kepada Tuhan, dan dia membacakan untuk saya dua kutipan dari firman Tuhan: “Dalam setiap tahap pekerjaan yang Tuhan lakukan di dalam diri orang, dari luar pekerjaan itu terlihat seperti interaksi antara orang-orang, seolah-olah lahir karena pengaturan manusia, atau muncul dari campur tangan manusia. Namun, di balik layar, setiap tahap pekerjaan, dan semua yang terjadi, adalah pertaruhan yang Iblis buat di hadapan Tuhan, dan orang-orang harus berdiri teguh dalam kesaksian mereka bagi Tuhan. Misalnya, ketika Ayub diuji: Di balik layar, Iblis bertaruh dengan Tuhan, dan yang terjadi kepada Ayub adalah perbuatan manusia, dan campur tangan manusia. Di balik setiap tahap yang Tuhan lakukan di dalam dirimu, terdapat pertaruhan antara Iblis dengan Tuhan—di balik semua itu ada pertempuran.” “Ayub telah mengalami amukan Iblis, tetapi dia tetap tidak meninggalkan nama Tuhan Yahweh. Istrinya adalah yang pertama muncul dan memainkan peran Iblis yang dapat dilihat dengan menyerang Ayub. Teks aslinya menguraikannya sebagai berikut:”Lalu kata istrinya kepadanya: “Apakah engkau masih mempertahankan kesalehanmu? Kutukilah Tuhan dan matilah!” (Ayub 2:9). Ini perkataan yang diucapkan Iblis yang menyamar sebagai manusia. Perkataan itu adalah serangan, dan tuduhan, serta godaan, pencobaan, dan fitnah.

Saudari itu memberi saya persekutuan, dengan berkata: “Tuhan datang untuk menyelamatkan manusia, dan Iblis ingin melakukan apa pun yang dia bisa untuk mengganggu kita dan menghentikan kita datang ke hadapan Tuhan dan meraih penyelamatan-Nya. Meskipun tampaknya dari luar hal-hal yang terjadi padamu sekarang ini adalah suami dan putramu yang tidak memperbolehkanmu untuk percaya kepada Tuhan, sebenarnya ada suatu pertempuran roh di baliknya. Iblis sedang bertaruh dengan Tuhan untuk melihat apakah kamu bisa atau tidak terus mengikuti Tuhan dengan setia melawan halangan dari keluargamu. Ini seperti ketika pencobaan menimpa Ayub, dan istrinya memainkan peran Iblis untuk menyerang, menggoda, dan mencobai Ayub dengan tujuan menghentikannya dari menyembah Tuhan. Suamimu dan putramu tidak memperbolehkanmu membaca buku-buku ini, dan dengan melakukan itu mereka juga memainkan peran Iblis. Melalui sarana halangan-halangan ini, Iblis ingin kamu kehilangan perbekalan firman Tuhan, perlahan-lahan melemahkan imanmu, membuatmu menjauhkan diri dari Tuhan dan akhirnya kehilangan kesempatanmu untuk diselamatkan. Kita harus memiliki pemahaman mendalam akan pertempuran dalam dunia roh dan bisa menyadari skema licik Iblis yang sebenarnya. Kita juga harus memiliki iman kepada Tuhan, dan bagaimanapun sulitnya situasi yang sedang kita hadapi, kita harus selalu bersaksi dan memuaskan Tuhan, sebab demikianlah Iblis dipermalukan.”

Persekutuan dari saudari ini memampukan saya untuk mengerti bahwa di balik usaha keluarga saya untuk menghalangi kepercayaan saya kepada Tuhan, suatu pertempuran sedang berkobar dalam dunia roh untuk melihat apakah saya akan mampu atau tidak berpegang pada iman saya kepada Tuhan, tidak dibatasi oleh suami saya dan putra saya, dan terus mengikuti Tuhan. Ketika saya menyadari ini, saya dalam hati membuat suatu ketetapan hati: “Saya harus menyadari skema licik Iblis yang sebenarnya dan bersaksi bagi Tuhan.” Saudari ini lalu memberi saya sebuah buku firman Tuhan. Saya sangat gembira memiliki sebuah buku firman Tuhan untuk dibaca lagi, dan hati saya dipenuhi rasa syukur kepada Tuhan.

Buku Firman Tuhan Saya Kembali Disita—Apa yang Harus Saya Lakukan

Suatu kali, setelah pertemuan saya dengan saudari tersebut saya lupa menyembunyikan buku saya. Saya tidak menyadari bahwa, saat menemukan buku saya, suami saya akan mengambilnya lagi. Mengingat terakhir kali buku firman Tuhan saya yang telah diberikan kepada saya oleh saudari ipar saya diambil oleh suami saya dan tidak dikembalikan, saya takut kali ini suami saya masih tidak akan mengembalikannya. Hati saya begitu pedih kala itu, dan saya berjalan sendirian di tepi danau dekat rumah kami, dan saya menangis diam-diam. Kemudian, aku teringat akan firman Tuhan: “Ketahuilah bahwa Aku adalah Tuhan Yang Mahakuasa yang memerintah segala sesuatu di alam semesta! Bagi-Ku tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, apalagi sesuatu yang tidak dapat dicapai atau suatu kata yang tidak dapat dikatakan.” Saya berdoa kepada Tuhan: “Ya Tuhan Yang Mahakuasa! Buku firman Tuhanku telah diambil lagi oleh suamiku. Tanpa firman-Mu untuk kubaca, kehidupan rohaniku akan layu. Ya Tuhan! Bagaimana aku bisa mendapatkan bukuku kembali? Aku mohon agar Engkau menolongku dan memberiku hikmat.” Setelah berdoa, hati saya terasa sedikit lebih tenang.

Setelah saya pulang ke rumah, saya berkata kepada suami saya dengan sangat tenang, “Aku terburu-buru kemarin, jadi aku pikir kamu membantuku membereskan buku itu yang tertinggal di sebelah?” Suami saya menatap saya dan berkata: “Ada di keranjang di dalam.” Saya agak sangsi, tetapi ketika saya pergi melihatnya, buku firman Tuhan saya sungguh di sana dan saya sangat gembira hingga saya terus mengucap syukur kepada Tuhan dalam hati. Sebelumnya, saya sudah menangis meminta suami saya mengembalikan buku saya, dan dia bukan hanya tidak mengembalikannya tetapi dia juga mencoba mencegah saya percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sekarang, yang perlu saya lakukan hanyalah mengucapkan beberapa patah kata dan dia mengembalikannya—ini sungguh perbuatan Tuhan.
Setelah pengalaman ini, iman saya kepada Tuhan bertambah, dan saya tidak lagi takut putra saya atau suami saya mencoba menghentikan saya untuk percaya kepada Tuhan. Saya biasanya menyembunyikan buku saya, dan saya membacanya ketika saya bisa, dan menghadiri pertemuan-pertemuan ketika saya bisa. Tetapi, ketika saya mulai melakukan dengan mengandalkan Tuhan, putra saya dan suami saya tidak lagi menghalangi kepercayaan saya kepada Tuhan. Ini memungkinkan saya melihat perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan—Tuhan sungguh adalah pertolongan saya di setiap waktu.

Pengalaman Yixin memungkinkan kita melihat otoritas dan kuasa firman Tuhan. Firman Tuhan-lah yang memimpinnya untuk mengatasi campur tangan keluarganya dan untuk bersaksi bagi Tuhan—Firman Tuhan sungguh adalah terang yang membimbing jalan kita. Mazmur 119:105 “Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku dan cahaya bagi jalanku.” Tuhan Yesus berfirman: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup” (Yohanes 14:6). Terima kasih, Tuhan! Amin!

 

Sumber Artikel dari “Belajar Alkitab